DPRD DIY Fasilitasi Diskusi Buku Sosial Demokrasi Karya Imam Yudotomo

Mudah-mudahan kegiatan ini memberi arti bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.

DPRD DIY Fasilitasi Diskusi Buku Sosial Demokrasi Karya Imam Yudotomo
Seminar Kemitraan Diskusi Buku Sosial Demokrasi karya Imam Yudotomo di DPRD DIY, Kamis (4/12/2025). (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Sebagai wujud menjalin kemitraan dengan masyarakat, Sekretariat DPRD DIY memfasilitasi penyelenggaraan Seminar Kemitraan Diskusi Buku Sosial Demokrasi karya Imam Yudotomo.

Acara yang berlangsung di lantai dua gedung dewan Jalan Malioboro, Kamis (4/12/2025), dibuka anggota DPRD DIY Dr Hj Yuni Satia Rahayu SS M Hum. Adapun peserta terdiri dari seniman, aktivis, pemerhati budaya serta jurnalis senior maupun masyarakat umum.

“Mudah mudahan semakin banyak anak muda yang mengikuti diskusi. Bukan hanya kita yang tua-tua yang berdiskusi,” kata Yuni, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DIY yang juga Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah dan/atau Peraturan Daerah Istimewa (Bapemperda) itu di hadapan hampir 100-an peserta.

Didampingi narasumber Halim HD (pemikir kebudayaan) dan Osmar Tanjung (aktivis) serta moderator Sinta Herindrasti, lebih lanjut Yuni berharap hasil dari seminar kali ini bisa disampaikan ke Gubernur DIY. Dengan begitu, ide-ide, gagasan maupun pemikiran menjadi kontribusi untuk membangun Yogyakarta.

Memberi arti

“Mudah-mudahan kegiatan ini memberi arti bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta,” ujar perempuan kelahiran Ngawi itu.

Sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan, peserta seminar diajak berdoa untuk para korban bencana alam di Sumatera semoga diberi ketabahan dan kekuatan.

“Kami sangat prihatin dan paham jika terjadi bencana seperti itu. Kita pernah (merasakan) bencana Gunung Merapi. Mudah-mudahan diberikan kekuatan,” ujar Yuni yang pernah menjabat Wakil Bupati Sleman 2010 - 2015.

Sedangkan Halim HD saat mengupas buku Sosial Demokrasi setebal kurang lebih 700 halaman tersebut menyatakan terkejut dengan pemikiran-pemikiran almarhum Imam Yudotomo. Ini karena, selama berinteraksi dan berteman, yang bersangkutan jarang menulis di media massa.

Di media massa

“Sepanjang pengetahuan saya tentang buku ini, rasanya saya belum pernah membaca tulisan-tulisan Mas Imam di media massa,” katanya.

Sosok Imam Yudotomo Imam Yudotomo merupakan aktivis yang dilahirkan di Yogyakarta pada 1941. Pernah kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), Fakultas  Hukum Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, namun seluruhnya tidak pernah selesai alias drop out. Kemudian aktif di dalam berbagai organisasi. Dia meninggal dunia pada 27 November 2015 dalam usia 74 tahun.

Halim HD terus terang menyatakan dirinya agak kesulitan membaca buku tersebut sebab tulisan-tulisan almarhum sama sekali tidak menyinggung perspektif SDM (Sumber Daya Manusia), kesenian dan kebudayaan. “Buku ini sangat sedikit atau boleh dikatakan tidak ada topik soal kebudayaan dan kesenian,” katanya.

Namun begitu, Halim mengakui buku tersebut sangat menarik mengupas banyak hal mengenai pertanian maupun pendidikan dari sudut pandang seorang aktivis yang lebih banyak terjun langsung ke masyarakat. Apabila buku tersebut dicetak ulang, saran dia, ada baiknya dilacak kronik waktunya.

Kapitalisme

Sementara itu, Osmar Tanjung mencoba menelisik pemikiran almarhum Imam Yudotomo salah satunya terkait dengan aspek kapitalisme. Sepanjang ada kontradiksi pasti ada pertentangan antara sosialisme dan kapitalisme.

Sependapat dengan Halim HD, Osmar juga terkejut dengan banyaknya tulisan dari almarhum Imam Yudotomo. “Memang, sama kayak Mas Halim, saya terkejut dengan tulisan ini. Saya nggak nyangka dia menulis,” katanya. Sepanjang perkenalannya, penulis buku itu lebih banyak melakukan aktivitas diskusi daripada menulis.

Baik Osmar maupun Halim sepakat poin-poin pemikiran-pemikiran almarhum Imam Yudotomo bisa menjadi dorongan terhadap sosial demokrasi terkait dengan kebijakan pembangunan. Saat situasi duka akibat banjir di Sumatera, pada halaman 291 buku tersebut terdapat tulisan bagaimana kapitalisme merusak hutan. (*)