Kalis Mardiasih Menulis tentang Luka yang Diwariskan Keluarga

Cetakan pertama 2.000 eksemplar habis terjual sebelum peluncuran resmi.

Kalis Mardiasih Menulis tentang Luka yang Diwariskan Keluarga
Kalis Mardiasih, aktivis dan kolumnis yang selama ini dikenal lewat tulisan-tulisan esainya meluncurkan buku fiksi Makamkan Ibu di Samping Ayah. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat pulang yang menenangkan. Namun bagi sebagian lainnya, rumah justru menjadi ruang pertama tempat luka tumbuh.

Luka itu mungkin tidak terlihat atau meninggalkan bekas fisik tetapi terus terbawa hingga dewasa dan mempengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri, keluarga bahkan kehidupan.

Realitas itulah yang coba diangkat Kalis Mardiasih melalui novel debutnya, Makamkan Ibu di Samping Ayah. Aktivis dan kolumnis yang selama ini dikenal lewat tulisan-tulisan esainya tersebut memilih jalur fiksi untuk membicarakan persoalan yang kerap dianggap terlalu pribadi untuk diungkap yaitu luka yang diwariskan keluarga, perceraian dan hubungan orang tua-anak yang tidak selalu baik-baik saja.

Kisah novel ini berawal dari sebuah wasiat yang mengusik. Seorang ibu yang sedang menghadapi ajal meminta dimakamkan di samping mantan suaminya, pria yang pernah meninggalkan keluarga dan membangun kehidupan baru bersama perempuan lain.

Sudut pandang

Permintaan terakhir itu menjadi pintu masuk bagi tiga bersaudara, Aji, Vikra dan Lini, untuk kembali menelusuri masa lalu keluarga mereka. Ada kemarahan yang belum selesai. Ada pertanyaan yang tak pernah terjawab. Ada pula kenangan yang selama bertahun-tahun sengaja dikubur.

Melalui enam sudut pandang tokoh, Kalis membuat gambaran setiap anggota keluarga menyimpan luka dan kebenarannya sendiri. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya menjadi korban, tetapi tidak ada pula yang benar-benar bersalah.

"Tiga orang bersaudara, walaupun lahir dari rahim yang sama, selalu punya cara pandang yang sangat berbeda terhadap orang tua dan keluarganya," kata Kalis saat bertemu awak media, Minggu (21/6/2026).

Perbedaan pengalaman itulah yang menurutnya sering kali menciptakan jarak, bahkan di antara orang-orang yang tinggal di bawah atap yang sama.

Dianggap tabu

Novel ini juga berbicara tentang pengalaman anak-anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai. Sebuah tema yang dekat dengan kehidupan banyak orang, tetapi masih sering dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka.

Menurut Kalis, luka akibat konflik keluarga sering kali tidak tampak dari luar. Mereka yang mengalaminya tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa, meski menyimpan beban emosional yang berat.

"Orang dengan luka keluarga atau perceraian itu tetap bekerja, tetap sekolah, dan main seperti biasa karena kehidupan tidak memberikan kita jeda. Banyak dari kita yang kelihatannya biasa saja, tapi sebenarnya memikul muatan emosional yang sangat berat di pundaknya," ujarnya.

Menariknya, ide novel ini lahir dari fenomena yang marak di sosial media. Sekitar dua tahun lalu, istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD) ramai digunakan pengguna TikTok dan Instagram untuk menjelaskan perilaku orang tua maupun pasangan mereka.

Kesehatan mental

Rasa ingin tahu terhadap fenomena tersebut mendorong Kalis melakukan riset melalui berbagai podcast kesehatan mental, penjelasan para psikiater hingga ribuan cerita yang dibagikan warganet di kolom komentar.

Dari sana dia menemukan satu benang merah. Banyak orang tumbuh dalam keluarga yang menyimpan konflik tetapi tidak memiliki ruang aman untuk membicarakannya.

Berbeda dari enam buku sebelumnya yang berupa kumpulan esai, Makamkan Ibu di Samping Ayah ditulis dengan gaya fiksi populer agar lebih mudah diakses pembaca muda.

Respons publik pun terbilang tinggi. Penerbit Shira Media mencatat cetakan pertama sebanyak 2.000 eksemplar habis terjual sebelum peluncuran resmi buku dilakukan.

Isu berat

Tingginya antusiasme pembaca, menurut Puput Alvia selaku perwakilan Shira Media menunjukkan isu keluarga dan luka emosional masih menjadi persoalan yang relevan di tengah masyarakat.

"Tema keluarga itu ternyata dekat sekali dengan kehidupan banyak orang. Ketika novel ini mulai diperkenalkan, respons pembaca sangat baik karena mereka merasa ceritanya relate dengan pengalaman pribadi maupun orang-orang di sekitar mereka," ujar Puput.

Dia mengungkapkan, saat ini penerbit sedang menyiapkan cetakan kedua untuk memenuhi permintaan pasar. Menurut Puput, salah satu kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya mengolah isu yang berat dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

Karena itu, pembaca tidak hanya diajak mengikuti konflik para tokohnya, tetapi juga merefleksikan pengalaman mereka sendiri dalam keluarga. (*)