Ketika Panggung Seni Jadi Ruang Belajar dan Persaudaraan
Beberapa hari menjelang pembukaan, sejumlah band dari lingkungan sekolah mendadak batal tampil.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Sore itu, Warung Kopi DST di Ngestiharjo Kasihan Bantul tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara aroma kopi, tanah dan dedaunan yang menguar berpadu dengan cahaya lampu yang hangat, dentuman musik berpadu dengan tepuk tangan penonton.
Di halaman, beberapa siswa sibuk mengatur giliran tampil, sementara lainnya berlarian membawa kabel dan mikrofon. Pameran seni bertajuk Unity in Diversity sedang mencapai puncaknya.
Acara yang digagas siswa Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta ini bukan sekadar ajang pamer karya tetapi menjelma menjadi perayaan keberagaman, kolaborasi dan ketulusan anak muda yang belajar menghadapi dinamika di balik panggung.
“Luar biasa, ya. Banyak hal terjadi, bahkan ada yang berubah secara spontan. Tapi kami saling bantu dan akhirnya semua berjalan lancar,” ujar Banyu Risti Harimurti, ketua panitia yang kini duduk di kelas XII SMA Salam, saat ditemui di sela penutupan pameran, Minggu (26/10/2025).
Sri Wahyaningsih, pendiri sekaligus pembina Sanggar Anak Alam. (anggarakzza rayyi untuk koranbernas.id)
Banyu berbicara dengan nafas lega. Matanya masih berbinar. Selama sepekan lebih, dia dan teman-temannya bekerja keras memastikan acara berjalan tanpa hambatan, meski kenyataannya tak sesederhana itu.
Beberapa hari menjelang pembukaan, sejumlah band dari lingkungan sekolah mendadak batal tampil. Situasi itu sempat membuat panitia agak panik. Namun, alih-alih menyerah, mereka memutuskan membuka ruang bagi musisi dari luar komunitas Salam.
“Tiga hari sebelum acara, beberapa band dari Salam batal tampil. Akhirnya kami ajak teman-teman dari luar. Ada empat band yang dihubungi, dua di antaranya langsung tertarik dan mau main,” cerita Banyu.
Dari keputusan mendadak itu, lahirlah kolaborasi yang tak terduga. Dua band independen Bareface, Bye Bye Honey turut meramaikan panggung Unity in Diversity melengkapi penampilan The Jenar, Jamband dan Mimicry. Mereka datang bukan sebagai tamu tapi sebagai bagian dari semangat yang sama: berkarya bersama tanpa sekat.
Manajemen waktu
Di balik gemerlap panggung kecil itu, panitia merasakan pengalaman berharga. Banyu menyebutkan pameran ini bukan hanya soal seni, tapi juga soal manajemen waktu, komunikasi dan tanggung jawab.
Meski masih diwarnai kekurangan, semangat yang mengikat para peserta justru terasa kuat. Pengunjung datang bukan sekadar menikmati karya, tapi juga menyaksikan proses tumbuh bersama. Tak sedikit dari mereka yang mengusulkan agar Unity in Diversity dijadikan acara tahunan.
“Sudah banyak pembahasan kecil. Banyak yang bilang bagus kalau dibuat setahun sekali, jadi acara rutin,” ungkap Banyu.
Namun bagi siswa kelas akhir seperti dirinya, keberhasilan ini membawa makna lain: tentang regenerasi dan keberlanjutan. “Aku pengin ada yang melanjutkan. Biar orang-orang tahu kalau kegiatan seperti ini bisa terus hidup di Salam,” ujarnya pelan.
Regenerasi dan harapan
Menjelang malam, ketika satu per satu lampu panggung mulai dipadamkan, para siswa masih sibuk membereskan alat musik dan karya seni. Beberapa terlihat berfoto bersama, sebagian lagi membersihkan meja dan kursi, tertawa sambil bercerita tentang momen-momen yang tak terlupakan.
Bagi mereka, Unity in Diversity bukan sekadar tema pameran melainkan pengalaman nyata tentang bagaimana keberagaman justru memperkuat ikatan.
Di saat dunia pendidikan yang sering diukur dengan angka, anak-anak Salam memilih jalan lain: belajar dari kerja bersama, dari seni dan dari keberanian menghadapi ketidaksempurnaan.
“Semangat, jangan mudah terpengaruh omongan orang. Kalau mau bikin acara seperti ini, percaya saja sama diri sendiri, pasti bisa,” pesan Banyu kepada adik-adik kelasnya.
Di balik panggung
Pesan sederhana itu seolah menutup pameran dengan makna mendalam. Sebab di balik panggung kecil yang mereka bangun dengan tangan sendiri, tumbuh keyakinan bahwa keberagaman bukan sekadar konsep — melainkan ruang belajar yang hidup, hangat dan terus bertumbuh.
Sri Wahyaningsih, pendiri sekaligus pembina Sanggar Anak Alam (SALAM), menyampaikan apresiasi di depan siswa dan orang tua yang hadir. “Saya mengapresiasi apa yang sudah dilakukan teman-teman Salam. Ini bukan sekadar pameran, tapi wujud kebersamaan dan proses belajar bersama,” ujarnya.
Wahya mengenang bahwa beberapa tahun lalu kegiatan serupa juga pernah digelar, melibatkan kolaborasi antara orang tua dan anak-anak. Baginya, kegiatan seperti Unity in Diversity menjadi cermin bahwa pendidikan di Salam bukan hanya tentang akademik, melainkan juga kehidupan.
“Di Salam, pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya itu sudah mendarah daging. Dalam situasi pameran ini pun kita mengedepankan itu,” katanya.
Muhammad Zukhronnee Muslim
