HIPMI Syariah DIY Rilis Riset Perilaku Gen Z dan Milenial
Menjadi rujukan pemangku kebijakan menyusun program edukasi yang lebih relevan mengenai kebijakan ekonomi syariah.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Para pengusaha tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Syariah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sedang menyiapkan langkah strategis mendorong perkembangan ekonomi Islam di wilayah ini.
Tekat itu disampaikan Ketua Umum HIPMI Syariah DIY, Fajarudin Achmad Muharom SM, Kamis (4/6/2026) di Poenakawan Cafe Resto & Gallery, di sela Diskusi Publik & Release Survei Youth Sharia Report 2026.
“Riset ini sengaja menyasar segmen anak muda guna memetakan kecenderungan serta perilaku generasi muda mulai dari Gen Z, milenial hingga generasi Alfa dalam mengkonsumsi produk berbasis syariah,” ungkapnya.
Disebutkan, riset yang resmi dirilis kali ini dilakukan oleh tim penyusun terdiri delapan orang. Mereka adalah Muhammad Pranasik Faihaan M Sc yang juga Sekretaris Umum HIPMI Syariah DIY, Dr Muhammad Zaki Mubarrak MH, Maryam Fithriati M Si MSW, Lisa Lindawati MA, Yardema Mulyani M Sc, Mabrur Roh Bintang Jaya M Kom, Farly Nuzul Putra M Sc serta Ahmad Zakaria S Ag.
Menurut Fajar, panggilan Fajarudin Achmad Muharom, tujuan riset kali ini memang untuk membaca preferensi mereka dalam aktivitas ekonomi Islam, mulai dari penggunaan layanan perbankan hingga produk fesyen.
Ketua Umum HIPMI Syariah DIY, Fajarudin Achmad Muharom. (sholihul hadi/koranbernas.id)
Dia menambahkan, temuan ini diharapkan menjadi rujukan penting bagi para pemangku kebijakan untuk menyusun program edukasi yang lebih relevan dan matching dengan karakter generasi masa kini.
"Kami sudah melakukan riset terlebih dahulu yang segmennya memang anak muda. Ketika mereka melakukan aktivitas berkaitan dengan ekonomi Islam, kecenderungannya seperti apa? Itu yang dibaca dari riset ini. Siapa influencer yang mereka ikuti dan jadikan rujukan, serta bank mana yang mereka gunakan dan alasannya apa," ujar Fajar.
Hasil riset ini nantinya akan diserahkan kepada pemangku kepentingan terkait, seperti Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) DIY hingga Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Dengan adanya data riil seperti itu pemerintah atau pembuat kebijakan diharapkan tidak lagi sekadar mengandalkan rilis media konvensional yang dinilai kurang optimal bagi anak muda, melainkan bisa merangkul influencer atau platform digital yang tepat.
Selain berguna untuk menyusun kebijakan makro, lanjut Fajar, hasil survei ini sangat berharga bagi para pelaku industri kreatif dan brand lokal dalam mengembangkan produk mereka. Melalui riset ini, dasar pengambilan keputusan anak muda saat memilih sebuah produk dapat terbaca dengan jelas.
Celah pemahaman
"Misalnya dalam memilih produk fesyen, itu karena modelnya atau karena pengaruh influencer yang punya pandangan syariah? Saya ingin pakai hijab, tapi hijab yang seperti apa dan kenapa memilih brand itu? Secara ekonomi, ini bisa menjadi dasar bagi teman-teman pemilik brand untuk mengembangkan produk," ungkapnya.
Fajarudin mengakui masih ada celah pemahaman di kalangan anak muda terkait sejumlah instrumen keuangan syariah yang lebih komplek. "Mereka kok masih belum familiar dengan istilah-istilah syariah, masih bingung misalnya sukuk itu apa, terus adakah saham syariah? Nah, ketika pemerintah membuat kebijakan atau edukasi, hal itu bisa menjadi lebih tepat lagi," tambahnya.
Menjawab pertanyaan mengenai potensi ekonomi syariah di DIY, Fajar menyatakan prospek ekonomi syariah di Yogyakarta sangat besar. Pertumbuhan ini sejalan dengan tren global di mana produk syariah tidak hanya diminati di negara-negara muslim, tetapi juga mulai dilirik di negara non-Islam seperti Inggris.
Khusus wilayah DIY, Fajar mengungkapkan pertumbuhan ekonomi syariah didukung penuh oleh kuatnya basis pendidikan, pondok pesantren serta organisasi keagamaan yang mengakar.
Perilaku konsumen
Apalagi pengurus HIPMI Syariah DIY rata-rata diisi oleh para pengusaha muda di bawah usia 40 tahun yang memiliki afiliasi dengan organisasi Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Fatayat, hingga komunitas hijrah dan Salafi. Mereka turut mempengaruhi perilaku konsumen secara signifikan.
"Yogyakarta punya keunggulan karena menjadi pusat Muhammadiyah, lalu di daerah-daerah juga sangat kuat basis Nahdlatul Ulama serta pesantren-pesantren. Belum lagi organisasi non-afiliasi seperti komunitas hijrah dan lainnya, itu tumbuh sangat kuat dan mempengaruhi perilaku konsumen di Yogyakarta. Setiap kali ada event syariah seperti Yogyakarta Festival, audiensnya selalu besar," tandasnya.
Menariknya, diskusi Diskusi Publik & Release Survei Youth Sharia Report 2026 juga dihadiri undangan dari berbagai kalangan termasuk perwakilan Kementerian Agama DIY maupun sejumlah tokoh dan pengusaha. (*)
---
