Legenda Thrash Metal Anthrax Menutup Rangkaian Cerita JogjaROCKarta
JogjaROCKarta akan memasuki masa hibernasi panjang usai edisi ke-8.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Malam itu, Stadion Kridosono tidak hanya diguyur keringat dan distorsi, tetapi juga emosi yang campur aduk. Minggu (7/12/2025), hari kedua JogjaROCKarta Festival 2025 menjadi saksi sejarah dari apa yang disebut-sebut sebagai The Last Dance festival rock terbesar di Yogyakarta ini.
Di balik gemuruh ribuan metalhead, terselip narasi perpisahan yang kental. Seminggu sebelumnya, CEO Rajawali Indonesia, Anas Syahrul Alimi, telah melemparkan "bom" berita yang mengejutkan: JogjaROCKarta akan memasuki masa hibernasi panjang usai edisi ke-8.
"Ini keputusan yang sangat berat, tapi harus diambil. Ini benar-benar yang terakhir," ujar Anas dalam konferensi pers sehari menjelang festival. Pernyataan itu mengubah atmosfer festival tahun ini, bukan sekadar pesta melainkan sebuah upacara penghormatan.
Nuansa perpisahan itu dirasakan betul oleh Infernal Lamentations. Unit technical death metal ini tampil beringas membuka hari kedua, namun dengan kerendahan hati yang menyentuh.
Ironi yang manis
Bagi mereka, panggung ini adalah ironi yang manis. Debut pertama mereka di JogjaROCKarta, sekaligus menjadi penutup tirai festival. "Sayang sekali ini adalah yang terakhir, namun kami bahagia bisa menjadi bagian dari sejarah JogjaROCKarta," seru sang vokalis di hadapan lautan manusia.
Dia menutup set mereka dengan harapan agar festival ini tak sekadar jadi kenangan. "Semoga JogjaROCKarta menjadi monumen," ujarnya.
Saat matahari mulai terbenam, Gugun Blues Shelter (GBS) mengambil alih panggung bukan hanya untuk bermusik tapi menggugat. Gugun, sang frontman, membawa kegelisahan tentang bumi yang kian rapuh.
Sebelum memetik senar untuk lagu Rain dan Payung Hitam, Gugun melontarkan orasi tentang iklim. "Hujan yang tak lagi hujan," ujarnya getir, menggambarkan cuaca yang kini tak menentu dan bencana yang terjadi.
Metal Mongolia
Dia mendedikasikan penampilannya untuk para korban bencana alam di Sumatera, mengajak penonton sejenak menundukkan kepala dalam simpati. Puncaknya, sebuah kalimat tajam meluncur dari mulutnya, membungkam riuh penonton sejenak: "Tidak ada musik di planet yang mati."
GBS tak berhenti di isu lingkungan. Mereka juga menyeret ingatan kolektif penonton pada sejarah kelam bangsa. Di Kridosono, blues menjadi alat perlawanan.
Tensi kembali diledakkan oleh The Hu. Band folk metal asal Mongolia ini membuktikan bahasa bukan halangan untuk headbanging. Menggunakan instrumen tradisional seperti morin khuur, mereka menyihir penonton Jogja.
Kejutan terjadi di tengah set. "Do you like Iron Maiden?" tanya sang vokalis dengan suara berat. Tanpa aba-aba, riff ikonik The Trooper berkumandang, namun dengan cita rasa padang rumput Mongolia yang magis.
Kawah energi
Penonton histeris, paduan suara massal tercipta. Sebelum pamit, The Hu meninggalkan pesan persaudaraan yang hangat, "This song is for you... We love Indonesia!"
Malam semakin larut, dan tibalah saat yang dinanti. Legenda Thrash Metal dunia, Anthrax, naik ke panggung sebagai penutup segala rangkaian cerita JogjaROCKarta.
Scott Ian dan kawan-kawan tidak memberikan ampun. Sejak chord pertama A.I.R dilesatkan, Stadion Kridosono berubah menjadi kawah energi. Joey Belladonna, meski tak lagi muda, berlari ke sana kemari, memastikan setiap sudut stadion ikut bernyanyi. Reaksi penonton luar biasa. Tak ada wajah lelah, yang ada hanya adrenalin.
Tio (34), seorang penonton yang datang dari Solo, menggambarkan momen saat Anthrax membawakan Caught in the Mosh.
Salam perpisahan
"Gila! Rasanya seperti semua orang sepakat untuk menghabiskan sisa tenaga terakhirnya malam ini. Circle pit-nya brutal tapi penuh rasa hormat," ujarnya sembari menyeka keringat.
"Kalau ini memang JogjaROCKarta terakhir, Anthrax memberikan salam perpisahan yang sempurna. Kami pulang dengan leher sakit tapi hati puas," tambahnya.
Ketika Anthrax mengakhiri set mereka, tepuk tangan panjang membahana. JogjaROCKarta 2025 telah usai.
Jika benar ini adalah akhir, maka seperti harapan Infernal Lamentations, Kridosono malam itu telah benar-benar menjadi monumen, rock, kritik sosial, dan solidaritas pernah berpesta hebat di tanah Yogyakarta. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
