STPMD APMD Yogyakarta Wisuda 87 Sarjana

Karier tidak selalu linear. Ada misteri di dalamnya, bahkan faktor keberuntungan.

STPMD APMD Yogyakarta Wisuda 87 Sarjana
Wisuda lulusan STPMD APMD Yogyakarta di Auditorium Ganesha, Sabtu (11/4/2026). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID,YOGYAKARTA – Prosesi wisuda bukan sekadar seremoni penutup pendidikan, melainkan awal perjalanan panjang menghadapi realitas kehidupan. Pesan itu mengemuka dalam wisuda 87 lulusan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) APMD Yogyakarta periode April Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar di Auditorium Ganesha, Sabtu (11/4/2026).

Ketua STPMD APMD, Sutoro Eko Yunanto, mengingatkan masa kuliah ibarat berenang di kolam renang, sementara kehidupan setelah lulus akan membawa mereka menghadapi arus sungai deras bahkan lautan luas yang penuh tantangan.

“Perjalanan kuliah ibarat berenang di kolam renang. Ada yang berenang di kolam dangkal karena ilmu yang diperoleh masih tipis atau karena malas. Ada juga yang berenang di kolam dalam karena serius belajar dan aktif di berbagai ruang,” ujarnya.

Menurut Sutoro, setelah menyandang gelar sarjana, para lulusan tidak lagi berada di “kolam renang”, melainkan akan menghadapi dunia nyata yang jauh lebih kompetitif. Di masyarakat, para sarjana akan bertemu dengan berbagai dinamika kehidupan, termasuk persaingan yang tajam.

Dua pilihan

Karena itu, dia memberikan dua pilihan sikap yang dapat diambil para lulusan. Pertama, menyesali masa lalu jika selama kuliah tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Kedua, terus belajar sambil berjuang, sekaligus memperkaya pengalaman praktik di tengah masyarakat.

“Belajar sambil berjuang dan berjuang sambil belajar adalah cara terbaik menghadapi sungai dan laut kehidupan,” katanya.

Sutoro juga memetakan beberapa jalan karier yang mungkin ditempuh para lulusan. Jalur pertama adalah bekerja secara formal di berbagai lembaga atau instansi sesuai bidang keilmuan. Namun, tidak semua sarjana akan langsung mendapatkan pekerjaan dengan mudah.

“Ada sarjana yang cepat mendapat pekerjaan, ada pula yang harus menunggu lebih lama. Bahkan ada yang gagal dalam tahun pertama atau kedua. Tetapi kegagalan itu bisa menjadi ladang pembelajaran yang bermakna,” ujarnya.

Jatuh bangun

Jalur kedua adalah wirausaha. Menurutnya, meski tidak menjadi fokus utama pendidikan di STPMD APMD, banyak alumni yang berhasil menempuh jalan ini dan membangun usaha secara mandiri meski harus melalui proses jatuh bangun.

Sementara jalur ketiga yang disinggung secara jenaka adalah menjadi “aktivis” atau yang dia sebut sebagai “pengacara” alias pengangguran banyak acara. Meski kerap dipandang tidak jelas,d ia menilai dari kelompok inilah sering muncul tokoh-tokoh yang kemudian berperan dalam kehidupan publik.

“Karier tidak selalu linear. Ada misteri di dalamnya, bahkan faktor keberuntungan. Banyak orang yang awalnya biasa saja, tetapi kemudian menjadi pemimpin daerah atau tokoh masyarakat,” katanya.

Sementara Ketua Yayasan Pengembangan Pendidikan Tujuh Belas Yogyakarta, M Barori, menyatakan wisuda bukanlah akhir dari proses belajar. Pendidikan seharusnya melahirkan kearifan dalam menyikapi perubahan zaman.

Kearifan

Menurutnya, penggunaan toga dalam tradisi akademik melambangkan kearifan yang diharapkan melekat pada setiap lulusan perguruan tinggi. “Orang yang mengenakan toga dipandang memiliki kearifan lebih. Karena itu, belajar harus terus dilakukan agar kearifan tersebut berkembang,” ujarnya.

Inilah pentingnya keberpihakan kepada masyarakat kecil sebagai bagian dari semangat pemberdayaan yang menjadi ciri khas pendidikan di STPMD APMD.

Yayasan Pengembangan Pendidikan Tujuh Belas Yogyakarta didirikan oleh para mantan tentara pelajar Brigade XVII, sehingga nilai-nilai kejuangan, pengorbanan dan kearifan menjadi semangat yang terus diwariskan dalam proses pendidikan.

Barori menilai peluang besar terbuka bagi lulusan STPMD APMD, terutama dalam penguatan pembangunan desa seiring implementasi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Desa.

Awal pengabdian

“Peluang itu membutuhkan peran serta perguruan tinggi, termasuk STPMD APMD, untuk terus menghadirkan inovasi dan memperkuat posisi akademik maupun sosialnya,” ujarnya.

Menutup sambutannya, dia mengajak para wisudawan untuk memaknai kelulusan sebagai awal pengabdian bagi masyarakat dan bangsa. “Semoga para wisudawan mampu membawa semangat pemberdayaan masyarakat dalam setiap profesi yang dijalani,” katanya. (*)