Indonesia Perlu Serius, Krisis Iklim Nyata Dampaknya
Menyelamatkan bumi bukan hanya tugas negara, melainkan tanggung jawab bersama seluruh warga dunia.
KORANBERNAS.ID, JAKARTA -- Jauh di Belém, Brasil, ribuan kilometer dari Indonesia, para pemimpin dunia kembali berkumpul membicarakan nasib bumi di Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-bangsa ke-30 atau Conference of the Parties (COP30).
Saat mereka bernegosiasi di forum global itu, di tanah air, suara-suara dari masyarakat menuntut pemerintah agar benar-benar membawa komitmen serius menanggulangi krisis iklim yang kian nyata dampaknya.
Dalam diskusi bertajuk Drop the COP: Memantau Komitmen dan Menanti Aksi Iklim Indonesia di COP30 yang digelar oleh Purpose Indonesia bersama CERAH, Enter Nusantara, Greenpeace Indonesia, Coaction Indonesia, Katadata Green, Climate Rangers Jakarta dan The Habibie Center, semangat itu disuarakan dengan lantang.
Forum tersebut sekaligus menjadi momentum peluncuran laman Indonesiadicop.id, yang diharapkan menjadi jembatan informasi dan wadah partisipasi publik untuk memantau negosiasi delegasi Indonesia di COP30.
Mencari saluran
Tsabita Rantawi selaku Junior Campaigner Purpose Indonesia menyebutkan bahwa masyarakat adalah pihak yang paling terdampak oleh krisis iklim. Namun, mereka kerap kebingungan mencari saluran untuk menyuarakan aspirasi.
“Itu jadi alasan suara kita penting. Tapi biasanya masyarakat bingung mau diamplifikasi ke mana suaranya, atau mencari data tentang isu iklim di mana. Maka dari itu Indonesiadicop.id lahir untuk menjadi hub informasi,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Sabtu (8/11/2025).
Melalui laman tersebut, publik dapat mengikuti perkembangan agenda COP30 sekaligus menyalurkan pandangan, kritik, maupun ide terhadap arah kebijakan iklim Indonesia.
Bagi Iqbal Damanik selaku Climate and Energy Manager Greenpeace Indonesia, langkah tersebut penting karena delegasi Indonesia masih belum membawa isu keadilan generasi ke meja perundingan.
Generasi muda
“Agenda para delegasi sama sekali tidak menyentuh keadilan generasi, padahal yang paling terdampak adalah generasi muda. Karena itu, anak-anak muda harus bersuara agar bisa mempengaruhi pengambil kebijakan,” tegasnya.
Krisis iklim memang bukan isu abstrak. Manajer Kebijakan dan Advokasi Coaction Indonesia, A Azis Kurniawan, mengingatkan bahwa dampaknya sudah nyata dan bisa menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp 544 triliun.
Dari penurunan produksi pangan, gagal panen, hingga meningkatnya penyakit terkait perubahan iklim, semuanya bisa memukul kehidupan masyarakat, terutama kelompok rentan. “Kalau pengambil kebijakan lebih serius, ada banyak manfaat positif dari aksi iklim, seperti terciptanya green jobs,” ujar Azis.
Sebuah riset pada 2024 bahkan mencatat 39,8 persen anak muda mengalami eco-anxiety yaitu kecemasan terhadap masa depan lingkungan dan ekonomi akibat perubahan iklim.
Langkah kecil
Sementara itu, peneliti The Habibie Center, Kunny Izza, mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil. “Aksi individu masih diperlukan dan perlu diperkuat. Isu prioritas memang pada peningkatan ekonomi, tapi bencana iklim nyata mengancam. Maka, memperkuat aksi individu adalah kunci,” katanya.
Suara serupa datang dari Direktur Eksekutif CERAH Agung Budiono. Dia menilai setiap orang bisa berkontribusi, salah satunya dengan menjadi Delegasi Rakyat Indonesia melalui laman Indonesiadicop.id. Menurutnya, langkah itu penting untuk menekan pemerintah agar menunjukkan konsistensi antara janji dan kebijakan.
“Kita melihat inkonsistensi antara pernyataan pemerintah di level global dan dokumen kebijakan nasional. Misalnya, target 100 persen energi terbarukan di 2035, tapi RUPTL 2025-2034 masih menempatkan energi fosil sebagai prioritas. COP30 seharusnya jadi ajang pembuktian keseriusan pemerintah,” kata Agung.
Bagi para pegiat lingkungan, COP30 bukan sekadar pertemuan diplomatik, tetapi panggung moral untuk menegaskan arah masa depan bumi. Di tengah ancaman ekonomi dan bencana yang semakin nyata, mereka mengajak masyarakat tak sekadar menjadi penonton, melainkan turut bersuara, beraksi dan mengawasi.
Muhammad Zukhronnee Muslim
