Peternak Burung Puyuh di Kebumen Belum Mampu Memenuhi Kebutuhan Telur MBG

Hampir tidak pernah terjadi telur puyuh menumpuk di kandang ternaknya.

Peternak Burung Puyuh di Kebumen Belum Mampu Memenuhi Kebutuhan Telur MBG
Peternakan burung puyuh penghasil telur milik Juniadi. (nanang w Hartono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, KEBUMEN -- Peternak burung puyuh di Kebumen belum mampu memenuhi kebutuhan telur puyuh untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Peternakan di tempat saya baru memenuhi kebutuhan dua yayasan pengelola SPPG," kata Juniadi Prasetyo, seorang peternak burung puyuh di Desa Kambangsari Kecamatan Alian, kepada koranbernas.id, Senin (1/12/2025).

Peternakan miliknya yang dikelola dua karyawan setiap hari hanya mampu menghasilkan telur puyuh 100 kg - 120 kg. Setiap kilogram rata-rata 83 butir telur.

Pada awal pelaksanaan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kebumen, belum ada SPPG memanfaatkan telur puyuh. Setelah ada ketentuan, bahan pangan produk lokal menjadi prioritas untuk SPPG, permintaan telur puyuh mulai ada.

Ambil di kandang

Juniadi mengungkapkan, hampir tidak pernah terjadi telur puyuh menumpuk di kandang ternaknya. Pembeli mengambil telur di kandang.

"Saya akan membangun kandang baru di desa lain," kata pemilik peternak puyuh dengan populasi 11 ribu ekor itu.

Penambahan kandang baru dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan telur puyuh program MBG. Diharapkan konsumen non SPPG bisa memperoleh telur puyuh di pasar tradisional. "Harga telur puyuh relatif ada kenaikan, setelah ada program MBG, sekarang Rp 28 ribu sekilo," kata Juniadi. (*)