Ekspor Turun Rp 160 Miliar per Bulan, Industri Furnitur DIY Bidik Pasar Domestik
Begitu pintu ekspor tertutup karena perang di Timur Tengah, Bantul paling terkena dampaknya.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Industri furnitur dan kerajinan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terpukul ketidakpastian geopolitik global. Nilai ekspor Kabupaten Bantul tercatat turun hingga US$ 10 juta atau sekitar Rp 160 miliar per bulan, memaksa pelaku usaha mencari alternatif membidik pasar domestik.
Data tersebut disampaikan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih dalam acara Syawalan Idul Fitri 1447 H ASMINDO DIY di Hotel Neo Malioboro, Jumat (17/4/2026). Penurunan ini dinilai serius karena Bantul menyumbang sekitar 70 persen ekspor DIY, terutama dari sektor garmen dan kerajinan.
“Bantul ini kabupaten yang paling rentan terhadap perubahan geopolitik internasional. Begitu pintu ekspor tertutup karena perang di Timur Tengah, Bantul yang paling terkena dampaknya,” ujar Halim.
Bupati menegaskan, ketergantungan pada pasar global membuat industri lokal sangat sensitif terhadap gejolak luar negeri. Di sisi lain, pemerintah memiliki keterbatasan menyerap tenaga kerja, sehingga keberlangsungan usaha sangat bergantung pada pelaku industri.
Bagian penting
"Nah, karenanya ASMINDO sebagai bagian penting dalam sakaguru perekonomian bangsa ini, bagaimana bisa terus bersinergi berkolaborasi dengan pemerintah termasuk pemerintah daerah. Karena pemerintah daerah pun ini juga memerlukan input, masukan terus-menerus sesuai dengan dinamika perkembangan yang kita hadapi," ujarnya.
“Runtuhnya pengusaha boleh jadi menjadi runtuhnya negara. Maka, pemerintah daerah harus intensif berkomunikasi dengan praktisi usaha,” tambahnya.
Di tengah tekanan tersebut, muncul inisiatif baru untuk menggarap pasar domestik. Wakil Ketua Kadin DIY, Wawan Harmawan, mengungkapkan rencana kolaborasi dengan Keraton Yogyakarta melalui Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi.
“Ada keinginan membuat satu tempat atau toko untuk teman-teman ASMINDO dengan konsep seperti IKEA di Yogyakarta,” katanya.
Terserap pasar
Konsep retail modern ini diharapkan menjadi solusi konkret agar produk furnitur lokal tetap terserap pasar, dengan kualitas ekspor namun lebih mudah diakses konsumen dalam negeri.
Ketua panitia, Sapto Daryono, menyatakan pentingnya kolaborasi di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil. Tema Syawalan Menjalin Silaturahmi, Menguatkan Sinergi menjadi kunci bertahan bagi pelaku industri.
"Kita saat ini berada dalam kondisi yang kurang baik, baik secara internasional maupun di dalam negeri akibat banyaknya perang. Oleh karena itu, mari bersinergi membangun Indonesia demi kesejahteraan masyarakat, khususnya di Yogyakarta," ujarnya.
"Jadikan Syawalan ini sebagai titik temu untuk menghilangkan kompetisi dan bersatu membangun masyarakat usaha industri di DIY," kata Sapto. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
