Kisah Elita Yunanda, dari Rumah Berdinding Bambu di Jogja ke Columbia University New York

Di keluarga besar saya, saya yang pertama bisa menginjakkan kaki di luar negeri melalui pendidikan.

Kisah Elita Yunanda, dari Rumah Berdinding Bambu di Jogja ke Columbia University New York
Elita Yunanda, perempuan asal Yogyakarta yang sukses berkarier di AS. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Elita Yunanda menorehkan prestasi yang menginspirasi banyak orang. Perempuan kelahiran 14 September 1990 itu berhasil meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan diterima di enam kampus ternama dunia.

Kini, dia resmi menjadi mahasiswa program magister Master of Public Administration in Development Practice (MPA-DP) di Columbia University, New York Amerika Serikat.

Keberhasilan ini tidak diraih dengan jalan yang mulus. Perempuan 35 tahun ini lahir sebagai anak pertama dari dua bersaudara di keluarga sederhana. Masa kecilnya dihabiskan di rumah berdinding bambu di sebuah kampung padat penduduk di jantung Kota Yogyakarta.

Orang tuanya hanya berpendidikan sekolah dasar dan menengah pertama. Namun, keterbatasan tidak menghalangi tekadnya untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.

Rantai kemiskinan

“Di keluarga besar saya, saya yang pertama bisa menginjakkan kaki di luar negeri melalui pendidikan. Tujuan saya cuma satu, ingin memutus rantai kemiskinan dan mengangkat derajat orang tua,” ujar Elita melalui keterangan tertulisnya, Senin (15/9/2025).

Sejak kecil, Elita selalu berprestasi. Hampir di setiap jenjang mendapatkan beasiswa dari pemerintah, swasta maupun individu. Kecerdasan di atas rata-rata membuatnya menonjol di lingkungan tempat tinggalnya.

Namun, mimpi kuliah di luar negeri baru bisa diwujudkan setelah lebih dari sepuluh tahun tertunda. “Saya ingin membantu perekonomian keluarga terlebih dahulu dan membiayai adik agar bisa lulus sarjana,” ujarnya.

Setelah meraih gelar Sarjana Hubungan Internasional di UPN Veteran Yogyakarta pada 2013, Elita bekerja serabutan di Yogyakarta sebagai karyawan event organizer dan konsultan PR.

Karier profesional

Dia kemudian hijrah ke Jakarta, mengembangkan karier profesionalnya. Antara 2017-2021, ia menjabat sebagai Senior Communication and Public Relations di British Council.

Selanjutnya, dipercaya menjadi Communication and Event Expert di proyek kerja sama ASEAN dengan Uni Eropa (2021–2025). Bahkan hingga 2025, dia masih terlibat dalam proyek regional PBB dan Bank Dunia terkait penanganan sampah plastik laut di Asia Tenggara.

Selama perjalanan itu, Elita tetap mempersiapkan diri. Dia mengikuti kursus statistik, mikroekonomi dan makroekonomi di Universitas Indonesia sepanjang 2022-2023 agar lebih siap menempuh studi lintas disiplin.

“Kursus itu gratis. Sebenarnya saya sudah diterima LPDP tahun 2023, tapi karena pekerjaan, saya menundanya. Untungnya LPDP memberi dispensasi 18 bulan,” ujarnya.

Lebih aplikatif

Selain Columbia, Elita juga diterima di New York University, London School of Economics (LSE), University of Bristol, University of Glasgow, dan Erasmus Mundus Master’s in Public Policy.

Dia memilih Columbia University karena kurikulumnya lebih aplikatif dalam bidang administrasi publik untuk pembangunan berkelanjutan. “Selain itu, peluangnya lebih besar karena New York menjadi pusat PBB dan World Bank,” katanya.

Bagi Elita, usia bukan hambatan. Meski baru bisa berangkat kuliah magister di usia 35 tahun, ia merasa pencapaian itu tetap berarti. “Tidak ada kata terlambat menggapai mimpi, terutama untuk pendidikan,” ujar mantan Dimas Diajeng Jogja 2013 dan finalis Duta Wisata Indonesia 2015 ini.

Elita sadar, ia bukan berasal dari keluarga dengan privilese akademik maupun finansial. Jalannya hanya satu yaitu beasiswa. Dari titik itu, dia ingin memberi manfaat yang lebih luas bagi anak bangsa. Selepas lulus, bercita-cita merumuskan kebijakan yang menyoroti diaspora, pemuda dan pekerja profesional Indonesia di luar negeri.

“Prestasi ini bukan hanya untuk saya pribadi. Saya ingin membuktikan bahwa dengan tekad kuat, mimpi sebesar apapun bisa dicapai. Saya ingin pengalaman ini memberi harapan bagi anak-anak Indonesia yang lahir dari keluarga sederhana, bahwa pendidikan bisa memutus rantai kemiskinan,” ungkapnya. (*)