Musisi dan Ribuan Warga Yogyakarta Membasuh Duka Saudara di Sumatera

Halaman Stadion Maguwoharjo berubah layaknya majelis taklim raksasa. 

Musisi dan Ribuan Warga Yogyakarta Membasuh Duka Saudara di Sumatera
Penampilan Rebellion Rose dalam perhelatan Konser Amal Jogja Hanyengkuyung Sumatra di pelataran parkir Stadion Maguwoharjo. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Halaman Timur Stadion Maguwoharjo Sleman, Selasa (23/12/2025), tidak hanya menjadi saksi ingar-bingar musik tetapi juga sebuah ritual kemanusiaan yang khidmat.

Di bawah tajuk Jogja Hanyengkuyung Sumatra, ribuan warga dan sederet musisi lintas genre meleburkan ego demi satu tujuan membasuh duka saudara sebangsa di Sumatera yang baru saja ditimpa musibah bencana alam.

Acara yang diinisiasi sebagai respons cepat musisi Jogja ini menyajikan pemandangan kontras namun harmonis. Di satu sisi ada hentakan distorsi dan rima tajam dari musisi seperti Jahanam, Rebellion Rose dan Shaggydog. Pada sisi lain, ada lantunan doa yang meneduhkan jiwa.

Duo hip-hop Jahanam membuka ruang imajinasi penonton bukan sekadar dengan lagu, melainkan sebuah "mantra". Mereka melafalkan doa, meminta semesta menjaga Jogja dan Indonesia tetap baik-baik saja. Dalam kesempatan ini, Jahanam turut membawakan single terbaru mereka, Asuog yang disambut antusias.

Ambil alih

Momen emosional terjadi saat Rebellion Rose naik panggung. Di tengah sedikit gangguan teknis pada tata suara, band punk rock ini membawa kabar sang vokalis utama berhalangan hadir karena urusan keluarga mendadak di Jakarta. Namun, semangat "gotong royong" khas Jogja langsung mengambil alih.

Tanpa dikomando, ribuan penonton secara inisiatif mendaulat diri mereka sebagai vokalis pengganti, menyanyikan lirik-lirik perlawanan dan cinta dengan lantang.

Suasana berubah drastis tepat pukul 18:15, usai jeda salat Magrib. Kunto Aji naik panggung tidak sendirian melainkan berkolaborasi dengan Yogyakarta Hadroh Club (YKHC).

Ribuan penonton yang sebelumnya berdiri dan melompat, serentak duduk bersila memadati pelataran stadion. Halaman stadion berubah layaknya majelis taklim raksasa. Bersama Alit Jabangbayi dan Donny Saputro (eks vokalis Seventeen), mereka melantunkan tembang Lir-Ilir dan rangkaian shalawat.

Ustad Jazir

Selain membawakan hits Kunto Aji yang diaransemen dengan sentuhan rebana, sesi ini didedikasikan untuk mengenang mendiang Ustad Jazir, pengelola Masjid Jogokariyan yang baru saja berpulang.

Sosok Ustadz Jazir dikenal luas berhasil membangun komunitas masjid yang mandiri hingga gaungnya terdengar ke mancanegara.

Semangat nyengkuyung (bahu-membahu) terbukti nyata dalam angka. Hingga pukul 18:43, panitia mengumumkan total donasi sementara telah menembus angka Rp 654.686.977.

Koordinator Program Acara, Donny Saputro, menyebutkankan  gerakan ini lahir dari spontanitas yang tak terduga. "Tidak terbayang sebelumnya akan menjadi sebesar ini. Alhamdulillah, Jogja memang solid dalam urusan gerakan sosial," ujar Donny.

Panitia sukses

Nominal donasi yang terkumpul dinilai melebihi ekspektasi jika dibandingkan dengan jumlah fisik penonton yang datang, membuktikan panitia sukses menyebarkan akses donasi secara luas.

Seluruh dana yang terkumpul akan disalurkan melalui Masjid Jogokariyan untuk memastikan bantuan sampai ke tangan korban bencana di wilayah Sumatera yang paling membutuhkan.

Malam itu di Maguwoharjo, Jogja kembali membuktikan dirinya bahwa keramahan bukan sekadar jargon pariwisata, melainkan denyut nadi yang menggerakkan ribuan orang untuk peduli pada mereka yang jauh di mata. (*)