Harga Pertamax Naik, Penjualan Pertashop di Kebumen Turun Drastis
Penjualan Pertamax di sejumlah Pertashop Kabupaten Kebumen turun hingga 50 persen setelah harga naik menjadi Rp16.250 per liter. Operator menyebut konsumen kini beralih ke BBM yang lebih murah, sementara antrean Pertalite di SPBU semakin panjang.
KORANBERNAS.ID, KEBUMEN – Penjualan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di sejumlah Pertashop di Kabupaten Kebumen turun tajam setelah harga jualnya naik menjadi Rp16.250 per liter. Di beberapa lokasi, penurunan penjualan bahkan mencapai 50 persen dibandingkan sebelum kenaikan harga.
"Sebelum harga naik, penjualan rata-rata mencapai 600 liter per hari. Setelah naik menjadi Rp16.250 per liter, penjualannya turun menjadi sekitar 300 liter per hari," kata operator Pertashop di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Taat Setyo Pamuji, Kamis (16/7/2026).
Menurut Taat, konsumen yang masih rutin membeli Pertamax umumnya merupakan pemilik sepeda motor keluaran baru yang direkomendasikan menggunakan bahan bakar beroktan tinggi.
"Pelanggan Pertamax yang masih bertahan kebanyakan pemilik motor baru," ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum kenaikan harga, Pertamax digunakan oleh berbagai kalangan pemilik kendaraan. Namun kini pengguna sepeda motor lama mulai beralih ke BBM lain yang lebih murah. Pembelian Pertamax oleh pemilik mobil juga ikut menurun.
"Hari ini sampai pukul 12.00 baru terjual 156 liter," katanya.
Pertashop tempat Taat bekerja melayani warga Kecamatan Alian dan sebagian Kecamatan Padureso. Lokasinya berjarak sekitar 8 kilometer dari SPBU terdekat yang menyediakan Pertalite.
Pertashop merupakan jaringan penjualan BBM Pertamina di luar SPBU yang dikembangkan untuk memperluas akses energi di wilayah pedesaan. Namun, tingginya selisih harga antara Pertamax dan Pertalite dinilai berdampak langsung terhadap penjualan di tingkat Pertashop.
Berdasarkan pantauan KORANBERNAS.ID, antrean kendaraan terlihat mengular di dispenser Pertalite di sejumlah SPBU di Kabupaten Kebumen. Sebaliknya, antrean di dispenser Pertamax relatif sepi dan hanya dilayani satu hingga dua kendaraan dalam waktu yang sama. (*)
Nanang W Hartono
