SOPHIE Rilis Ulang Lagu “Kenangan Menyakitkan” dengan Aransemen Baru

Kami ingin menyesuaikan dengan selera anak muda zaman sekarang, tanpa menghilangkan karakter SOPHIE.

SOPHIE Rilis Ulang Lagu “Kenangan Menyakitkan” dengan Aransemen Baru
Personel SHOPIE saat peluncuran rilis ulang Kenangan Menyakitkan di Teras Kemala Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Sebuah lagu sederhana namun penuh luka cinta bergema dari radio-radio di Jogja hingga ke telinga para remaja di berbagai kota, 21 tahun silam. Kenangan Menyakitkan -- sebuah balada pahit tentang memori masa lalu yang tak kunjung sembuh --- menjadi tembang ikonik bagi generasi muda awal 2000-an. Kini, pada 25 September 2025, lagu itu lahir kembali dengan warna baru.

Adalah SOPHIE, band pop alternatif asal Jogja yang terbentuk pada 2002, yang membangkitkan lagi ingatan lama itu. Band yang sempat dikenal lewat aransemen melankolis dan lirik jujur ini memutuskan merilis ulang Kenangan Menyakitkan dengan aransemen baru yang segar digarap Tomo Widayat serta dukungan penuh Polarity Records.

“Aransemen sekarang memang berbeda, karena kami ingin menyesuaikan dengan selera anak muda zaman sekarang, tanpa menghilangkan karakter SOPHIE,” kata Hendra Mahe, sang vokalis, Kamis (25/9/2025).

Meski musiknya diperbarui, lirik ciptaan Dodhi Wijayanto tetap utuh. Dia masih berbicara tentang seseorang yang tak bisa melepaskan harapan, meski tahu momen itu tak akan pernah datang. “Kami ingin pendengar kembali menyelami rasa sakit itu, tapi juga sadar untuk bangkit jadi pribadi baru,” ucapnya.

Tak putus

Kembalinya SOPHIE bukanlah sekadar reuni atau nostalgia. Ada ikatan yang jauh lebih dalam yaitu persahabatan. Mereka berteman sejak masa sekolah, tumbuh bersama di panggung musik, dan meski vakum panjang sejak 2012, benang merah itu tak pernah putus.

“Tidak ada rahasia khusus dalam kebersamaan kami. Pertemanan ini nyata, dari dalam dan luar sekolah. Jadi ketika kembali disatukan pun ya apa adanya. Kami tidak ingin membuktikan diri melawan band besar, ini lebih ke menjaga kabar dan ikatan,” ujar Hendra.

Ferry Kurniawan sebagai kibordis SOPHIE menambahkan perubahan industri musik menuntut mereka untuk beradaptasi. “Industri sekarang jauh berbeda dengan 20 tahun lalu. Mau tidak mau kami harus menyesuaikan diri tanpa mengubah karakter dasar kami,” katanya.

Di luar musik, SOPHIE kini menyiapkan langkah lebih jauh. Mereka sadar zaman sudah berubah. Rilisan fisik tak lagi jadi andalan. Bersama Polarity, mereka menatap era baru lewat digitalisasi karya, mulai dari lagu, merchandise hingga produk tur.

Serba digital

“Kalau dulu kami bikin rilisan fisik, sekarang arahnya digital. Polarity bahkan menyiapkan platform sendiri untuk menjual karya apapun, mulai dari lagu, baju, hingga spanduk secara daring,” ungkapnya.

Langkah ini menjadi jembatan bagi SOPHIE untuk tak sekadar bernostalgia, melainkan benar-benar hadir di lanskap musik baru yang serba digital.

Bagi SOPHIE, musik bukan hanya pekerjaan atau sekadar hobi. Musik adalah alasan untuk tetap bersama, menjaga kewarasan dan merawat persahabatan.

“SOPHIE tak pernah bubar. Kami juga tak pernah bisa lepas dari musik. Itu sudah cukup jadi alasan kenapa SOPHIE harus tetap dijaga dan tetap hidup,” kata dia.

Materi baru

Rilisan ulang Kenangan Menyakitkan hanyalah awal. Mereka tengah menyiapkan materi baru yang akan dirilis berkala, dengan tujuan bermuara pada album studio keempat.

SOPHIE bukanlah nama asing di skena indie Jogja. Sejak First Aid Kit for Your Love (2003) hingga Philosophie (2004) dan A Long Way to Antares (2020), mereka telah mencatat jejak sebagai salah satu ikon musik indie pop.

Lagu-lagu mereka dari Pejuang Asmara, Jangan Tinggalkan Aku, hingga Tanah Merah menjadi bagian dari perjalanan panjang musik alternatif di kota budaya ini.

Kini, dengan Kenangan Menyakitkan yang kembali bergaung, SOPHIE mengajak pendengar lama bernostalgia, sekaligus merangkul generasi baru. Sebuah undangan untuk merasakan luka lama, namun dengan semangat baru. (*)