Kiai Merah Menikahkan Putrinya dengan Mahar Kendaraan Truk Tempur

Karena aku bangga anakku hafal Al Quran 30 juz dan kitab Alfiyah. Menantuku juga hafal Al Quran. 

Kiai Merah Menikahkan Putrinya dengan Mahar Kendaraan Truk Tempur
Kedua mempelai bersama Kiai Merah dan keluarga berfoto di depan mahar berupa kendaraan truk tempur jenis Hino. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Kiai Muhammad Eddy Suryanto atau yang akrab disapa Kiai Merah menikahkan putrinya dengan mahar kendaraan truk tempur jenis Hino. Maratus Sofiah, putri dari Kiai Merah dan almarhumah Dwi Siwi Yulianti itu dipersunting oleh Muhammad Nadhif, putra dari pasangan Abdul Latif dan Asiyah.

Pernikahan tersebut membuat suasana Dusun Krajan Kelurahan Kedungsari Kabupaten Purworejo, Minggu (25/1/2026), tampak berbeda dari biasanya. Ratusan tamu dari berbagai daerah di Indonesia memadati lokasi pengajian akbar dan resepsi pernikahan.

Bukan hanya kemeriahan acara yang menyita perhatian, tetapi juga mahar pernikahan yang terbilang unik dan tak lazim. Acara walimatul ursy dikemas dalam pengajian akbar yang sarat nilai religius dan pesan kebangsaan.

Keunikan mahar berupa kendaraan tempur ini langsung menjadi perbincangan publik. Bagi Kiai Merah, mahar tersebut bukan soal nilai materi melainkan makna di baliknya jauh lebih dalam.

Hafal Al Quran

“Aku sebenarnya bukan ke arah nilai mobilnya tapi karena aku bangga anakku hafal Al Quran 30 juz dan kitab Alfiyah. Menantuku juga hafal Al Quran. Mahar ini biar unik dan sebagai bukti rasa cinta serta kesungguhan menantuku kepada putriku,” ujar Kiai Merah.

Dia menjelaskan, truk tempur tersebut memiliki nilai historis dan menjadi simbol perjuangan, keteguhan serta kesiapan menapaki kehidupan rumah tangga dengan penuh tanggung jawab. Permintaan mahar itu pun disanggupi sang menantu dengan penuh keikhlasan.

Sedangkan pengajian akbar ini dihadiri sejumlah tokoh nasional dan ulama di antaranya KH Agus Sahnun Thoifur selaku Pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhid Kedungsari, yang menyampaikan tausiyah penuh makna tentang istiqomah, andhap asor dan pentingnya perjuangan dalam kehidupan.

Hadir pula Brigjen Pol (Purn) Drs Erwin Chahara Rusmana M Hum sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan, yang memberikan pesan agar para santri dan ulama turut mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jejaring dakwah

Selain itu, sejumlah kiai dari luar kota, para habaib, tokoh masyarakat hingga komunitas turut menghadiri acara sakral tersebut. Kedatangan mereka menambah kekhidmatan sekaligus menunjukkan kuatnya jejaring dakwah dan sosial.

Kiai Merah berpesan kepada kedua mempelai senantiasa berpegang pada ilmu dan nilai yang diperoleh selama mondok. “Melangkah ke depan itu harus hati-hati, tetap di rel yang sudah didapat dari para guru, kiai, habaib dan ulama. Jangan lelah berjuang, terus amar ma’ruf nahi munkar,” pesannya.

Sementara itu, ibu dari mempelai Wanita, Umi Suci, yang juga dikenal sebagai owner DIAKU Production menyampaikan harapan agar rumah tangga kedua mempelai menjadi keluarga yang penuh keberkahan.

“Sebagai orang tua tentu berharap yang terbaik. Jangan putus berdoa, terus ikhtiar dan mengamalkan ilmu dari pondok. Semoga berkah dunia dan akhirat,” ujarnya.

Usaha sosial

Umi Suci menjelaskan seluruh rangkaian acara mulai dari katering, media hingga live streaming, dikelola oleh manajemen DIAKU Production yang berada di bawah naungan usaha sosial dan dakwah Pondok Pesantren Nurul Qodiri.

Selama lebih dari dua tahun berjalan, lembaga tersebut aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, sosial hingga pemberdayaan ekonomi umat. Pernikahan putri Kiai Merah ini bukan sekadar peristiwa keluarga melainkan menjadi simbol perpaduan antara ilmu, iman, cinta dan perjuangan.

Mahar truk tempur yang unik pun menjadi pengingat, pernikahan adalah medan juang suci yang harus dijalani dengan kesungguhan, keteguhan hati dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para guru. (*)