Saran dari Penderita Retinopati Diabetika, Hindari Jajanan Milenial, Kadar Gulanya Sangat Tinggi

Memang rasanya enak. Anak-anak saya juga suka tetapi kadar gulanya sangat tinggi.

Saran dari Penderita Retinopati Diabetika, Hindari Jajanan Milenial, Kadar Gulanya Sangat Tinggi
Talk Show Spesial Memperingati World Patient Safety Day, Sabtu (16/9/2023), di RS Mata "Dr Yap" Jalan Cik Di Tiro 5 Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id).

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Wahyuni Ratnasari S Psi merupakan satu dari sekian banyak warga di Yogyakarta yang menderita retinopati diabetika, gangguan pada retina mata akibat penyakit diabetes mellitus atau DM.

Berbagi pengalaman sekaligus berharap orang lain tidak mengalami seperti dirinya, wanita yang akrab disapa Jujun itu menyarankan untuk sebisa mungkin menghindari konsumsi jajajan-jajanan milenial.

Kenapa?

“Memang rasanya enak. Anak-anak saya juga suka tetapi kadar gulanya sangat tinggi. Info dari teman-teman medis seperti itu,” ujarnya saat menjadi narasumber Talk Show Spesial Memperingati World Patient Safety Day, Sabtu (16/9/2023), di RS Mata "Dr Yap" Jalan Cik Di Tiro 5 Yogyakarta.

Talk show yang diselenggarakan rumah sakit tersebut bekerja sama dengan Paguyuban Peduli Retina kali ini bertema Gangguan Retina pada Penderita Diabetes Mellitus: Serta Peran Pasien dan Keluarga dalam Mendukung Keberhasilan Terapi.

Sesi foto bersama narasumber dan peserta talk show. (sholihul hadi/koranbernas.id).

Jujun mengaku sudah berusaha mencari berbagai referensi tentang informasi tersebut termasuk lewat mesin pencari google maupun melacaknya lewat jurnal ilmiah.

Di luar upayanya itu, dirinya merasa prihatin tatkala menerima kabar dari koleganya maupun dari anak-anaknya sendiri seputar anak-anak muda usia 25 tahun yang sudah terkena penyakit gula.

Menurut dia, cara paling mudah mencegah DM adalah berhati-hati mengkonsumsi jajanan yang mengandung gula buatan. “Hati-hati, mungkin minumannya harganya murah tetapi saya tidak bisa membayangkan gula buatan itu kadar gulanya sangat tinggi,” ungkapnya.

Dipandu moderator Metha Gagarin S Kep Ne, perawat RS Mata Dr YAP, lebih jauh Jujun berkisah awalnya dia terdeteksi terkena DM usai melahirkan putra keempatnya.

Direktur Utama RS Mata Dr Yap, dr Alida Lienawati M Kes FISQua memberikan bingkisan untuk peserta talk show. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Waktu itu sekitar tahun 2005, dia merasakan ada sakit yang aneh pada telinga yang tidak kunjung sembuh. Ringkasnya, dia akhirnya menggunakan suntik insulin dan sekitar tahun 2008 penyakit itu mempengaruhi retina mata.

Hingga saat ini Jujun kontrol rutin ke RS Mata Dr Yap Yogyakarta. “Di rumah sakit ini saya merasa nyaman. Pelayanannya wah. Saya matur seperti ini apa adanya tidak saya buat-buat,” ucapnya.

Dia pun mengajak penderita DM tidak perlu cemas memeriksakan mata mengingat deteksi dini memang sangat penting. “(Kadar) gula harus kita kontrol. Sehebat apapun dokter, (kesembuhan) itu kembali pada diri kita sendiri. Kita harus menjaga kadar gula,” ucapnya.

Narasumber lainnya, dr Firman Setya Wardhana Sp M M Kes panjang lebar menguraikan penjelasan mengenai seluk beluk penyakit mata yang diakibatkan oleh DM. Pada layar lebar, Dokter Spesialis Mata Konsultan Subdivisi Vitreoretina itu menunjukkan proses terjadinya gangguan pada retina mata.

Dokter Firman menyampaikan penjelasan di hadapan peserta talk show. (sholihul hadi/koranbernas.id)

“Kenapa kita harus periksa retina,” ujarnya mengawali pembahasannya di hadapan peserta yang datang dari sejumlah daerah termasuk dari Magelang Jawa Tengah.

Dokter yang oleh rekan-rekannya sering disebut dokter favorit itu menyampaikan pentingnya upaya pencegahan supaya penyakit DM tidak merembet pada gangguan retina.

Retina merupakan bagian mata fungsinya ibarat layar penangkap cahaya. Retina tidak dapat terlihat dari luar sehingga sulit dideteksi apakah terkena gangguan atau tidak, kecuali dengan pemeriksaan medis.

Ini berbeda dengan penyakit beleken atau mata merah karena iritasi. Sering terjadi ketika pasien datang tidak merasakan sakit namun pandangannya kabur.

ARTIKEL LAINNYA: Perlu Vaksinasi Rabies, Purworejo Daerah Perlintasan Anjing Liar dari Jabar ke Jatim

“Ada yang datang ke dokter gula darah sudah 400. Tidak tahu kapan mulainya gangguan gula darah. Itulah pentingnya skrining tanpa menunggu keluhan. Itulah kenapa alasan orang diabetes mellitus perlu periksa retina,” jelasnya.

Dokter Firman kemudian menunjukkan tampilan slide gambar retina yang membedakan retina normal dengan terkena retina retinopati diabetik.

“Tidak semua diabetes terkena, tetapi penderita diabetes berpotensi terkena retinopati diabetika. Memang tidak langsung kabur tapi prosesnya tahunan,” ujarnya.

Penglihatan kabur ini ibarat sinyal tanda bahaya sebab kadang-kadang pulih dengan sendirinya. Persoalannya, apabila sudah masuk kategori berat maka perlu penanganan yang lebih intens termasuk melalui operasi.

ARTIKEL LAINNYA: Perangi Stunting, Tim STIKES Surya Global Yogyakarta Tanam Kelor dan Budi Daya Lele di Gunungkidul

“Kita tidak menakut-nakuti tapi mencegah. Minimal lima tahun orang sakit gula jika tidak terkontrol bisa menderita retinopati diabetika. Prosesnya panjang bukan seperti penyakit jantung. Untungnya, 90 persen retinopati diabetika bisa dicegah dengan mengontrol gula darah dan deteksi sedini mungkin,” ujarnya.

Satu dua orang peserta terdengar menghela nafas lega.

Dokter Firman kemudian berbagi tips deteksi penglihatan mata yang sederhana, mudah serta bisa dilakukan di rumah. Cukup sepuluh detik. Bisa dilakukan setiap hari.

Caranya, fokuskan pandangan pada satu titik, kemudian tutup mata kanan atau kiri secara bergantian masing-masing selama lima detik. Dengan cara ini akan diketahui apakah pandangan mata normal atau kabur.

ARTIKEL LAINNYA: Media Pembelajaran Animasi, Menuntut Guru Kreatif

Tips lainnya, seseorang yang banyak bekerja di depan layar komputer sebaiknya usahakan tetap menjaga mata berkedip. Normalnya, mata harus berkedip kurang lebih 15 sampai 20 kali setiap menitnya.

Direktur Utama RS Mata Dr Yap, dr Alida Lienawati M Kes FISQua menyampaikan tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan penyakit retinopati diabetika serta meningkatkan interaksi antara pasien dengan keluarganya.

Dia menyebutkan, setidaknya 2,2 miliar orang sedunia mengalami gangguan penglihatan. Di Indonesia, prevalensi kebutaaan sebesar 3 juta orang atau 1,5 persen dari populasi. Penyebab terbanyak berturut-turut adalah katarak, glaukoma, gangguan refraksi dan gangguan retina.

Merujuk data International Diabetes Forum pada tahun 2021 penderita diabetes mellitus di seluruh dunia mencapai 537 juta, diperkirakan pada 2030 akan ada 643 juta orang dengan DM dan pada 2045 melonjak hingga menyentuh angka 783 juta jiwa. Sedangkan di Indonesia terdapat 8,8 juta penduduk yang mengidap DM dan diperkirakan bertambah hingga 21,3 juta pada tahun 2030.

ARTIKEL LAINNYA: Digelar Turnamen Bulutangkis Antar Wartawan, Intinya Bukan Menang atau Kalah

“Kebutaan akibat retina salah satunya retinopati diabetika merupakan kasus yang sebenarnya dapat dicegah. Retinopati diabetika dapat ditangani sejak dini agar tidak berkembang lebih lanjut,” kata dokter Alida.

Salah satunya, lanjut dia, secara promotif dan preventif melalui edukasi dan deteksi dini kelainan mata. “Edukasi tidak hanya oleh tenaga kesehatan tetapi juga dari sesame pasien, keluarga dan komunitas yang telah berpengalaman menjalani pemeriksaan serta terapi retinopati diabetika,” jelasnya.

Hadir pula dalam kesempatan itu Direktur Pelayanan, Pendidikan dan SDM RS Mata Dr Yap, dr Erin Arsianti Sp M(K) M Sc MPH. Selama berlangsungnya acara tersedia layanan gratis periksa gula darah. (*)