Jossie Bertransformasi, dari Pop Punk ke Nuansa 90-an di Album Baru

Era 70-an dan 80-an sudah jenuh dieksploitasi. Tren kembali ke nuansa 90-an.

Jossie Bertransformasi, dari Pop Punk ke Nuansa 90-an di Album Baru
Peluncuran album kedua Jossie bertajuk 'We Don't Lie Like A Referee' di Downtown Cafe Yogyakarta. (Muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Bagi sebuah band, usia 19 tahun biasanya adalah fase menikmati kenyamanan. Namun bagi Jossie, unit melodic punk asal Yogyakarta yang terbentuk sejak 2006, kenyamanan justru adalah musuh yang harus diperangi.

Setelah satu dekade berlalu sejak album Diorama (2016), duo Angga Rahafta (vokal/gitar) dan Erindra Mukti (drum) memutuskan untuk tidak sekadar "pulang", melainkan renovasi total rumah musikal mereka.

Lewat album kedua bertajuk We Don't Lie Like A Referee' yang dirilis 6 Februari 2026, Jossie menantang pakem musik yang selama ini mereka dan skena Jogja yakini.

Langkah terbesar dalam transformasi ini adalah keputusan mereka menggandeng Momo Biru sebagai produser di Meru Records. Publik musik Indonesia mengenal Momo sebagai vokalis sekaligus gitaris Captain Jack, band rock alternatif yang dikenal dengan lirik-lirik tajam dan perlawanan.

Pop punk

Momo, yang terbiasa dengan distorsi tebal dan narasi pemberontakan, justru melihat tantangan lain di Jossie yaitu bagaimana mengeluarkan band ini dari "jebakan" pakem pop punk Jogja yang menurutnya sudah seperti kultus yang dipertahankan mati-matian.

"Kami ngobrolin ramalan. Era 70-an dan 80-an sudah jenuh dieksploitasi. Tren akan berputar kembali ke nuansa 90-an," ujar Momo saat konferensi pers pada Jumat (6/2/2026) di Downtown Cafe Yogyakarta.

Visi dari eks-frontman Captain Jack inilah yang mengubah warna musik Jossie secara drastis. Meninggalkan pola pop punk modern yang serba cepat, mereka menarik mundur referensi ke era alternative rock dan pop punk awal 90-an, namun diperkaya dengan nuansa scoring film yang megah.

Salah satu pendekatan paling unik dalam penggarapan album ini adalah metode penulisan liriknya. Jossie tidak sekadar menulis lagu. Mereka menulis skenario layaknya film dalam salah satu lagu andalannya.

Proses transformasi

"Lirik-liriknya kami setting seperti skenario film. Ada karakter Si A, ada Si B, lalu terjadi konflik ini dan itu. Musiknya kemudian dibentuk untuk membangun suasana layaknya soundtrack dari adegan film yang kami bayangkan," ungkap Momo menceritakan dapur rekaman mereka.

Proses transformasi ini tidak mudah. Angga Rahafta mengaku datang ke Momo dengan gelas kosong. "Saya bilang ke Mas Momo, vokal saya 'perlu dihajar'. Saya butuh produser yang bisa memberi warna baru," kata Angga.

Namun, "hajaran" terberat mungkin dirasakan di sektor drum. Erindra Mukti harus merelakan gaya bermainnya dibedah total oleh Momo. Satu lagu bisa memakan waktu rekaman seharian penuh hanya untuk mencari pukulan yang pas.

"Mas Momo justru meminta saya bermain lebih simpel. Bagian-bagian yang too much dibuang. Ternyata, hasilnya lagu jadi lebih bernafas dan enak didengar," kata Erindra.Di album ini, bass juga diisi langsung oleh Momo Biru untuk menjaga benang merah aransemen.

Identitas visual

Perubahan musikal ini disempurnakan dengan visual yang matang. Meninggalkan estetika punk yang urakan, Jossie memilih warna ungu dan bunga daisy marguerite sebagai identitas visual album. Digarap oleh tim kreatif Jeffry Alfian Dika, Deni Adit, dan Jandon Banyu, visual ini menggambarkan misteri dan gejolak amarah namun berbalut ketenangan.

Kini, delapan trek mulai dari intro A New Battle, lagu andalan Sometimes hingga Hujan Di Hari Minggu (Remastered) sudah siap didengarkan.

Di bawah bendera eksekutif produser Tapansari, Jossie membuktikan di usia 19 tahun mereka tidak menua melainkan terlahir kembali dengan cerita yang jauh lebih jujur.

Album We Don't Lie Like A Referee sudah tersedia di seluruh gerai musik digital mulai hari ini. (*)