atas1

Kemarau Datang Lebih Awal, Air Jadi Barang Langka

Selasa, 02 Jul 2019 | 19:56:59 WIB, Dilihat 239 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Kemarau Datang Lebih Awal, Air Jadi Barang Langka Air bersih bantuan ACT DIY ditampung di tandon milik warga. (istimewa)

Baca Juga : Lebih Segar, Taman Air Menari Buka Lagi


KORANBERNAS – Dampak kekeringan akibat musim kemarau sudah dirasakan oleh sebagai masyarakat yang tinggal di Kabupaten Gunungkidul.

“Kemarau tahun ini datang lebih awal. Akibatnya beberapa kecamatan kini telah mengalami kekeringan sehingga air menjadi barang langka,” ungkap Kharis Pradana, Koordinator Tim Program Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY, Selasa (2/7/2019).

Sejak pekan lalu, ACT DIY mulai menyalurkan bantuan air bersih untuk mengurangi dampak kekeringan yang semakin parah.

Organisasi kemanusiaan itu mengirimkan 50 ribu liter air bersih ke Kecamatan Girisubo dan Rongkop. “Di dua kecamatan ini, air bersih didistribusikan ke empat desa yang mengalami dampak terparah kekeringan serta masyarakat ekonomi prasejahtera,” kata dia.

Guna memudahkan pengiriman air ke empat Desa Balong, Melikan, Nglindur, dan Tileng, ACT menggunakan truk tangki yang dapat membawa 5 ribu liter air sekali jalan.

"Air dipindah ke tandon yang telah disediakan di masing-masing desa, atau warga datang membawa ember untuk diisi air," ungkap Kharis.

Sebanyak 520 warga menikmati bantuan air bersih tersebut.

Sukiyem (85) salah seorang warga yang ikut antre menyampaikan ucapan terima kasih bersama rasa syukur karena telah dapat menggunakan air bersih yang diberikan untuk mandi, minum dan lainnya selama beberapa waktu ke depan.

Sebelumnya, untuk mendapatkan sumber air bersih, warga harus ke desa lainnya yang jaraknya cukup jauh.

Mengingat sumber air tersebut masih mengalir,  akibatnya tak sedikit warga antre untuk mendapatkan air bersih, termasuk truk-truk tangki yang berjajar antre berjam-jam.

"Saat mereka dapat jatah air bersih, mereka sangat bersyukur dan berterima kasih," ungkap Kharis.

Kepala Cabang ACT DIY, Bagus Suryanto, menyampaikan puncak musim kemarau tahun ini ada di bulan Agustus “InsyaAllah dari lembaga kita targetkan 500 tangki air bersih untuk membantu warga yang kesulitan mendapatkan air di Gunungkidul,” ujar Bagus.

Kekeringan di Gunungkidul tak hanya berdampak pada masyarakat saja tetapi juga lahan garapan pertanian. “Ribuan hektare lahan padi terancam puso di awal kemarau, air untuk kebutuhan konsumsi juga sulit diperoleh,” jelas Kharis.

Sejak musim kemarau tahun ini, petani di Girisubo dan Rongkop sudah mengantisipasi, sawah yang sebelumnya ditanami padi kini berganti palawija.

Ketersediaan air serta pola kekeringan yang telah biasa masyarakat Gunungkidul secara alami menjadi alasan mengganti tanaman ini.

Penggantian tanaman dari padi ke palawija tak dilakukan semua petani di dua kecamatan itu.

Sebagian lahan masih ditanami padi, lahan ini menggunakan sistem tadah hujan. Namun, ada juga sebagian lahan yang dibiarkan kosong selama kemarau. (sol)



Selasa, 02 Jul 2019, 19:56:59 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 271 View
Lebih Segar, Taman Air Menari Buka Lagi
Selasa, 02 Jul 2019, 19:56:59 WIB Oleh : Sholihul Hadi 249 View
Tiba di Finish, Goweser Langsung Disambut Masak Besar
Selasa, 02 Jul 2019, 19:56:59 WIB Oleh : Sholihul Hadi 239 View
Paku Alam X Luangkan Waktunya Hadiri Syawalan GL Zoo

Tuliskan Komentar