Persoalan Sampah di Bantul Semakin Mendesak
Sampah bukan hanya persoalan kebersihan melainkan juga terkait perubahan iklim.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Ruang Kolaborasi Pemuda (RKP) DIY sukses menggelar diskusi dan kunjungan lapangan bertajuk Belajar di Hilir, Bergerak dari Hulu: Aksi Pemuda Wujudkan Bantul Bersih Sampah di Recycling Training Center Bank Sampah Bantul (TPS3R Guwosari) Kapanewon Pajangan. Kegiatan ini diikuti 56 peserta yang merupakan perwakilan organisasi kepemudaan se-Kabupaten Bantul.
Ketua RKP, Muhamad Asruri Faishal Alam, melalui siaran pers Rabu (1/10/2025) menjelaskan acara itu sebagai respons atas persoalan sampah yang semakin mendesak di Bantul. Pertumbuhan penduduk, perubahan gaya hidup, serta keterbatasan kapasitas TPA Piyungan menjadi latar belakang pentingnya gerakan pemuda mendukung kebijakan daerah menuju Bantul Bersih Sampah.
“Kegiatan yang telah dilaksanakan Sabtu 27 September 2025 dengan harapan keterlibatan generasi muda dalam isu lingkungan harus lebih dari sekadar simbolik. Pemuda harus menjadi motor perubahan. Belajar di TPS3R Guwosari ini adalah langkah awal agar lahir inovasi, aksi nyata dan kolaborasi yang mampu mewujudkan Bantul Bersih Sampah 2025,” ujarnya.
Para peserta diharapkan tidak sekadar belajar tetapi juga membawa pulang gagasan, komitmen dan aksi nyata di wilayah masing-masing untuk mendukung terwujudnya Bantul Bersih Sampah 2025 dan visi besar DIY Bebas Sampah 2025.
Perubahan iklim
Prof Tien Aminatun selaku Kepala Pusat Mitigasi Bencana dan Perubahan Iklim UNY menjelaskan sampah bukan hanya persoalan kebersihan melainkan juga terkait perubahan iklim.
Sementara itu, Anggota DPRD DIY, Sigit Nursyam Priyanto, menyatakan pentingnya sinergi lintas sektor. “Pengelolaan sampah di DIY, termasuk Bantul, membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan pemuda. DPRD berkomitmen mengawal regulasi, anggaran dan pengawasan agar program lingkungan benar-benar berjalan,” ungkapnya.
Lurah Guwosari, Masduki Rahmad, mengapresiasi keberhasilan TPS3R Guwosari yang lahir dari partisipasi aktif warga. “Kunci keberhasilan ada pada keterlibatan masyarakat dan pemuda. Dari sini kita bisa membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga mampu memberi dampak ekonomi bagi warga,” jelasnya.
Selain teori peserta juga melakukan kunjungan lapangan yang dipandu Hendri sebagai Direktur BUMKal Guwosari. Peserta diajak melihat langsung sistem 3R (reduce, reuse, recycle). Sampah dikelola menjadi bernilai ekonomi, mulai dari pengolahan kompos hingga daur ulang plastik. (*)
Sariyati Wijaya
