Harapan Baru Dunia Medis, Tumor Otak Bisa Diambil Lewat Hidung Tanpa Sayatan di Kepala

Luka operasi tak lagi terlihat. Masa perawatan hanya dua hingga tiga hari. Dalam waktu singkat pasien sudah bisa pulang.

Harapan Baru Dunia Medis, Tumor Otak Bisa Diambil Lewat Hidung Tanpa Sayatan di Kepala
Konferensi pers microinvasive transendoscopy pituitary adenoma di RS Kemenkes Dr Sardjito. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Membayangkan operasi tumor otak sering kali membuat merinding. Gambaran kepala dibuka dengan sayatan besar, risiko kebutaan, hingga masa pemulihan yang lama menjadi momok menakutkan bagi banyak pasien. Namun, di tengah kecemasan itu, Rumah Sakit Kemenkes Dr Sardjito Yogyakarta memberi harapan baru.

Melalui teknik microinvasive transendoscopy pituitary adenoma yaitu pengangkatan tumor lewat lubang hidung tanpa harus membuka tulang kepala, para dokter berhasil mencatat pencapaian penting. Sejumlah 50 pasien tumor otak telah tertangani. Ini merupakan harapan baru bagi dunia medis.

“Operasi tumor kadang terdengar menakutkan bagi masyarakat. Dengan teknik ini, tumor bisa diambil lewat hidung tanpa sayatan di kepala. Risiko lebih kecil dan pemulihan lebih cepat,” jelas Prof Dr dr Julius July Sp BS(K) M Kes, perwakilan bedah saraf RS Siloam, saat konferensi pers, Selasa (9/9/2025).

Bagi pasien, hasilnya terasa nyata. Luka operasi tak lagi terlihat, masa perawatan hanya dua hingga tiga hari, dan dalam waktu singkat mereka sudah bisa kembali pulang. Dibanding operasi konvensional yang bisa memakan waktu hingga sepekan, metode ini jelas membawa perubahan besar.

Ganggu penglihatan

Bagi tim dokter Sardjito, setiap operasi bukan sekadar tantangan teknis, tetapi juga perjuangan menyelamatkan kualitas hidup pasien. Adenoma hipofisis, salah satu jenis tumor otak yang sering ditangani dengan teknik microinvasive transendoscopy, dapat mengganggu penglihatan hingga menyebabkan kebutaan jika terlambat dioperasi.

“Harapan kami, jangan ada lagi pasien yang mengalami kebutaan akibat tumor otak. Dan masyarakat tidak perlu jauh-jauh berobat ke luar daerah, cukup di Yogyakarta,” ujar dr Rachmat Andi Hartanto Sp BS(K), dokter Divisi Neuro-Onkologi RS Kemenkes Dr Sardjito.

Senada, dr Handoyo Pramusinto Sp BS(K) selaku Ketua Kelompok Staf Medis Bedah Saraf menyatakan keberhasilan ini adalah hasil kerja tim. “Capaian ini menunjukkan keseriusan kami meningkatkan layanan tumor otak setara standar dunia. Selain teknik endoskopi, kami juga mengembangkan operasi dalam keadaan sadar agar pasien dapat berinteraksi selama prosedur,” jelasnya.

Teknik microinvasive transendoscopy pituitary adenoma sudah mulai diperkenalkan di Indonesia sejak 2002. Proses belajar panjang, adaptasi teknologi, hingga kerja keras tim medis membuat layanan ini berkembang pesat. Hingga kini lebih dari 800 pasien telah ditangani dengan teknik minimal invasif, dengan tingkat keberhasilan yang terus meningkat.

Proses panjang

“Merubah pola dari teknologi lama ke teknologi baru tentu membutuhkan proses belajar yang panjang. Tantangan utama kami adalah terus beradaptasi agar bisa memberikan pelayanan terbaik,” terang dr Selfy Oswari Sp BS(K) S Si sebagai perwakilan RS Penyakit Otak Nasional Mahar Mardjono.

Kini, RS Kemenkes Dr Sardjito tidak hanya berperan sebagai rumah sakit rujukan di Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan, tetapi juga sebagai pusat inovasi medis yang sejajar dengan standar internasional.

Bagi dr Habib Zahar Zaki Muttaqin Sp BS dan dr Daniel Agriva Tamba M Sc Sp BS selaku dokter Divisi Neuro-Onkologi RS Kemenkes Dr Sardjito, pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan layanan. “Banyak pasien enggan operasi karena takut risiko besar. Dengan metode minimal invasif, masyarakat bisa lebih tenang untuk mencari pertolongan medis sejak dini,” ungkap dokter Habib.

Dengan semakin banyaknya dokter yang terlatih, jejaring rumah sakit yang solid, serta dukungan kolaborasi internasional, RS Kemenkes Dr Sardjito mengirim pesan penting yaitu operasi otak bukan lagi vonis menakutkan, melainkan harapan baru untuk kualitas hidup yang lebih baik.

Lintas negara

Capaian RS Kemenkes Sardjito tidak berdiri sendiri. Dari 9 hingga 11 September 2025, rumah sakit ini menjadi tuan rumah kolaborasi medis bersama National University Hospital (NUH) Singapura dan sejumlah rumah sakit rujukan nasional Indonesia, termasuk RS Penyakit Otak Nasional Mahar Mardjono, RS Siloam Karawaci, Universitas Pelita Harapan, RS Dr Sutomo Surabaya dan RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Selama tiga hari, mereka berbagi ilmu, melakukan operasi bersama, hingga mengembangkan teknik terbaru seperti awake craniotomy. Ini merupakan operasi otak dalam keadaan pasien tetap sadar agar bisa berinteraksi dengan dokter.

“Ini kunjungan saya yang ketiga, dan sungguh pengalaman yang berharga. Saya melihat bagaimana rumah sakit di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, berhasil mengembangkan kemampuan dalam bedah endonasal,” ungkap Assoc Prof Diong Weng Vincent Nga MD, perwakilan National University Hospital (NUH) Singapura.

Menurutnya, kolaborasi internasional bukan hanya soal transfer teknologi, tetapi juga peningkatan kapasitas tenaga medis. “Yang terpenting adalah manfaatnya bagi pasien. Bersama-sama, kita bisa membuat operasi lebih aman dan hasil perawatan lebih baik,” tandasnya. (*)