Waspada Jebakan “Post-Truth”, Kemkomdigi Ajak Warga Jogja Jadi Produsen Konten Positif
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 menempatkan DIY di peringkat kedua nasional untuk penetrasi internet (91,18%), namun capaian ini dibayangi oleh indeks literasi digital yang justru masih rendah.
KORANBERNAS.ID, JAKARTA--Di balik statusnya sebagai salah satu kota paling terkoneksi di Indonesia, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyimpan sebuah ironi digital. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 menempatkan DIY di peringkat kedua nasional untuk penetrasi internet (91,18%), namun capaian ini dibayangi oleh indeks literasi digital yang justru masih rendah.
Menjawab tantangan ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengumpulkan puluhan perwakilan komunitas di Yogyakarta dalam seminar "Generasi Positive Thinking (Genposting)". Misi utamanya: mengubah status warga dari sekadar konsumen pasif menjadi produsen konten positif yang mampu memerangi hoaks.
Ketua Tim Kelembagaan Komunikasi Strategis Kemkomdigi, Yudi Syahrial, menegaskan bahwa tingginya konektivitas tanpa diimbangi kecakapan digital adalah sebuah risiko. Ruang digital yang sehat terancam oleh masifnya hoaks dan narasi negatif.
“Peningkatan internet ini sangat diapresiasi, namun dari indeks literasi digital kita, masih sangat rendah. Ini bagian dari tanggung jawab kita bersama,” ujar Yudi, Kamis (16/10/2025).
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan, Muhammad Najih Farihanto, menyebut kondisi ini sebagai era “disrupsi informasi” yang melahirkan fenomena post-truth. “Ini adalah kondisi ketika keyakinan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini daripada fakta yang objektif. Masyarakat perlu lebih jeli,” jelas Najih.
Alih-alih hanya mengeluh, seminar ini menawarkan solusi konkret. Para narasumber membekali peserta dengan “senjata” untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga ikut menyerang balik konten negatif dengan karya-karya positif.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, Agus Kustiwa, mendorong masyarakat untuk naik kelas. “Kombinasikan emosi, visual kuat, dan relevansi lokal dalam konten. Semakin dekat dengan kita, maka kita akan semakin senang menyerap informasi itu,” saran Agus.
Ia juga menekankan pentingnya memahami etika dalam menggunakan berbagai tools hingga kecerdasan buatan (AI) untuk produksi konten.
Metode ATM untuk Gaet Gen Z
Sebagai kreator konten, Nicky Shaquilla membagikan resep praktis untuk mengemas isu-isu berat—seperti program prioritas pemerintah—agar menarik bagi Generasi Z, pengguna internet terbesar saat ini.
“Ketika kita ingin membahas hal yang berat, kemas dengan cara yang kreatif. Kita bisa gunakan metode ATM: Amati, Tiru, Modifikasi. Modifikasi ini penting, karena di situlah proses kreatif kita bekerja,” jelas Nicky.
Melalui seminar ini, Kemkomdigi tidak hanya sekadar mengedukasi, tetapi juga mengajak warga Yogyakarta untuk mengambil peran aktif: memanfaatkan koneksi internet super tinggi yang mereka miliki untuk mengisi ruang digital dengan narasi yang benar, sehat, dan membangun. (*)
Siaran Pers
