Rabu, 20 Jan 2021,


patung-dewa-empat-muka-di-kelenteng-tuban-didatangkan-langsung-dari-thailandPatung Dewa Empat Muka di Kelenteng Tuban. (istimewa)


Siaran Pers

Patung Dewa Empat Muka di Kelenteng Tuban Didatangkan Langsung Dari Thailand


SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Patung Dewa Empat Muka berdiri megah di Halaman Belakang Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Patung Buddha bernama Se Mien Fo itu didatangkan langsung dari Bangkok Thailand.

“Patung Budha 4 Muka ini asli dibawa dari Bangkok,” ungkap Alim Sugiantoro Ketua Penilik Domisioner TITD Kwan Sing Bio Tuban, melalui rilisnya, Jumat (6/11/2020).


Patung Buddha empat muka setinggi 129 centimeter itu bakal diresmikan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Se Mien Fo yang jatuh pada tanggal 9 November 2020.

Patung Dewa itu bakal diresmikan oleh Bhante Khanit Sannano Mahathera Biksu asal Thailand. Acara ini, menurut rencana juga akan dihadiri oleh Ditjen Binmas Buddha Kementerian Agama RI.


Setelah diresmikan, nantinya umat bisa melihat dan beribadah di Tuban, terutama umat yang tidak bisa pergi ke Bangkok. Sebab, di Tuban sudah ada patung Buddha Empat Muka yang asli didatangkan dari Bangkok Thailand.

“Orang Indonesia yang tidak bisa ke Bangkok karena pandemi, maka bisa datang ke Tuban. Karena di Kelenteng sudah ada Patung Dewa Empat Muka,” beber Alim panggilan akrab Alim Sugiantoro.

Dibangunnya patung dewa itu atas ide dan dipelopori oleh Alim Sugiantoro, seorang tokoh agama Khonghucu dan Ketua Pembina Khonghucu di TITD Kwan Sing Bio Tuban. Pembangunan sebagai bentuk kerukunan umat dan melengkapi unsur agama yang ada di kelenteng yakni Tri Dharma (Buddha, Tao, dan Khonghucu).

“Kita tetap memperhatikan agama lain Buddha, karena Kelenteng Kwan Sing Bio itu sudah baku adalah tri dharma sejak dulu. Itu sudah harga mati,” tegas Alim.

Menurutnya, peresmian Patung Dewa Empat Muka itu sebagai bentuk untuk menghormati sesama agama dan menjaga perdamaian serta persatuan umat di Kelenteng Tuban.

“Perbedaan umat yang ada di Kelenteng Tuban harus dihormati, dan kelenteng ini tidak boleh dijadikan tempat ibadah Wihara atau di Buddha kan,” terang Alim.

Lebih lanjut, ia menjelaskan perbendaan yang ada di kelenteng Tuban ini harus dijadikan contoh untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Sebab, selama ini umat yang datang ke kelenteng yang berasal dari luar daerah sangat menghormati perbedaan.

“Umat kelenteng Tuban harus menjadi contoh yang baik dalam rangka menjaga kerukunan antar umat beragama. Jika kita tidak rukun maka malu dengan teman-teman luar daerah yang datang ke Tuban,” terangnya.

Sementara itu, dana pembangunan rumah tari, rumah Dewa Empat Muka, dan Patung Dewa Empat Muka itu berasal dari sumbangan keluarga Ketua Penilik Domisioner Kelenteng Tuban Alim Sugiantoro, istri Henny Pudji Astuti, dan didukung beberapa pihak keluarga. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini