Bagikan Kisah Prabowo Subianto, Anggota DPR RI Azis Subekti Beri Motivasi Anak Bangsa

Prabowo yang merupakan Purnawirawan TNI AD mengalami jatuh bangun dalam percaturan politik dalam negeri.

Bagikan Kisah Prabowo Subianto, Anggota DPR RI Azis Subekti Beri Motivasi Anak Bangsa
Presiden Prabowo Subianto dan anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti membagikan kisah perjalanan panjang Prabowo Subianto dan Partai Gerindra dalam dunia politik di Indonesia. Ini merupakan bagian dari upaya memberikan motivasi kepada anak bangsa.

Sejarah mencatat, selama 18 tahun Prabowo yang merupakan Purnawirawan TNI AD mengalami jatuh bangun dalam percaturan politik dalam negeri. "Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai perayaan kemenangan melainkan sebagai penanda jalan,” ujarnya dalam materi tertulis yang dikirimkan ke koranbernas.id, Jumat (6/2/2026).

Menurut anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) VI Jawa Tengah itu, di dalam politik, kemenangan yang tidak disertai ingatan sering menjadi awal dari kelalaian.

Dia menyatakan, saat ini Partai Gerindra memasuki usia ke-18 sejak didirikan pada 2008. Awalnya, Gerindra memilih jalur yang tidak selalu nyaman. Kader dipersiapkan sebelum kursi tersedia. Pilihan ini membuat Gerindra tampak kaku bagi sebagian orang, tetapi justru memberi daya tahan ketika politik nasional bergerak cepat dan sering kehilangan arah.

Suara rakyat

"Masuk parlemen pada 2009 adalah pijakan awal, bukan tujuan. Di fase ini, Gerindra belajar bahwa suara rakyat tidak datang sebagai hadiah, melainkan sebagai titipan yang menuntut kerja berulang,” katanya.

Azis menambahkan kekalahan pada Pilpres 2009 dan 2014 menjadi momen pembelajaran yang menentukan. Prabowo Subianto kalah tetapi partai tidak runtuh. Gerindra memilih menjadi oposisi. Kekalahan ketiga pada 2019 memaksa Gerindra bercermin.

Perubahan posisi itu menggeser cara publik melihat Prabowo. Dari figur yang identik dengan perlawanan, perlahan tampil sebagai sosok yang bekerja dalam sistem, berbicara dengan bahasa stabilitas dan menempatkan pengalaman sebagai modal politik.

“Transformasi ini tidak terjadi seketika namun berjalan seiring dengan perubahan cara partai mengelola pesan, lebih tenang, lebih terukur dan lebih sadar bahwa pemilih Indonesia telah berubah, lebih muda, lebih cair dan kurang tertarik pada konflik lama,” ucapnya.

Jarang viral

Menurut Azis, yang kerap luput dibicarakan adalah kerja sunyi yang menopang semua itu. Pendidikan kader yang konsisten, perawatan struktur yang tidak tergesa, kerja senyap tokoh-tokoh kunci dan disiplin organisasi yang dijaga bahkan ketika tidak disorot kamera.

“Inilah aspek yang jarang viral, tetapi justru menentukan. Gerindra tidak dibesarkan oleh momen, melainkan oleh rutinitas. Bukan oleh sorak, melainkan oleh kesabaran. Banyak tokoh dan kader militan yang terlibat secara totalitas di dalamnya,” katanya.

Bagi Gerindra ke depan, lanjutnya, usia 18 tahun seharusnya menjadi pengingat. Partai ini pernah kalah tiga kali dalam kompetisi pimpinan nasional bersama Prabowo Subianto dan tetap bertahan karena tidak tergoda jalan pintas.

Bagi publik, perjalanan ini menyisakan satu pelajaran.  Politik yang sering gaduh dan serba cepat, yang paling bertahan bukan mereka yang paling keras, melainkan mereka yang paling tekun mengelola waktu. (*)