Senin, 24 Jan 2022,


lalat-hitam-sahabat-sekolahWoro Nugroho (depan). (Istimewa).


---
Lalat Hitam Sahabat Sekolah

Oleh: Woro Nugroho
SHARE

SAMPAH sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang belum bisa diselesaikan secara komprehensif, baik di lingkup rumah tangga, dukuh, desa/kalurahan bahkan sampai tingkat kabupaten/kota. Hal ini terjadi karena masih belum adanya penanganan yang terpadu, baik dari hulu sampai hilir. Belum lagi kesadaran masyarakat yang masih rendah terkait bagaimana mengelola sampah dengan baik.


SMK Negeri 2 Klaten yang memiliki  kurang lebih 2.000 siswa, juga mengalami permasalahan pengelolaan sampah cukup rumit, terutama pada sisi hilir, yaitu bagaimana sampah akan dibuang setelah terkumpul dan terpilah. Terkadang, kalau tidak hati-hati dalam membuang sampah, akan menimbulkan masalah sosial yang dapat mengganggu stabilitas sekolah dalam melayani peserta didik. Oleh karena itu, sekolah berupaya mencari solusi untuk menangani sampah, terutama sampah organik yang cukup besar, selama proses pendidikan berlangsung.


Upaya yang telah dilakukan adalah mengolah sampah organik (dari sisa makanan di kantin) yang jumlahnya mencapai sekitar 20 kg perhari dengan bantuan lalat hitam. Pengolahan ini sudah dimulai sejak bulan Januari 2020, dengan mengirimkan 4 tenaga kebersihan sekolah ke salah satu pelaku pengelola dan peternak lalat hitam di daerah Piyungan Bantul DIY. Keempat tenaga kebersihan tersebut dilatih bagaimana membudidayakan lalat hitam secara intensif, dengan sumber makanan dari sampah organik yang ada. Sampah organik tersebut menjadi makanan utama anak Lalat Hitam (belatung) dan berubah menjadi pupuk organik.

Belatung Lalat Hitam bak mesin pengubah sampah organik menjadi pupuk organik yang bekerja tidak mengenal lelah, mereka akan melahap seberapa pun sampah yang diberikan untuk membesarkan tubuhnya sampai pada fase kepompong, yang akhirnya mereka berhenti makan untuk bertapa dan berubah menjadi lalat hitam dewasa. Lalat hitam akan segera kawin dan bertelur untuk kemudian mati. Telur2 tersebut setelah 2 sd 3 hari menetas menjadi larva untuk menjadi mesin pemakan sampah, demikian proses berulang.


Pemanfaatan larva lalat hitam untuk mengolah sampah organik ini memiliki beberapa keuntungan di antaranya:

1. Hemat biaya, karena tidak memerlukan sumber energi tambahan, hanya diperlukan perawatan pada larva, maka larva akan bekerja dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan makannya;

2. Hemat tempat, karena tempat larva dapat dibuat secara bersap ke atas;

3. Tidak menimbulkan bau, karena sampah dengan cepat diubah menjadi pupuk dan kering oleh larva;

4. Bernilai ekonomi, karena pupuk yang dihasilkan dapat digunakan untuk merawat tanaman atau dijual; dan

5. Bernilai edukasi, karena dapat ditularkan kepada siswa maupun mesyarakat sekelilingnya untuk melakukan hal yang sama.

Namun sayangnya, kegiatan ini hanya berlangsung norml sampai pertengahan Maret 2020, karena pandemi Covid 19 mengharuskan siswa belajar dari rumah, sehingga sampah organik tidak cukup tersedia untuk diolah oleh sang “Pemakan Kelaparan”. Sejak pertengahan Maret 2020 sd tulisan ini dibuat, praktek pengolahan sampah organik dengan larva lalat hitam hanya untuk mempertahankan keberlangsungan siklus, sehingga tidak terputus. Semoga setelah pandemi Covid 19 berakhir, kegiatan belajar di sekolah berjalan normal kembali dan sang “Pemakan Kelaparan” bisa beraksi kembali. Semoga. **

Woro Nugroho

Kepala SMK N 2 Klaten.

 



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini