Originfest 2026 Lebur Musik Metal, Punk, Pop dan Rock

Di sini kita hanya ingin bersenang-senang. Asu nek kowe gawe rusuh.

Originfest 2026 Lebur Musik Metal, Punk, Pop dan Rock
Penampilan Sable Hills, band metal core asal Tokyo di Originfest 2026 di lapangan parkir Stadion Maguwoharjo Sleman. (anggarakzza rayyi untuk koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Halaman parkir Stadion Maguwoharjo berubah menjadi lautan energi saat berlangsung Originfest 2026, Sabtu (7/2/2026). Mengusung tajuk Unlimited Pleasure, festival ini sukses menyatukan lebih dari 12.000 penikmat musik di bawah guyuran hujan yang justru menambah syahdu suasana.

Tak sekadar ajang pamer distorsi, Originfest 2026 membuktikan diri sebagai kawah candradimuka bagi berbagai subkultur musik. Batasan antara metal, punk, pop, hingga rock melebur dalam satu panggung persaudaraan.

Owner Origin Entertainment sekaligus promotor acara, Dona Marsita, mengungkapkan rasa syukurnya atas antusiasme yang melampaui ekspektasi. Dari target awal 10.000 penonton, tiket yang terjual justru menembus angka 12.000.

"Ini tahun kedua Originfest. Komposisi band tahun ini jauh lebih kuat dan beragam. Kita tidak mau kehilangan embrio event ini, yakni metal, agar tidak kehilangan jati diri. Namun, kita juga memberi ruang adil bagi punk, pop, hingga hardcore," ujar Dona kepada wartawan sebelum acara.

Pendengar digital

Menurut dia, keputusan mendatangkan bintang tamu internasional tahun ini juga didasarkan pada respons viral dan data pendengar digital yang kuat.

Semangat inklusivitas ini disetujui oleh band Death Metal kebanggaan Yogyakarta, Death Vomit. Sang vokalis, Sofyan Hadi, yang tampil beringas bersama Oki Haribowo (gitar), Roy Agus (drum) dan Ari Kristiono (bas), tak henti mengingatkan pentingnya saling menjaga.

"Mosh pit sampai ke belakang silakan, tapi jangan ada yang gelut. Di sini kita hanya ingin bersenang-senang. Asu nek kowe gawe rusuh," ujarnya dalam dialek Jawa yang kental, meredam potensi gesekan massa.

Death Vomit, yang baru saja merilis album keempatnya pada 31 Januari silam menyebutkan Originfest sebagai momentum krusial bagi ekosistem musik Yogyakarta. "Jika festival ini bagus, akan jadi tolak ukur dan berlanjut di tahun-tahun mendatang," kata sang frontman.

Kembalinya Vicky Mono

Salah satu yang dinanti malam itu adalah penampilan raksasa metal asal Bandung, Burgerkill. Panggung Maguwoharjo menjadi saksi sejarah kembalinya Vicky Mono ke posisi vokal. Membuka set dengan Darah Hitam Kebencian dan Shadow of Sorrow, Vicky tampak emosional saat menyapa para Begundal.

"Ini pertama kali saya tampil di depan publik setelah kembali ke Burgerkill. Gue selama ini nggak ke mana-mana, masih tetap sebagai Begundal. Rumah bagi saya adalah kalian semua," ucap Vicky dengan suara bergetar, sebelum menutup sesi dengan anthem Atur Aku.

Muhammad Sultan Adirahman, seorang Begundal muda asal Jokteng Kulon Yogyakarta mengaku merinding menyaksikan momen tersebut. "Rasanya kayak momen berharga bisa lihat dia balik lagi. Ini yang ditunggu-tunggu," ujarnya antusias.

Atmosfer festival semakin cair lewat aksi panggung kolaborasi unik antara The Jansen dan Jason Ranti yang menamakan diri "Jansen Ranti". Dengan gaya slengean-nya, Jason melempar kelakar, "Kami dari Liverpool, salam hormat untuk PSS Sleman," yang langsung disambut riuh tepuk tangan.

Konser aman

Di sisi lain, pesan kemanusiaan menggema lewat Rebellion Rose. Band punk rock yang digawangi Fyan Sinner ini menyerukan ruang aman di area konser. "Tak ada ruang untuk pelaku pelecehan seksual dan copet. Kita juga harus memberikan ruang aman bagi para wanita tangguh yang hadir menonton malam ini" teriak Fyan lantang.

Puncaknya, unit metalcore asal Tokyo, Sable Hills, membuktikan musik adalah bahasa universal. Sang vokalis, Rict Mishima, meski terbata-bata, berusaha menyapa penonton menggunakan Bahasa Indonesia, sebuah gestur yang diapresiasi tinggi oleh massa yang tetap setia moshing di bawah hujan.

Selain nama-nama besar di atas, panggung ORIGINFEST 2026 juga dimeriahkan oleh The Adams, FSTVLST, Over Distortion, Negatifa, Biru Baru, Strangers, Murphy Radio, The Kick, Threesixty, Sukses Lancar Rejeki (SLR), Modern Guns, Horush, Fornicaras, Noire, Fusr, Vortex of Hatred, Alkateri dan The Jeblogs.

Konser ditutup oleh The Adams yang membius penonton untuk pulang beragam ingatan sebuah konser yang layak diulang pada tahun-tahun mendatang. (*)