Sambut Hari Ibu, Ini Pesan Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas
Yogyakarta memiliki posisi historis yang sangat penting dalam perjalanan Gerakan Perempuan Indonesia.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Dalam rangka menyambut peringatan Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember 2025, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPR RI), GKR Hemas, berpesan kepada para perempuan di Indonesia termasuk Yogyakarta agar ikut berkontribusi membangun bangsa dalam rangka meraih cita-cita Indonesia Emas 2045.
Pesan ini disampaikan GKR Hemas saat memberikan pengarahan sekaligus menjadi pembicara kunci Diskusi Publik Peran Media dalam Mendorong Gerakan Perempuan di Yogyakarta, Refleksi Hari Ibu dan Menuju 1 Abad Kongres Perempuan Indonesia (1928-2028), Rabu (17/12/2205), di Aula Kantor DPD RI DIY Jalan Kusumanegara Yogyakarta.
Dipandu moderator Agnes Dwirusjiati, pada diskusi yang diikuti lebih kurang 80 peserta dari berbagai kalangan itu, lebih lanjut GKR Hemas menyatakan Yogyakarta memiliki posisi historis yang sangat penting dalam perjalanan Gerakan Perempuan Indonesia.
“Kota ini menjadi salah satu pusat lahir dan berkembangnya kesadaran kolektif perempuan yang berpuncak pada Kongres Perempuan Indonesia I tahun 1928, sebuah peristiwa monumental yang meletakkan dasar perjuangan perempuan Indonesia dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, hukum, dan politik. Kongres tersebut tidak hanya melahirkan federasi organisasi perempuan pertama, tetapi juga menjadi tonggak kesadaran perempuan sebagai subyek aktif perubahan sosial dan kebangsaan,” ujarnya.
Ruang refleksi
Memasuki tahun 2028, lanjut GKR Hemas, bangsa Indonesia akan memperingati satu abad Kongres Perempuan Indonesia. Momentum ini menjadi ruang refleksi strategis untuk menilai sejauh mana cita-cita kesetaraan dan keadilan gender yang diperjuangkan sejak 1928 telah diwujudkan, sekaligus merumuskan agenda ke depan agar Gerakan Perempuan tetap relevan dengan tantangan zaman.
Disebutkan, dalam perjalanan sejarahnya, Gerakan Perempuan Indonesia mengalami pasang surut. Pada masa Orde Baru, ruang gerak perempuan cenderung dibatasi, dengan peran perempuan direduksi pada ranah domestik melalui berbagai kebijakan dan organisasi bentukan negara. Ruang publik, termasuk ruang politik dan media, belum sepenuhnya memberikan tempat yang adil bagi suara perempuan. Namun, pasca reformasi, perempuan kembali mengambil peran penting dalam memperjuangkan hak-haknya, termasuk dalam mempengaruhi kebijakan publik, penganggaran, serta narasi media yang lebih adil dan setara.
Dalam konteks kontemporer, media (baik media cetak, elektronik, digital, maupun media komunitas) memegang peran strategis sebagai ruang produksi pengetahuan, pembentuk opini publik, sekaligus alat advokasi.
Sejarah mencatat, organisasi perempuan seperti ‘Aisyiyah, yang berbasis di Yogyakarta telah memanfaatkan media sejak awal abad ke-20 melalui Majalah Suara ‘Aisyiyah (1926) sebagai instrumen penguatan gerakan perempuan.
Memperkuat gerakan
Merujuk data APJJI 2025, pada era digital saat ini, dengan lebih dari 229 juta pengguna internet di Indonesia tantangan Gerakan Perempuan tidak lagi sekadar akses terhadap media melainkan bagaimana perempuan dapat memanfaatkan media secara kritis, strategis dan berkelanjutan untuk memperkuat gerakan, melawan stereotip gender serta memperluas dampak advokasi hingga ke tingkat kebijakan.
Berangkat dari konteks tersebut, serta dalam rangka Refleksi Hari Ibu, yang sejatinya berakar dari semangat Kongres Perempuan, kegiatan diskusi publik ini diselenggarakan sebagai ruang dialog antara insan media dan aktivis perempuan di Yogyakarta.
“Diskusi ini diharapkan menjadi bagian dari rangkaian pemikiran menuju 100 Tahun Kongres Perempuan Indonesia 2028, sekaligus upaya mengembalikan ingatan kolektif publik terhadap peran strategis perempuan dan media dalam sejarah dan masa depan bangsa,” katanya.
Selain GKR Hemas, narasumber lainnya dalam diskusi kali ini adalah Prof Alimatul Qibtiyah S Ag M Si MA Ph D selaku Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Pakar Studi Gender dan Islam yang juga Komisioner Komnas Perempuan serta Sinta Maharani selaku jurnalis. (*)
---
