KWT Tangguh Dusun Kadipiro Sleman Beternak Ayam Petelur, Tanpa Kandang

Dipersiapkan dapat terhubung dengan program strategis nasional Makan Bergizi Gratis.

KWT Tangguh Dusun Kadipiro Sleman Beternak Ayam Petelur, Tanpa Kandang
Peluncuran program Cage-Free Farm di Dusun Kadipiro, Margodadi Seyegan, Sleman, Selasa (10/2/2026). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Upaya menjadikan sektor peternakan sebagai penopang kesejahteraan sekaligus sumber pangan bergizi terus diperkuat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satunya melalui pengembangan komoditas ayam petelur berbasis komunitas.

Di Dusun Kadipiro, Margodadi Seyegan Sleman, Kelompok Wanita Tani (KWT) Tangguh mulai mengembangkan ayam petelur dengan pendekatan kesejahteraan ternak atau yang kerap disebut sebagai konsep “ayam bahagia”.

Program yang diluncurkan Selasa (10/2/2026) ini merupakan kolaborasi antara Padukuhan Margodadi, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) serta dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Hotel Garrya Bianti Yogyakarta dalam program Cage-Free Farm ketiga di dusun tersebut.

Lurah Margodadi, Djalmo Susilodiprojo, mengatakan pengembangan ayam petelur di tingkat kelompok perempuan ini tidak hanya untuk menambah penghasilan warga. Namun juga dipersiapkan agar hasilnya dapat terhubung dengan program strategis nasional, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Potensi lokal

“Harapan kami, hasil telur dari kelompok ini ke depan bisa tersambung dengan program Makan Bergizi Gratis. Ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat agar kebutuhan gizi anak-anak bisa dipenuhi dari potensi lokal,” ujar Djalmo.

Menurutnya, Margodadi memiliki banyak kelompok usaha di sektor pertanian, perikanan dan peternakan. Dengan adanya program MBG, antusiasme warga untuk kembali mengembangkan sektor pangan lokal semakin meningkat.

“Kalau dari yang kecil ini bisa kita kelola bersama-sama, mudah-mudahan nanti bisa berkembang lebih besar dan berkelanjutan,” tambahnya.

Pendampingan teknis dari Fakultas Peternakan UGM menjadi kunci pengembangan komoditas ayam petelur ini. Konsep ayam bahagia adalah tidak hanya mengejar produksi tetapi juga memperhatikan kesehatan ternak dan lingkungan sekitar.

Produksi telur

Dosen Fakultas Peternakan UGM, Muhsin Al Anas, menjelaskan kesejahteraan ternak berpengaruh langsung pada kualitas dan keberlanjutan produksi telur. “Kalau ternaknya sehat, lingkungannya baik dan dikelola dengan benar, hasilnya juga lebih stabil. Ini penting kalau mau masuk ke skema besar seperti pemasok MBG,” jelas Muhsin.

Dia menilai, program peternakan saat ini memiliki peluang besar karena pemerintah menyiapkan anggaran untuk menyerap produk pertanian dan peternakan. Peluang tersebut hanya bisa dimanfaatkan jika usaha dikelola secara profesional dan berorientasi bisnis.

“Memelihara ayam 10 ekor dengan 100 ekor itu tenaganya hampir sama. Yang membedakan adalah skala dan manajemennya. Ke depan, kelompok seperti ini harus mulai berpikir bertahap, dari ratusan, ribuan sampai benar-benar layak secara ekonomi,” ujarnya.

Muhsin menyatakan UGM siap mendampingi, mulai dari teknis budi daya, perencanaan usaha, hingga penyusunan proposal pengembangan agar kelompok mampu tumbuh secara mandiri.

Modal usaha

Dukungan dari sektor swasta datang melalui CSR Hotel Garrya Bianti Yogyakarta. General Manager Garrya Bianti, Ridwan Heriyadi, mengatakan pihaknya memilih memberikan bantuan dalam bentuk modal usaha, bukan bantuan tunai, agar manfaatnya lebih berkelanjutan.

“Kami ingin membantu kelompok wanita tani meningkatkan kemampuan ekonomi dengan cara yang produktif. Bukan uang, tapi modal untuk berusaha,” kata Ridwan.

Menurutnya, program ini murni pengabdian kepada masyarakat. Namun, ke depan pihak hotel juga siap menyerap hasil produksi telur dengan harga pasar yang wajar untuk kebutuhan hotel.

“Telurnya nanti bisa kami beli untuk operasional hotel. Kalau produksinya lebih, pemasaran bisa dibantu oleh UGM ke pihak lain. Ini supaya usahanya benar-benar jalan,” jelasnya.

Menjadi contoh

Ridwan berharap keberhasilan KWT Tangguh dapat menjadi contoh bagi kelompok lain di sekitar Yogyakarta, terutama yang berada dalam radius pengembangan program CSR perusahaan.

Dalam program ini, Garrya Bianti Yogyakarta mengalokasikan investasi sebesar Rp 160 juta untuk membangun ekosistem peternakan ayam yang mandiri. Dana ini dikelola sepenuhnya untuk pembangunan kandang di atas Tanah Kas Desa seluas 300 m2, pengadaan 700 ekor ayam, penyediaan pakan serta pelatihan bagi para anggota KWT.

"Program ini dirancang bukan sebagai bantuan sekali lepas, melainkan sebuah proyek jangka panjang dengan pendampingan intensif dari manajemen hotel dan PPT Fakultas Peternakan UGM," ungkapnya.

Siwi Handayani dari KWT Tangguh mengungkapkan, program ini membuka harapan baru. Selain menambah penghasilan keluarga, mereka kini melihat peluang lebih besar untuk terlibat langsung dalam penyediaan pangan bergizi bagi masyarakat, khususnya anak-anak.

"Kami mendapatkan ilmu baru dalam beternak dengan metode tanpa kandang," kata dia. (*)