Seorang Pasien Superflu di Yogyakarta Sembuh

Sistem imun manusia masih mengenali. Istilah Superflu bukanlah terminologi ilmiah.

Seorang Pasien Superflu di Yogyakarta Sembuh
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr Lana Unwanah memberikan pernyataan saat konferensi pers di Balai Kota Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengkonfirmasi temuan satu kasus Influenza A subclade K atau yang populer disebut sebagai Superflu. Pasien tersebut telah dinyatakan sembuh. Temuan ini menjadi alarm bagi masyarakat terutama kelompok rentan dan penderita penyakit komorbid.

Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr Lana Unwanah, mengungkapkan pemantauan virus ini dilakukan melalui sistem Sentinel di Puskesmas Danurejan 1 dan RSUP Dr Sardjito.

Melalui sistem ini, pasien dengan gejala mirip flu (Influenza-Like Illness - ILI) maupun infeksi pernafasan berat (Severe Acute Respiratory Infections - SARI) diambil sampelnya secara berkala.

“Varian ini sebenarnya menyerang saluran pernafasan bagian atas. Namun, bagi warga dengan komorbid seperti diabetes dan hipertensi, serta lansia, dampaknya bisa lebih berat,” ujar dokter Lana saat konferensi pers, Jumat (9/1/2026).

Sistem imun

Dia mencatat adanya tren kenaikan kasus ISPA di sekolah-sekolah pada periode September-Oktober lalu sebagai bagian dari fluktuasi kasus ini.

Data nasional menunjukkan situasi yang perlu diwaspadai. Sejak Agustus hingga Desember 2025, tercatat 62 kasus subclade K di Indonesia. Meski pakar menyebut keparahannya secara umum mirip flu musiman, satu pasien dilaporkan meninggal dunia di RS Hasan Sadikin Bandung baru-baru ini.

Menanggapi fenomena ini, Dosen Mikrobiologi FK-KMK UGM Prof dr Tri Wibawa Ph D menjelaskan meski virus ini terus berevolusi, sistem imun manusia sebenarnya masih mengenali varian tersebut. Istilah Superflu bukanlah terminologi ilmiah.

"Hingga kini tidak ada bukti varian ini mampu menghindari kekebalan tubuh dari infeksi sebelumnya atau vaksin. Namun, potensi penularan cepat tetap ada karena sifat genetik virus RNA yang mudah berubah," jelasnya. (*)