Semua Warga Pringgading Asri Aktif Kelola Sampah Sendiri
Bantul belum mampu menyelasaikan semua sampah yang ada. Data terakhir setiap hari kita menghasilkan sampah 100 ton sedangkan pengolahan sampah kita baru 59 ton per hari
KORANBERNAS.ID, BANTUL--Sampah kerapkali menjadi persoalan serius. Apalagi saat TPST Piyungan tutup karena overload membuat banyak orang kebingungan membuang sampah mereka.
Melihat persoalan yang ada, warga Perumahan Pringgading Asri, Kembang Putihan RT 05 Kalurahan Guwosari Kapanewon Pajangan Bantul kemudian berinisiatif melakukan pengolahan sampah sendiri secara mandiri. Sehingga sampah yang dihasilkan perumahan dengan sekitar 500 KK tersebut tersebut mampu terselesaikan di tingkat perumahan.
“Apa yang dilakukan warga di sini bisa menjadi contoh dan bisa diduplikasi warga di wilayah lain,” kata Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta MM saat meninjau lokasi dalam acara “Dinamika Pembangunan” gelaran Dinas Kominfo Bantul beberapa hari lalu.
Tentu saja semua pihak harus turut aktif dan terlibat dalam pengelolaan sampah, sehingga bisa teratasi secara maksimal.
Seperti di Perumahan Pringgading Asri ini warga semua akkif memilah sampah dari rumah. Untuk sampah yang bisa dijual akan dikumpulkan di rumah pilah sampah yang juga dikelola warga setempat.
Untuk sampah organik dibuat pupuk dan digunakan untuk keperluan bertanam sayur di kebun milik perumahan. Terlihat ada kates, terong, cabai dan aneka tanaman sayur lainya yang tumbuh subur .Jika panen hasilnya dibagi warga setempat.
Selain itu di Pringgading Asri terlihat tempat pembuangan sampah khusus botol minuman kemasan yang dipasang di dekat lapangan tempat olahraga,pendopo pertemuan dan tempat strategis lain. Dengan demikian tidak ada yang buang sampah sembarangan.
“Bantul belum mampu menyelasaikan semua sampah yang ada. Data terakhir setiap hari kita menghasilkan sampah 100 ton sedangkan pengolahan sampah kita baru 59 ton per hari. Artinya kita masih punya masalah persampahan. Maka apa yang dilakukan Pringgading ini bisa dikembangkan karena sangat membantu,” katanya.
Masduki Rahmad SIP Lurah Guwosari mengatakan jika penanganan sampah menjadi komitmen nyata didukung seluruh masyarakat di 15 padukuhan dengan 79 RT. Termasuk warga perumahan.
“Untuk skema pemilahan agar mudah dipahami masyarakat kita kategorikan bosok, rosok, popok dan godong tok. Alhamdulillah di sini dengan 500 KK sudah membuat konsep pengelolaan sampah komunal dibawah Bumdes Guwosari dan TPS Go Sari,” kata Maduki.
Untuk skema sampah konunal dan langganan sampah ditarik Rp 40 ribu per KK tiap bulan.Bagi yang ikut terlibat pemilahan sampah warga diberikan reward hanya membayar Rp 5 ribu hingga Rp 10.000 tiap bulan.
“Karena walaupun sudah dipilah dari tiap rumah,tetap dilakukan pemilahan lagi saat masuk ke rumah pilah. Kalau rosok dishodaqohkan. Pengambilan dilakukan pemerintah Kalurahan Guwosari setiap Senin dan Kamis,” terang Masduki. (*)
Sariyati Wijaya
