Jejak 71 Tahun Grego Julius, dari Pebisnis di Klaten ke Panggung Orkestra

Salah satu titik balik terpenting justru terjadi saat mengalami depresi berat selama tiga bulan.

Jejak 71 Tahun Grego Julius, dari Pebisnis di Klaten ke Panggung Orkestra
Konser Doa dan Syukur di USD, Sabtu (18/10/2025) malam. (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Pada usia yang bagi sebagian orang mungkin dihabiskan untuk beristirahat dari hiruk-pikuk dunia, Grego Julius justru menemukan energi baru untuk berkarya.

Pria kelahiran Klaten yang kini berusia 71 tahun itu menapaki babak baru dalam hidupnya menjadi komponis, penulis lagu dan konduktor orkestra yang menyalurkan spiritualitas lewat musik.

Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Sabtu (18/10/2025) sore, menjadi saksi sekaligus jejak perjalanan panjang Grego dalam konser bertajuk Doa dan Syukur.

Bersama orkestra binaannya, Grego Julius Orchestra, dipersembahkan 22 lagu ciptaannya sendiri. Setiap nada dan liriknya adalah potongan kisah hidup yang telah dilalui selama tujuh dekade lebih.

Rasa syukur

“Ini bukan sekadar konser, tapi perwujudan doa. Musik bagi saya adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan,” ujar Grego sebelum naik panggung.

Sebelum dikenal sebagai musisi orkestra, Grego Julius adalah Edi Widianto, seorang pengusaha asal Klaten yang sukses di bidang perdagangan dan manufaktur. Selama puluhan tahun dia hidup di dunia bisnis yang dikelilingi target, keuntungan dan kesibukan yang nyaris tak memberi ruang untuk refleksi.

Seiring waktu, Grego merasakan dorongan batin yang kuat untuk kembali ke hal yang lebih mendasar yaitu hubungan pribadi dengan Tuhan. Musik, yang sejak muda dia cintai menjadi jalan pulang spiritualnya.

Sekitar tahun 2000, Grego mulai menulis lagu-lagu rohani sederhana. Awalnya hanya untuk dinyanyikan dalam lingkup kecil di gereja atau keluarga. Seiring berjalannya waktu, musik itu tumbuh menjadi bentuk ekspresi penuh, sebuah sarana doa dan kontemplasi yang melampaui sekat agama.

Titik balik

“Kalau di lagu saya disebut ‘Yesus’, bisa diganti dengan ‘Allah’. Yang penting bukan nama, tapi isi doa dan rasa syukurnya,” ungkapnya.

Perjalanan Grego tidak selalu mulus. Dalam pengakuannya, salah satu titik balik terpenting justru terjadi saat mengalami depresi berat selama tiga bulan. Saat pengobatan medis tak membawa hasil, dia beralih pada perenungan dan doa.

Dari pengalaman itu tercipta lagu Aku Mohon Ampun, salah satu karya paling personal yang dibawakan malam itu. “Waktu itu saya merasa kehilangan arah. Lewat lagu itu saya belajar memohon ampun dan berserah. Ajaibnya, setelah saya menulis dan menyanyikannya, hati saya tenang dan saya sembuh,” ujarnya.

Musik bagi Grego bukan lagi hiburan melainkan terapi spiritual. Setiap lirik yang ditulis adalah bentuk percakapan dengan Tuhan. Setiap harmoni adalah cerminan perjalanan batin seorang manusia yang terus mencari makna hidup di tengah usia senja.

Lintas generasi

Konser kali ini menjadi puncak perjalanan Grego Julius sebagai seorang musisi rohani. Dengan dukungan puluhan pemain orkestra lintas generasi, dia membawakan lagu-lagu yang memadukan genre pop, klasik, jazz hingga Latin.

Dari 22 lagu yang dimainkan, dua di antaranya memiliki kisah pribadi mendalam. Selain Aku Mohon Ampun, ada lagu yang ditulis ketika keempat anaknya berpamitan menikah.

“Saya paling terharu saat mereka sungkem minta restu. Rumah jadi sepi, tinggal saya dan istri. Dari perasaan itu lahir lagu yang sangat personal,” katanya.

Di balik aransemen megah dan tata panggung yang elegan, konser itu terasa intim. Setiap nada seperti mengundang penonton untuk ikut berdoa, merenung, dan mensyukuri hidup.

Ruang refleksi

Konser Doa dan Syukur bukan yang pertama bagi Grego Julius. Ini merupakan konser keempat bersama orkestra yang dia dirikan. Persiapannya memakan waktu empat bulan, melibatkan musisi muda dan senior dari berbagai kota.

Grego berharap, konser ini dapat menjadi agenda tahunan yang tak hanya menampilkan musik rohani, tetapi juga menjadi ruang refleksi lintas iman. “Musik itu bahasa universal. Lewat lagu, saya ingin mengajak siapa pun apa pun agamanya untuk berdoa dan bersyukur,” katanya.

Pada usia 71 tahun, Grego Julius membuktikan bahwa hidup tak berhenti di angka. Dari pebisnis yang sibuk di duniawi, dia bertransformasi menjadi musisi orkestra yang memaknai hidup melalui doa dan harmoni. Perjalanannya adalah bukti bahwa setiap manusia memiliki kesempatan kedua untuk menemukan panggilan sejati bahkan di usia yang tak muda lagi. (*)