Sheila Dara Ungkap Tantangan Perankan Karakter Sore di Film Versi Baru

Sheila Dara Ungkap Tantangan Perankan Karakter Sore di Film Versi Baru
Yandi Laurens bersama dua pemeran dalam film Sore, Istri dari Masa Depan. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Delapan tahun setelah web seriesnya mencuri perhatian dengan narasi unik dan visual yang hangat, Sore: Istri dari Masa Depan kini kembali dalam format film panjang. Disutradarai oleh Yandi Laurens, film ini tayang di seluruh bioskop Indonesia sejak 10 Juli 2025 dan langsung disambut hangat dari para penonton.

Mengangkat kisah tentang Jonathan (Dion Wiyoko), seorang pria muda yang dikunjungi oleh seorang perempuan bernama Sore (Sheila Dara Aisha) yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan, film ini tak sekadar bermainmain dengan ide perjalanan waktu. Ia menyusup ke ruang-ruang batin terdalam soal pilihan hidup, makna pernikahan, dan cinta yang tanpa syarat.

“Mungkin kalau soal pesan, rasanya itu tugas filmnya untuk menyampaikannya. Tapi kalau soal dorongan membuat filmnya, setelah enam tahun menikah, saya merasa saya adalah produk dari rasa sayang yang unconditional dalam relasi suami-istri,” ujar Yandi Laurens Sutradara sekaligus Produser film Sore pada Kamis (31/7/2025) di Empire XXI Yogyakarta.

Dan pengalaman itu yang menggerakkan saya untuk bersama-sama dengan Mita dari awal, ingin mengekspresikan dan menceritakan rasa itu. Rasanya membuat Sore jadi film adalah pilihan yang paling efektif untuk menyampaikannya.

Yandi pun menyinggung keputusannya mengangkat premis yang tak lazim di film Indonesia: seorang istri dari masa depan yang datang ke masa sekarang.

“Sebagai filmmaker, saya dan Mita percaya bahwa kami bagian dari penonton film Indonesia juga. Kalau boleh mewakili mereka, saya rasa penonton kita cukup siap menerima bentuk cerita yang menantang sekalipun. Genre dan bentuk cerita film kita sudah berkembang luar biasa selama beberapa dekade terakhir,” jelasnya.

Antusiasme penonton menjadi pembuktian langsung. Layar film yang awalnya terbatas, bertambah signifikan sejak hari kedua penayangan. Yandi membagikan kisah penonton yang telah menonton hingga enam sampai sepuluh kali—sesuatu yang di luar ekspektasi tim produksi.

“Harapan kami sederhana, semoga film ini bisa diterima di hati penonton. Dan ternyata sampai. Jadi rasanya sudah di luar ekspektasi kami,” kata dia.

Soal lokasi syuting di luar negeri, film ini memilih Grožnjan, Kroasia, bukan tanpa alasan. Selain infrastruktur yang memadai, kota kecil berpopulasi 60 orang itu mendukung atmosfer alienasi tokoh Jonathan secara emosional.

“Kroasia bahkan punya tagline “negara dengan sunset terindah di dunia”, dan itu beneran muncul di layar. Lokasi ini bukan sekadar latar, tapi ikut bertutur,” kata Yandi.

Sheila Dara, pemeran Sore, juga tak menyembunyikan rasa harunya. Setelah filmnya tayang, rasa yang dibalikin ke kita tuh malah berkali lipat. Banyak banget penonton yang sayang sama film ini dan merasa memiliki. 

“Itu pengalaman yang mahal banget buat aku. Senang, terharu, dan merasa dipercaya,” ujarnya.

Sheila juga menceritakan bagaimana perasaan insecure sempat muncul saat menerima peran Sore, yang sebelumnya diperankan oleh Tika Bravani di versi web series. Namun perbedaan jalan cerita akhirnya membantunya melepaskan perbandingan.

“Akhirnya sadar bahwa Sore di film dan di web series adalah dua entitas berbeda. Jadi tantangannya justru bagaimana aku bisa jujur pada skrip film ini,” imbuhnya.

Dalam pengalaman syuting, Sheila mengenang momen menyenangkan saat syuting adegan pertama bersama Dion Wiyoko—adegan yang juga muncul di trailer—sebagai momen yang membantu mereka menyelami karakter.

Namun tak semua berjalan ringan. Beberapa adegan emosional, khususnya di kamar Jonathan, diakui Sheila sebagai yang paling menantang.

“Scenescene di kamar Jonathan itu susah banget. Rasanya banyak energi batin yang harus diolah,” tuturnya.

Di akhir sesi, saat ditanya apa pesan yang ingin disampaikan dari film ini, baik Yandi maupun Sheila sepakat:

“Tugas filmnya lah yang menyampaikan itu ke penonton,” kata mereka hampir serempak. (*)