Emas di BSI Tembus 22,5 Ton, Gen Z Dominasi Investasi Emas Digital
Tetap waspada terhadap berbagai modus penipuan yang mengatasnamakan BSI.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Transformasi digital menjadi kunci utama pertumbuhan bisnis emas yang dikelola PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Sejak peluncuran layanan bullion bank pada 26 Februari 2025, total emas kelolaan perseroan melonjak signifikan hingga mencapai 22,5 ton.
Layanan bullion bank merupakan inisiatif strategis pemerintah dalam memperkuat pengelolaan emas nasional. Program ini diresmikan oleh Prabowo Subianto setelah BSI mengantongi izin kegiatan usaha bullion dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Regional CEO BSI Region VII Semarang, Ficko Hardowiseto, mengungkapkan meningkatnya literasi dan edukasi terkait bullion bank turut mendorong animo masyarakat terhadap investasi emas logam mulia. Kemudahan akses layanan digital menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan tersebut.
“Melalui superapps BYOND by BSI, masyarakat kini dapat membeli emas mulai dari Rp 50 ribuan secara aman dan real time. Selain itu, pada fitur Bank Emas, nasabah juga bisa membeli emas sekaligus mentransfer gramasi emas,” ujarnya di Yogyakarta, Selasa (17/3/2026) petang.
Generasi muda
Di wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, BSI mencatat jumlah emas kelolaan mencapai 1,83 ton. Menariknya, pertumbuhan ini didominasi oleh kalangan generasi muda dan milenial, menandakan meningkatnya kesadaran investasi emas yang aman dan sesuai prinsip syariah.
“Selain itu, kami juga terus mengembangkan berbagai produk dan layanan emas yang terintegrasi, termasuk BSI Emas, cicil emas hingga gadai emas. Langkah ini menjadi bagian dari upaya BSI dalam membangun ekosistem emas yang kuat dan berkelanjutan di Tanah Air. BSI melihat potensi emas sebagai instrumen investasi yang stabil sekaligus memiliki nilai lindung terhadap inflasi. Oleh karena itu, perseroan terus memperkuat infrastruktur digital serta memperluas jangkauan layanan emas kepada masyarakat,” lanjut Ficko.
Menurut dia, penguatan ekosistem tersebut dilakukan seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi yang relatif aman di tengah dinamika ekonomi. "Digitalisasi layanan juga dinilai mampu memperluas inklusi keuangan syariah, terutama di kalangan generasi muda," katanya.
Sementara itu, Area Manager BSI Area Yogyakarta, Muhammad Taqiyuddin, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap berbagai modus penipuan yang mengatasnamakan BSI. Dia menyatakan pentingnya memastikan setiap informasi berasal dari kanal resmi perseroan.
Cek informasi
"Nasabah diimbau untuk mengecek kebenaran informasi melalui website resmi BSI, media sosial resmi, serta layanan pelanggan seperti BSI Call 14040 maupun WhatsApp resmi," ungkapnya.
Langkah ini penting untuk menghindari potensi penyalahgunaan informasi di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan emas digital.
Dengan pertumbuhan yang terus berlanjut, BSI optimistis bisnis bulion akan menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat industri keuangan syariah nasional, sekaligus mendorong pemanfaatan emas sebagai instrumen investasi jangka panjang yang aman dan terpercaya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
