JJLS Anugerah bagi Kulonprogo, Berubah Petaka Jika Tak Disyukuri

Bayangkan jikaKulonprogo mampu membangun konektivitas laut. Misalnya Danantara mendanai kapal pengubah ombak menjadi energi pada sepanjang pantai selatan dan kawasan Kuntul Gundul (Kulonprogo, Bantul dan Gunungkidul).

JJLS Anugerah bagi Kulonprogo, Berubah Petaka Jika Tak Disyukuri
Suasana JJLS Kulonprogo ruas Jembatan Pandansimo yang menghubungkan Kulonprogo dengan Bantul, Kamis (31/7/2025). (anung marganto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, KULONPROGO -- Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kulonprogo, Noor Harish, menyatakan saat ini kabupaten yang berada di barat Yogyakarta itu sedang duduk di pangkuan potensi besar.

Proyek-proyek strategis nasional seperti Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), Bandara YIA, jalan tol hingga kereta bandara memberikan keunggulan transportasi yang tak semua daerah memiliki. Dari sisi konektivitas darat dan udara, Kulonprogo sejatinya sudah memenuhi syarat menjadi kota maju.

Namun, potensi ini bisa berubah menjadi petaka jika tidak disyukuri dalam bentuk kesadaran kolektif dan perencanaan matang. Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan tindakan strategis dari pemerintah provinsi, kabupaten, pelaku usaha hingga masyarakat.

“Bayangkan jika ke depan Kulonprogo mampu membangun konektivitas laut. Misalnya, dengan Danantara yang mendanai kapal pengubah ombak menjadi energi pada sepanjang pantai selatan dan kawasan Kuntul Gundul (Kulonprogo, Bantul dan Gunungkidul),” ungkap Noor Harrish, Kamis (31/7/2025), di kediamannya Wates Kulonprogo.

Optimalisasi pelabuhan

Dia menerangkan, hal ini bukan hanya solusi atas ombak besar yang sering menjadi tantangan bagi wisatawan dan nelayan, tetapi juga membuka potensi optimalisasi Pelabuhan Tanjung Adhikarta. Jika itu terjadi, lengkaplah moda transportasi di kabupaten perbukitan Menoreh tersebut yaitu udara, darat dan laut.

“Namun ironisnya, di tengah potensi itu belum tampak keseriusan mendesain sistem transportasi internal yang modern. Belum ada DED (Detail Engineering Design) sistem transportasi antar pusat ekonomi, antar-destinasi wisata, antar-kalurahan, antar-kapanewon dan antar-wilayah administratif lainnya. Sebuah kelalaian strategis yang bisa mengalirkan potensi ekonomi Kulonprogo justru keluar daerah,” terangnya.

Noor Harish menjelaskan sikap abai EGP (emangnya gue pikirin) atau tidak ngeh terhadap nikmat infrastruktur ini bisa menjelma menjadi laknat ekonomi. Dikhawatirkan Kulonprogo hanya jadi perlintasan bukan tujuan.

Ekonominya bisa tersedot keluar. “Lalu, dari mana kita bisa mulai peduli? Dimulai dari menyusun DED yang menyentuh kebutuhan strategis,” ungkapnya.

Lanskap campuran

Disebutkan, desain itu meliputi sistem transportasi, ketersediaan air mengingat Kulonprogo memiliki lanskap campuran antara dataran tinggi seperti Wonosobo dan dataran rendah seperti Magelang, maupun DED kawasan Bugel-Trisik sebagai museum irigasi nasional.

Tak lupa, juga DED pengembangan Glagah sebagai destinasi wisata kelas dunia. “DED dapat difasilitasi kampus-kampus seperti UGM untuk mendukung ekosistem riset dan pendidikan tinggi,” jelasnya.

Dia menegaskan lagi, nikmat infrastruktur yang tak disyukuri bisa menjadi musibah pembangunan. “Kini, saatnya Kulonprogo bangkit, tidak hanya sebagai penerima proyek tapi sebagai peran utama,” tandasnya. (*)