Selasa, 15 Jun 2021,


pendidikan-kesehatan-mengatasi-kecemasan-vaksinasi-covid19Pengabdian masyarakat diawali dengan pengecekan suhu dan pengecekan tekanan darah. (koleksi pribadi Bayu Seto Rindi Atmojo M,Kep)


Wahyu Nur Asmani EW
Pendidikan Kesehatan Mengatasi Kecemasan Vaksinasi Covid-19

SHARE

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO--Untuk memutus mata rantai perkembangan Covid-19 adalah dengan melakukan vaksinasi terhadap masyarakat. Untuk itu, pemerintah sedang melaksanakan program vaksinasi Covid-19, yang saat ini menggunakan vaksin produksi Sinovac bekerja sama dengan PT Bio Farma.


Sasaran utama dari vaksinasi Covid-19, adalah para tenaga kesehatan (nakes) dan masyarakat dalam prioritas, termasuk para lanjut usia (lansia) dengan target cakupan sebesar 70 persen.


Namun dalam proses vaksinasi Covid-19, ada hoaks yang sengaja dihembuskan di media sosial dan berimbas pada kecemasan di masyarakat, terutama untuk kalangan lansia.

Menghadapai fenomena tersebut, Bayu Seto Rindi Atmojo M.Kep, Dosen Akper Pemkab Purworejo bekerja sama dengan Puskesmas Dadirejo dan Pemerintah Desa Tlogokotes melakukan penyuluhan terhadap lansia.


“Penyuluhan tersebut dalam rangka mengemban salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat. Saya memberikan kegiatan pengabdian masyarakat dengan materi Pendidikan Kesehatan Mengatasi Kecemasan Vaksinasi Covid-19 kepada lansia,” ujar Bayu (sapaan akrabnya), kepada koranbernas.id, Selasa malam (4/5/2021).


Menurut Bayu, kegiatan pengabdian masyarakat telah dilakukan Rabu (21/4/2021) lalu bertempat di Balai Desa Tlogokotes Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo.


Melibatkan 25 orang peserta, kegiatan diawali dengan pengecekan suhu tubuh, cuci tangan, cek tekanan darah, dilanjutkan penyuluhan kesehatan atau pendidikan kesehatan.

“Peserta sangat antusias. Harapannya, melalui kegiatan ini peserta bisa mengatasi kecemasan saat akan dilakukan vaksin Covid-19,” katanya.

Menurut Dosen Akper Pemkab Purworejo tersebut, kecemasan lansia terhadap vaksininasi Covid-19 adalah reaksi yang normal.

“Rasa cemas biasanya dipicu oleh stres, yang merupakan reaksi tubuh dan otak terhadap suatu tekanan,” ujar Bayu.

Dia melanjutkan rasa cemas dan takut adalah sama-sama ancaman. Gejala cemas biasanya berupa sakit kepala, pusing, napas sesak dan berdebar, kram pada anggota gerak, sering buang air kecil dan sullit ditahan serta diare.

“Untuk itu lansia penting mengelola stres dan cemas yang dirasakan. Salah satu cara adalah melatih mindfulness (kesadaran dari dalam),” jelas Bayu.

Bayu mengingatkan warga agar waspada terhadap hoaks. Ini penting agar mereka tidak terpengaruh saat membuat keputusan logis berdasarkan kesadaran diri.

“Apabila tidak nyaman dengan vaksin Covid-19, bisa mencari bantuan ke profesional dokter atau praktisi kesehatan masyarakat, psikolog, psikiater untuk mendapatkan informasi atau konseling yang dibutuhkan,” kata Bayu memberi saran.

Pemberian materi tentang mengatasi cemas saat dilakukan vaksin Covid-19, juga sekalian memberikan pemahaman bahwa pemberian vaksin Covid-19 ini membutuhkan 2 dosis yang disuntikkan dalam interval 2 minggu (14 hari).

Dosis pertama, tujuannya untuk memicu respons kekebalan awal. Sedangkan dosis kedua (booster) untuk menguatkan respons imun yang telah terbentuk sebelumnya. Antibodi akan optimal setelah 14-28 hari dari suntikan kedua dilakukan.

Setelah vaksinasi, masyarakat diimbau tetap mematuhi 3M yaitu memakai masker dengan benar, menjaga jarak serta hindari kerumunan, dan mencuci tangan pakai sabun di air mengalir, agar pendemi dapat segera berakhir.(*)

 

 



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini