Kemenko PMK dan TWC Gembleng 10 Sekolah Tangguh Bencana di Sleman

Kemenko PMK bersama PT TWC memperkuat mitigasi bencana di kawasan rawan Sesar Opak melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada 10 sekolah di Sleman. Langkah ini menjadi refleksi 20 tahun Gempa Jogja guna mencetak generasi muda yang tangguh, sigap, dan sadar risiko bencana

Kemenko PMK dan TWC Gembleng 10 Sekolah Tangguh Bencana di Sleman
Puluhan siswa SMAN 1 Kalasan mengikuti pelatihan kebencanaan, Jumat (22/5/2026). (istimewa)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN--Dua dekade pasca tragedi gempa bumi 2006, ikhtiar kolektif untuk melahirkan generasi yang akrab dengan mitigasi terus diakselerasi. Kali ini, episentrum edukasi kebencanaan diarahkan langsung ke lingkungan pendidikan yang berada di zona sepanjang jalur aktif Sesar Opak di Yogyakarta. 

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWC) mengambil langkah taktis dengan menggulirkan program penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bagi 10 sekolah pionir di wilayah tersebut.

Program ini didesain sebagai instrumen mutakhir untuk membangun sistem kesiapsiagaan yang terintegrasi di sekolah. Bukan sekadar seremonial di atas kertas, SPAB mengintegrasikan pemahaman mitigasi struktur, simulasi evakuasi mandiri, hingga pembentukan budaya sadar risiko yang melekat dalam aktivitas belajar sehari-hari.

“Penguatan ini dilakukan melalui pendekatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Sekolah didorong untuk tidak hanya memiliki kesiapsiagaan menghadapi bencana, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, tangguh, dan berkelanjutan,” tegas Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, saat meninjau langsung implementasi program di SMA Negeri 1 Kalasan, Sleman, Jumat (22/5/2026).

Garda Depan Mitigasi dan Lahirnya Agen Muda SPAB

Langkah konkret di kawasan Sesar Opak ini menjadi bagian dari refleksi mendalam dua dekade Gempa Jogja. Momentum bersejarah ini dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong sekaligus meningkatkan kewaspadaan publik terhadap potensi ancaman tektonik di masa depan.

Penyelenggaraan kegiatan di lapangan berlangsung dinamis dan partisipatif. Rangkaian acara diawali dengan penampilan seni teatrikal dari siswa, disusul simulasi kedaruratan saat gempa melanda, hingga ruang dialog interaktif yang mengupas tuntas strategi mitigasi evakuasi serta manajemen penanganan darurat di lingkungan sekolah.

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, yang turut hadir dalam forum tersebut menegaskan bahwa institusi pendidikan harus diposisikan sebagai garda depan edukasi kebencanaan nasional. Menurutnya, pemahaman mengenai risiko tidak boleh hanya menjadi suplemen hafalan, melainkan wajib menjadi bagian dari kultur dan perilaku hidup harian siswa serta tenaga pendidik.

“Sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk budaya aman bencana. Upaya mitigasi dan kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari proses pembelajaran dan kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah,” ujar Lilik.

Apresiasi Pentahelix dan Penobatan Dimas Diajeng SPAB

Guna merawat keberlanjutan program, agenda ini juga diisi dengan pemberian apresiasi tinggi kepada sejumlah elemen pentahelix yang konsisten berkontribusi dalam penguatan SPAB di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penghargaan diberikan secara berjenjang mulai dari instansi pemerintah daerah, pihak sekolah yang adaptif, hingga mitra relawan kebencanaan sipil.

Menariknya, regenerasi aktor mitigasi ditandai dengan penganugerahan gelar Dimas dan Diajeng SPAB kepada perwakilan siswa yang aktif mengampanyekan gerakan kesiapsiagaan. Atribut kebudayaan lokal ini bertransformasi menjadi simbol kepedulian generasi muda lintas sekolah terhadap keselamatan lingkungan komunal mereka.

Melalui sinergi terstruktur antara Kemenko PMK, TWC, dan komunitas sekolah ini, pemerintah memproyeksikan pengalaman empiris gempa masa lalu tidak lagi menjadi memori traumatik yang pasif. Sebaliknya, catatan sejarah tersebut diubah menjadi fondasi kuat untuk mencetak masyarakat Sleman dan Yogyakarta yang jauh lebih siap, sigap, dan tangguh menghadapi dinamika alam di masa mendatang. (*)