Dari Budaya Lokal ke Panggung Global, STIPRAM Cetak Pemimpin Pariwisata Berkelas Internasional

Kami ingin kualitas pendidikan pariwisata bisa lebih dekat dan merata, tidak hanya terpusat di Yogyakarta.

Dari Budaya Lokal ke Panggung Global, STIPRAM Cetak Pemimpin Pariwisata Berkelas Internasional
Ketua STIPRAM, Suhendroyono bersama jajaran sivitas akademika saat ditemui di kampus setempat. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Alunan gamelan tanpa henti mengiringi prosesi wisuda Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta yang digelar dengan nuansa Jawa. Prosesi wisuda dengan tata cara Jawa itu menjadi simbol perjalanan kampus pariwisata yang berakar pada budaya lokal tetapi berorientasi ke panggung global.

Sebanyak 835 lulusan resmi dikukuhkan, terdiri atas 239 lulusan D3, 551 lulusan S1, dan 45 lulusan S2. Wisuda kali ini tak hanya menjadi perayaan akademik, tetapi juga refleksi dari visi besar STIPRAM untuk melahirkan pemimpin masa depan di sektor pariwisata.

“Sejak awal, kami menanamkan semangat Lead with Skill, Soul, and Sustainability. Lulusan STIPRAM harus cakap secara kompetensi, punya jiwa kepemimpinan, sekaligus peka terhadap nilai-nilai keberlanjutan,” tegas Dr Moch Nur Syamsu S Pt M Par CHE CGSP, Wakil Ketua I Bidang Akademik STIPRAM kepada wartawan, Jumat (22/8/2025).

Menurut dia, langkah global kampus ini bukan sekadar slogan. Mahasiswa STIPRAM sejak duduk di bangku kuliah sudah ditempa lewat program magang dan kerja praktik, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Untuk dalam negeri, mereka diterjunkan di instansi pemerintahan, hotel berbintang hingga biro perjalanan wisata.

Pengalaman magang

Sementara itu, untuk program internasional, mahasiswa STIPRAM telah menjalani pengalaman magang di Malaysia, Thailand, Cina, Taiwan dan Jepang. Belum lama ini, kampus juga menandatangani kerja sama dengan CARMS Study, yang membuka peluang magang ke Australia. Tawaran serupa juga datang dari Selandia Baru dan Jerman.

“Ini bagian dari misi We Are the World yang kami canangkan. Mahasiswa kami bukan hanya belajar di kelas, tetapi benar-benar bersentuhan dengan dunia kerja global,” ujar Dr Suhendroyono SH MM M Par CHE CGSP, Ketua STIPRAM.

Lebih jauh, Suhendroyono menjelaskan STIPRAM memiliki dua misi utama yaitu We Are The World dan We Do Impossible. Keduanya dibuktikan lewat berbagai langkah nyata, mulai dari KKN internasional hingga kolaborasi akademik dengan kampus-kampus asing.

Pada wisuda kali ini, STIPRAM juga menerima tamu akademisi dari Australia (James Cook University), India dan Malaysia yang menjadi mitra tetap dalam pelaksanaan KKN internasional. Nur Syamsu menambahkan, kehadiran mereka bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk nyata pengakuan terhadap kualitas STIPRAM.

Wawasan global

“Kami melakukan hal-hal yang sering dianggap mustahil. Misalnya KKN internasional. Kalau biasanya mahasiswa hanya turun ke desa-desa di sekitar kampus, mahasiswa STIPRAM bisa KKN bersama masyarakat di India, Malaysia atau Jepang. Itu pengalaman yang membentuk keberanian sekaligus wawasan global,” katanya.

STIPRAM juga memperkuat posisinya di tingkat nasional. Berdasarkan data LLDIKTI, kampus ini menempati peringkat teratas di kategori diploma untuk perguruan tinggi pariwisata swasta, dengan nilai di atas 4.000. Semua program studinya, mulai dari D3, S1, S2, hingga S3 telah mengantongi akreditasi “Baik Sekali”.

“Ini bukan klaim sepihak. Akreditasi dan peringkat ini membuktikan bahwa kualitas akademik STIPRAM diakui secara resmi. Bahkan beberapa kampus negeri melakukan studi banding ke sini, termasuk STP Bandung,” ungkap Suhendroyono.

Keberanian STIPRAM untuk melangkah lebih jauh juga diwujudkan dengan rencana membuka cabang baru di Sukabumi pada 2026. Dorongan itu datang dari tingginya minat masyarakat Jawa Barat terhadap pendidikan pariwisata.

Peluang besar

“Waktu kami presentasi di Pelabuhan Ratu, ada 11 SMA dan SMK yang menyatakan minat agar STIPRAM hadir di sana. Bahkan manajemen Samudera Beach Hotel sudah menyiapkan ruang kuliah untuk mahasiswa. Ini adalah peluang besar yang tidak bisa kami abaikan,” kata Suhendroyono.

Menurutnya, ekspansi ini sejalan dengan misi We Do Impossible. “Kalau banyak yang ragu membuka cabang di daerah, kami justru berani melangkah. Kami ingin kualitas pendidikan pariwisata bisa lebih dekat dan merata, tidak hanya terpusat di Yogyakarta,” tambahnya.

Dengan semua pencapaian ini, STIPRAM tidak hanya melahirkan tenaga kerja siap pakai, tetapi juga menyiapkan calon pemimpin industri pariwisata masa depan. Baik Suhendroyono maupun Nur Syamsu sepakat wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan titik awal bagi mahasiswa untuk membuktikan diri.

“Dunia pariwisata itu menuntut lebih dari sekadar keterampilan. Dibutuhkan keberanian, visi global, dan integritas. Itu yang selalu kami tanamkan kepada mahasiswa,” ujarnya. Suhendroyono ingin alumni STIPRAM di mana pun membawa nama baik bangsa, dan membuktikan bahwa pariwisata Indonesia bisa dipimpin oleh anak negeri. (*)