Muhammadiyah DIY Luncurkan KPI Sekolah, Kerja Sama dengan Singapura
Ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY terus mendorong transformasi pendidikan melalui penguatan karakter, tata kelola sekolah dan kolaborasi internasional.
Upaya tersebut ditandai dengan peluncuran Instrumen Penilaian Kinerja Sekolah/Madrasah Muhammadiyah DIY berbasis Key Performance Indicators (KPI) serta penandatanganan kerja sama dengan Marshall Cavendish Education (MCE) Singapura.
Peluncuran instrumen KPI dan kerja sama internasional tersebut digelar dalam Seminar Pendidikan yang berlangsung di Aula SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Selasa (2/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis Muhammadiyah DIY meningkatkan kualitas tata kelola dan mutu pendidikan di seluruh sekolah Muhammadiyah di DIY.
Dalam seminar tersebut, para peserta diajak kembali meneguhkan filosofi pendidikan Muhammadiyah yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak peserta didik.
Sangat tinggi
Dalam sambutannya, Ketua PWM DIY, Muh Ikhwan Ahada mengungkapkan ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Hal itu tercermin sejak wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menempatkan ilmu sebagai fondasi utama peradaban manusia.
Menurutnya, ilmu tidak sekadar dimaknai sebagai pengetahuan, tetapi juga sarana untuk mengenali jati diri manusia dan memahami tujuan hidupnya. Karena itu, pendidikan harus mampu menghantarkan peserta didik menjadi pribadi yang mengenal dirinya sekaligus mengenal Tuhannya.
“Ilmu sesungguhnya harus mampu mengantarkan manusia memiliki kepribadian yang baik. Ketika menyampaikan ilmu kepada anak-anak, kita harus selalu memohon kepada Allah agar ilmu yang diberikan menjadi ilmu yang bermanfaat,” ujarnya.
Dia mengingatkan tidak sedikit orang yang memiliki pengetahuan tinggi, namun ilmunya tidak memberi manfaat bagi kehidupan. Karena itu, pendidikan harus memastikan bahwa ilmu yang diperoleh peserta didik dapat diamalkan dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Membangun akhlak
Dalam pandangannya, misi Rasulullah SAW tidak hanya membawa ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun akhlak. Kedua aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses pendidikan.
“Pendidikan tidak boleh menjadikan manusia yang berilmu menjadi sombong. Pendidikan harus mampu mengoptimalkan peran akal dan hati sehingga melahirkan pribadi yang membela kebenaran dan bermanfaat bagi banyak orang,” katanya.
Dia juga mengutip pemikiran KH Ahmad Dahlan yang menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang utuh. Keberhasilan pendidikan tidak semata diukur dari nilai akademik, tetapi dari kemampuan membentuk manusia yang berakhlak, memiliki kepedulian sosial, dan mampu mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.
"Nilai-nilai tersebut hingga kini tetap menjadi fondasi pendidikan Muhammadiyah. Pendidikan harus berlandaskan ketauhidan, menjauhkan kesombongan, mengoptimalkan potensi akal dan hati, serta menggabungkan ilmu dengan amal," jelasnya.
Meraih prestasi
Pada kesempatan yang sama, Ikhwan juga menyampaikan apresiasi atas capaian Majelis Dikdasmen yang berhasil meraih peringkat pertama dalam ajang olimpiade tingkat nasional. Prestasi tersebut dinilai menjadi bukti, keterbatasan sumber daya bukan penghalang untuk menghasilkan kualitas pendidikan yang unggul.
“Meskipun kekuatan kita tidak sebesar wilayah lain, tetapi mampu menunjukkan prestasi di tingkat nasional. Ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus menggali dan mengembangkan potensi peserta didik,” ujarnya.
Sementara itu, peluncuran Instrumen Penilaian Kinerja Sekolah/Madrasah berbasis KPI diharapkan menjadi alat ukur yang objektif dalam meningkatkan kualitas sekolah Muhammadiyah. Dengan sistem tersebut, setiap sekolah dapat melakukan evaluasi secara terstruktur terhadap capaian kinerja, kualitas layanan pendidikan, tata kelola organisasi, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Melalui instrumen KPI, Muhammadiyah DIY ingin memastikan peningkatan mutu pendidikan dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Sekolah tidak hanya dituntut unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga memiliki tata kelola yang profesional dan mampu memberikan layanan pendidikan terbaik kepada peserta didik.
Memperluas jejaring
Selain itu, penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara sekolah-sekolah Muhammadiyah DIY dengan Marshall Cavendish Education (MCE) Singapura menjadi langkah penting dalam memperluas jejaring pendidikan global.
Kerja sama tersebut membuka peluang peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan kompetensi guru, serta pemanfaatan sumber belajar berstandar internasional.
"Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat daya saing sekolah Muhammadiyah di tengah perkembangan dunia pendidikan yang semakin dinamis dan global," ujarnya.
Sementara Sekretaris PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti mengungkapkan kekuatan organisasi menjadi faktor utama yang membuat Muhammadiyah mampu bertahan dan terus berkembang hingga saat ini. Di tengah persaingan yang semakin ketat, Persyarikatan Muhammadiyah dituntut untuk terus melakukan pembaruan tata kelola organisasi agar mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Kekuatan organisasi
Berbagai capaian Muhammadiyah selama lebih dari satu abad tidak terlepas dari kekuatan organisasi yang dibangun secara sistematis. Dia mencontohkan, Muhammadiyah mampu mengembangkan ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial bahkan memiliki perguruan tinggi yang menjalin jejaring hingga ke luar negeri.
“Muhammadiyah menjadi seperti ini karena organisasi. Organisasi adalah alat perjuangan yang sebaik-baiknya,” ujarnya.
Sayuti menjelaskan, penguatan organisasi telah menjadi fokus Muhammadiyah dalam berbagai periode kepemimpinan. Mulai dari pengembangan jaringan organisasi, pemantapan manajemen di seluruh jenjang kepemimpinan, hingga reformasi organisasi dan digitalisasi sistem yang kini terus dikembangkan.
Menurutnya, organisasi modern tidak cukup hanya berjalan secara administratif, tetapi juga harus mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, tata kelola organisasi perlu dibangun secara profesional, terukur dan berbasis kinerja. “Kalau ingin berdampak, organisasinya harus ditata dengan baik,” katanya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
