Dari Kampus ke Kampung, Gerakan Mahasiswa Unisa Mengatasi Sampah

Dari total sampah nasional, hampir separuhnya sisa makanan. Dampaknya besar bagi lingkungan.

Dari Kampus ke Kampung, Gerakan Mahasiswa Unisa Mengatasi Sampah

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Suasana halaman kampus Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta pagi itu tampak berbeda. Ratusan mahasiswa baru berkumpul, sebagian mengikuti simulasi sederhana tentang bagaimana sisa makanan dapat diubah menjadi pupuk.

“Ini adalah bentuk kepedulian sosial sekaligus kepedulian lingkungan. Sampah bukan persoalan sepele. Dari total sampah nasional, hampir separuhnya adalah sisa makanan. Dampaknya besar bagi lingkungan,” ujar Dr Warsiti, S Kp M Kep Sp Mat, Rektor UNISA, Minggu (14/9/2025).

Dia menyatakan gerakan ini bukan sekadar penyuluhan melainkan langkah awal mahasiswa menjadi pelopor perubahan perilaku di masyarakat.

“Dengan langkah sederhana pagi ini, masalah sampah diharapkan bisa dikurangi, terutama sampah rumah tangga, sehingga dapat meringankan beban petugas kebersihan,” tambahnya.

Inovasi sederhana

Program ini diprakarsai mahasiswa baru 2025, bekerja sama dengan masyarakat sekitar. Salah satu inovasi yang dikenalkan adalah Losida (Lodong Sisa Dapur), sebuah lodong sederhana yang ditanam di tanah untuk menampung sisa makanan. Seiring waktu, sampah organik di dalamnya akan terurai dan berubah menjadi pupuk alami bagi tanaman sekitar.

Selain Losida, mahasiswa juga mengenalkan ember tumpuk, wadah sederhana yang digunakan untuk menampung sisa makanan tanpa menimbulkan bau. Dari ember ini akan keluar cairan lindi yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk cair. Beberapa dosen UNISA bahkan sudah menerapkan metode ini di rumah masing-masing.

Gerakan mahasiswa UNISA ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni. Warsiti menegaskan pentingnya tindak lanjut dan keberlanjutan di masyarakat. “Kegiatan ini menjadi awal bagaimana mahasiswa bisa menjadi pelopor dalam perilaku masyarakat yang lebih peduli lingkungan,” ucapnya.

“Kalau sampah organik sebenarnya lebih mudah dikelola. Sayangnya, sering dianggap sepele. Padahal kalau dikelola, hasilnya bisa bermanfaat,” lanjutnya.

Mahasiswa baru

Program ini melibatkan sekitar 2.500 mahasiswa baru. Dari jumlah itu, 500 mahasiswa program profesi sebelumnya juga sudah mengikuti kegiatan serupa.

Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara kampus dan warga. Saiful Kurob, Kepala Dusun Pundung, menilai program ini sejalan dengan upaya masyarakat dalam mengurangi timbunan sampah rumah tangga.

“Walaupun ada petugas sampah dari iuran warga, program Losida ini memberikan edukasi. Harapannya, nanti setiap RT bisa punya Losida, bahkan idealnya tiga rumah satu Losida,” ungkap Saiful.

Selain Losida, di wilayahnya juga sudah berjalan program Rumah Botol dan Sedekah Sampah. Rumah Botol mendorong mahasiswa kos di sekitar kampung mengumpulkan botol plastik untuk dijual kembali, sementara Sedekah Sampah digerakkan lewat masjid untuk mengelola sampah daur ulang dan hasilnya dimanfaatkan bersama.

Pola pikir

Sementara itu, Solikin Nur Cahyo, perwakilan warga, mengingatkan tantangan terbesar justru ada pada pola pikir masyarakat.

“Yang paling sulit adalah membiasakan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah tangga. Banyak yang merasa sudah bayar iuran sampah, jadi tidak mau repot. Mindset ini yang harus diubah,” tandasnya. (*)