Konser Kesaksian Jalanan Menandai Setengah Abad Sawung Jabo dan Sirkus Barock

Setiap konser Sirkus Barock selalu ada sesuatu yang baru.

Konser Kesaksian Jalanan Menandai Setengah Abad Sawung Jabo dan Sirkus Barock
Penampilan Sirkus Barock di sela konferensi pers di Yabbiekayu Bantul. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Jargon Jangan berhenti berkarya! bukan sekadar pesan, tapi nafas yang terus menghidupi perjalanan panjang Sawung Jabo. Hampir lima dekade musisi kelahiran Surabaya 4 Mei 1951 itu menapaki panggung musik Indonesia, menulis kisah tentang hidup, cinta dan kebebasan melalui nada-nada yang menggugah.

Bersama Sirkus Barock, grup musik yang dibentuknya sejak 1976, Jabo kini bersiap menuju tonggak setengah abad perjalanan berkarya lewat konser bertajuk Kesaksian Jalanan yang akan digelar Minggu (16/11/2025) pukul 19:30 di Graha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta.

Konser yang diinisiasi Lingkaran ACP Kreatif ini menandai perayaan 50 tahun Sirkus Barock pada Mei 2026. Kali ini, mereka memilih format akustik lewat pendekatan yang lebih hangat dan intim, mempertemukan musisi dan penonton dalam ruang spiritual yang khas: Aku Cinta Padamu (ACP), salam yang selalu menjadi penutup setiap pementasan Sirkus Barock.

“Kesaksian Jalanan itu kami siapkan bersama. Lagu-lagunya dipilih setelah ‘bertapa’ bareng Cak Jabo, lalu muncul 18 lagu yang akan dibawakan nanti,” ujar Jaka Prasetya, komandan latihan Sirkus Barock sekaligus drummer saat konferensi pers, Minggu (9/11/2025), di Yabbiekayu Bantul.

Format akustik

“Konsepnya akustik. Jadi bagaimana lagu-lagu elektrik kami ubah jadi format akustik, itu tantangan sekaligus pengalaman baru,” lanjutnya.

Latihan demi latihan dilakukan di Joglo Jago, Gono Art Studio, Sorosutan Umbulharjo Yogyakarta, setiap hari dari pukul 10:00 hingga 15:00. Di tempat itulah Jabo dan para musisi hidup, berdiskusi dan menciptakan energi yang menjadi darah bagi Sirkus Barock.

“Latihan kami bukan sekadar memainkan lagu lalu selesai. Kami bedah lagi liriknya, kami hayati peristiwanya. Karena setiap konser Sirkus Barock selalu ada sesuatu yang baru," tambah Ruben Pangingkayon, gitaris Sirkus Barock.

Bagi pemain perkusi, Denny Dumbo, konsep akustik ini justru menghidupkan esensi “kesaksian” itu sendiri. “Kami ingin memberikan gambaran utuh dari Kesaksian Jalanan. Meski sekarang banyak pengamen memakai alat elektrik, kami kembali ke akustik. Lebih jujur, lebih manusiawi,” katanya.

Tafsir perjalanan

Nama-nama legendaris turut mengisi formasi. Mereka adalah Sawung Jabo, Suzan Piper, Toto Tewel, Rere Grass Rock, Ucok Hutabarat, Kasinungan Hanggarjito, Denny Dumbo, Ruben Kayon, Jaka Prasetya dan Sandrina Malakiano.

Mereka akan menafsirkan kembali perjalanan Sirkus Barock sejak album perdana Anak Setan (1986) hingga karya terbaru, termasuk lagu-lagu era Swami, band yang Jabo dirikan bersama Iwan Fals pada 1989.

“Saya bergabung sejak 1978. Bagi saya, kembali ke Jogja seperti pulang ke rumah,” ujar Suzan Piper, vokalis sekaligus istri Jabo.

“Dari sini semuanya dimulai, dan rumah yang sekarang menjadi "Joglo Jabo" menjadi ruang hidup Sirkus Barock sampai sekarang," tambahnya.

Tahun 1976

Dari Yogyakarta, Jabo memulai segalanya. Tahun 1976, dia mendirikan grup Barock bersama mahasiswa Akademi Musik Indonesia (AMI) dan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) serta komunitas KAAS (Keluarga Arek-arek Surabaya).

Mereka tampil di berbagai tempat termasuk Purna Budaya UGM, sebelum akhirnya hijrah ke Jakarta dan mengukir sejarah panjang di Taman Ismail Marzuki lewat konser-konser tahunan yang berlangsung hampir satu dekade.

Kini, menjelang setengah abad perjalanan itu, Sirkus Barock tetap setia pada semangat awal menjadikan musik sebagai kesaksian hidup.

“Mas Jabo itu energi yang tak pernah padam,” kata Agus ‘Dayak’ Imron, sahabat lama sekaligus seniman Yogyakarta.

Tak berhenti

“Beliau selalu memberi inspirasi, membangun semangat bagi seniman muda. Bagi kami, Jabo adalah ‘kitab rujukan hidup’. Energinya tidak boleh mati," kata dia.

Sawung Jabo tetap teguh dengan api yang sama sejak 1976. Musik adalah kesaksian, dan hidup adalah panggung yang tak pernah berhenti. (*)