Diskomfest Digelar Lagi di ISI Yogyakarta
Diskomfest 9 diharapkan menjadi ruang kolaborasi lintas kampus, disiplin dan generasi.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Festival kreatif dua tahunan Diskomfest 9 resmi dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan mengusung tema Re-kreasi, sebuah ajakan untuk kembali menciptakan karya melalui empati dan literasi desain.
Ajang yang diinisiasi mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) sejak 2004 ini digelar kembali untuk memberi ruang apresiasi, kolaborasi dan edukasi bagi insan kreatif dari berbagai kalangan.
Ketua pelaksana, Josua Maruli Tua Pasaribu, menjelaskan peran desainer tidak berhenti pada penciptaan visual melainkan memahami manusia, masalah dan konteks.
“Menjadi desainer bukan hanya tentang membuat sesuatu menjadi hidup, tapi memahami dan meresapi keberagaman serta masalah dengan hati,” ujarnya saat membuka acara, Jumat (21/11/2025).
Lintas kampus
Diskomfest 9 diharapkan menjadi ruang kolaborasi lintas kampus, lintas disiplin, dan lintas generasi sekaligus sarana bagi mahasiswa DKV memberikan kontribusi solutif dan inovatif bagi masyarakat. “Setiap garis, setiap bidang, setiap proses adalah milik kita, dan itulah yang kita rayakan,” kata Josua.
Ketua Ikatan Alumni DKV ISI Yogyakarta, Arief Budiman S Sn, berbicara mengenai urgensi perspektif desain yang lebih luas di era digital. Mengutip Steve Jobs, dia mengatakan bahwa desain bukan hanya tampilan, tetapi cara kerja.
“Ini soal rasa, soal bagaimana digitalisasi menggantikan banyak aspek komunikasi,” katanya. Arief juga melihat pentingnya idealisme pemuda sebagai motor perubahan.
Sementara itu, Ketua Jurusan DKV ISI Yogyakarta, Fransisca Sherly Taju S Sn M Sn, menyebutkan Diskomfest sebagai momentum refleksi kreativitas dan iterasi.
Literasi desain
Dia menyambut positif kehadiran delegasi dari berbagai kampus seperti Institut Bisnis Jakarta, ISI Surakarta, ISI Bali, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Sebelas Maret, hingga ISI Padangpanjang.
Tahun ini, tema Re-kreasi menyoroti pentingnya literasi desain, kemampuan menghasilkan karya yang komunikatif dan kreatif, memahami brief, fungsi, konteks, hingga dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Diskomfest 9 untuk memantik kesadaran bahwa empati adalah fondasi kualitas karya. Desain yang baik lahir dari pemahaman tepat, tidak hanya proyeksi selera visual.
Rangkaian kegiatan tiga hari Diskomfest mencakup pameran, diskusi, workshop hingga penampilan musik. Pameran utama menampilkan karya alumni dan undangan melalui kurasi Arsita Pinandita, Lily Elserisa dan Panca Septiana. Pameran delegasi menampilkan karya dari 12 kampus seni dan desain.
Srawung desain
Kegiatan Srawung Desain menghadirkan Dimas Nurcahyo (Lokakola), Sabiq Rusydi (ADGI), dan Amar Leina Chindany (DKV ISI Yogyakarta). Di sisi lain, tiga panggung musik digelar dengan tematik unsur rupa yaitu Bidang Awal, Garis Temu dan Titik Lanjut.
Hari pertama menampilkan FSTVLST, Rubah di Selatan, Sangkakala, Mamahima, dan Platformat. Hari kedua tampil band-band delegasi seperti The Skit, The Peal, The Kontri, Kenrock, Telkom Riot dan The Pepes.
Hari terakhir menjadi panggung bagi band-band muda ISI Yogyakarta seperti Foolboots, Ereksi Abadi, Pancono, Avioga dan Jampas. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
