Petani di Sleman Dilatih Jual Produk Pertanian Melalui Jalur Digital
Kegiatan itu diselenggarakan Lembaga Pendidikan dan Keahlian (LPK) IMBIA bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sleman.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Puluhan warga dari berbagai kelompok tani, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Kelompok Wanita Tani (KWT) mengikuti Pelatihan Kompetensi Digital Marketing di Balai Desa Tamanmartani, Kalasan Sleman, Senin (20/10/2025). Kegiatan itu diselenggarakan Lembaga Pendidikan dan Keahlian (LPK) IMBIA bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sleman.
Program yang diikuti oleh 16 peserta dan menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemampuan masyarakat desa dalam memasarkan produk pertanian ke pasar yang lebih luas melalui jalur digital. Pelatihan yang berlangsung selama 24 Jam Pelajaran (JPL) ini dibagi dalam empat hari.
Materi dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep dasar digital marketing, tetapi juga mampu langsung menerapkannya untuk mengembangkan usaha.
Beberapa topik yang diajarkan mencakup pengantar pemasaran digital, pembuatan akun Google Business dan media sosial, riset kata kunci, teknik fotografi dan videografi menggunakan smartphone, hingga strategi konten dan iklan berbayar di Instagram dan Facebook.
Jangkauan pasar
Tak hanya itu, peserta juga dibekali keterampilan membuat toko daring di platform marketplace seperti Shopee, yang kini menjadi kanal penting untuk memperluas jangkauan pasar produk lokal.
“Kami ingin masyarakat desa tidak hanya menjadi produsen, tapi juga pelaku aktif dalam pemasaran. Digital marketing adalah kunci agar hasil bumi dan produk lokal bisa bersaing di era modern,” ujar Suryono, Direktur LPK IMBIA.
Dia menambahkan, pelatihan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran baru tentang pentingnya teknologi dalam menggerakkan roda ekonomi desa.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat ekonomi berbasis komunitas dan potensi lokal. Dengan penguasaan keterampilan digital marketing, para petani dan pelaku usaha kecil diharapkan mampu memperluas jaringan penjualan, meningkatkan nilai tambah produk, serta membuka peluang usaha baru di sektor daring.
Perubahan zaman
“Ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi investasi jangka panjang bagi masyarakat desa agar siap menghadapi perubahan zaman,” tambah Suryono.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan LPK IMBIA dan Disnaker Sleman dalam mengembangkan SDM desa yang adaptif terhadap era digital, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi berbasis pertanian lokal.
Dengan semangat kolaborasi, Desa Tamanmartani kini tengah menapaki babak baru, yakni dari ladang hijau menuju pasar digital yang mempertemukan kearifan lokal dengan peluang global.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan langsung dari anggota Komisi D DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, yang hadir memberikan semangat kepada para peserta.
Kebutuhan pokok
Dalam arahannya, dia menekankan bahwa penguasaan teknologi informasi dan digital marketing kini menjadi kebutuhan pokok bagi pelaku usaha pertanian.
“Gapoktan dan KWT harus mulai memanfaatkan platform digital untuk promosi dan penjualan. Dengan kreativitas dan strategi yang tepat, produk lokal bisa naik kelas tanpa harus bergantung pada tengkulak,” ujar Rahayu.
Dia mencontohkan keberhasilan beberapa produk khas Sleman seperti ayam goreng Kalasan dan keripik belut yang sudah dikenal luas hingga luar daerah.
Menurutnya, produk unggulan lain dari Tamanmartani berpotensi mengikuti jejak tersebut jika dikelola dengan pendekatan kreatif dan digital. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
