Minggu, 17 Okt 2021,


komunitas-budaya-berusia-ratusan-tahun-meriahkan-selasa-wagePenampilan barongsai Hoo Hap Hwee berkolaborasi dengan komunitas barongsai kota yogyakarta saat tampil menghibur warga Yogyakarta di Gapura Ketandan, Malioboro, Selasa (27/8/2019) petang. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


ronnee
Komunitas Budaya Berusia Ratusan Tahun Meriahkan Selasa Wage

SHARE

KORANBERNAS.ID -- Setiap 35 hari sekali, kawasan Malioboro bebas dari pedagang asongan dan penjual kaki lima, sementara ruas jalan yang membelah pusat kota Yogyakarta itu juga tidak boleh dilintasi oleh kendaraan bermotor sejak pukul 06:00 - 21:00 WIB kecuali angkutan umum Trans Jogja.

Ritual yang dalam penanggalan Jawa berarti pasaran atau 35 hari sekali ini memberikan ruang bagi seluruh pegiat budaya, musisi, dan seniman pertunjukan untuk mengekpresikan diri dirus-ruas jalan sepanjang Malioboro.

Salah satu pertunjukan yang memikat pengunjung malioboro adalah pertunjukan Liong barongsai. Naga sepanjang 25 meter milik komunitas Barongsai kota Yogyakarta ikut memeriahkan tradisi Selasa Wage. Dibawah Perkumpulan Tradisional Kebudayaan Tionghoa Hoo Hap Hwee, eksis di Yogyakarta sejak tahun 1900an.

Perkumpulan yang minggu lalu merayakan ulang tahun ke 102, Hoo Hap Hwee memiliki lebih dari 500 anggota diluar simpatisan yang tersebar diseluruh Indonesia dengan latar Agama, etnis dan profesi yang beragam.

Ernest Lianggar Kurniawan, selaku koordinator performance, Selasa (27/8/2019) petang menyampaikan, ini adalah kali kedua mereka menggelar pertunjukan barongsai dalam acara Selasa Wage. Minggu ini, menurutnya lebih banyak komunitas Barongsai yang terlibat.

"Jika selasa wage bulan lalu kami tampil hanya dari hoo hap hwee, kali ini ada tambahan beberapa komunitas barongsai yang ikut terlibat. setidaknya ada perwakilan dari 11 kelompok barongsai kota yogyakarta," papar pria yang juga Wakil Ketua Federasi Olahraga Barongsai Indonesia ini.

Ernest menambahkan, pemilihan bermain di gapura Keandan ini adalah bentuk akulturasi budaya Tionghoa dengan kota Yogyakarta. "Dulu daerah ketandan merupakan pecinan, barongsai banyak dimainkan disini, khusus untuk kaum tionghoa saja. tapi kini, akulturasi budaya membuat barongsai memiliki daya tarik yang kuat bagi wisatawan," lanjutnya.

"Itu terbukti dalam setiap pekan budaya tionghoa yang diselenggarakan, barongsai merupakan pertunjukan yang banyak dinanti-nanti oleh masyarakat umum," imbuhnya.

Khusus pertunjukan selasa wage kali ini, Ernest bersama komunitas barongsai tampil tanpa henti dari pukul 15:00 hingga 18:00 WIB. Hari ini lanjut Ernest, Penonton yang hadir jauh lebih banyak, lebih dari tiga kali lipat. bahkan sampai tumpah kejalan dan membuat bus Trans Jogja kesulitan saat melintas. (yve)


TAGS:

SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini