Watugedug Dikenal sebagai Kampung Tape Singkong
Merebus singkongnya dua kali. Kalau hanya sekali hasilnya kurang bagus.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Memasuki Kampung Watugedug Kalurahan Guwosari Kapanewon Pajangan Kabupaten Bantul akan sangat mudah ditemui para pembuat tape berbahan singkong. Puluhan warga setempat mencari nafkah dari membuat dan menjual tape singkong.
Saat acara Dinamika Pembangunan gelaran Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bantul, Selasa (31/3/2026), warga terlihat beraktivitas mengolah singkong. Salah seorang yaitu Mbok Tukul (62) bersama suaminya Samsudin (64) yang sedang sibuk membuat tape.
“Di sini puluhan warga membuat tape singkong. Kami yang paling lama sejak tahun 1986,” kata Samsudin.
Membuat tape diawali usai Subuh dan selesai hingga peragian dan dikrukupi pada pukul 15:00. Prosesnya dimulai dengan mengupas singkong, mencacah dan mencucinya kemudian direbus.
Tape singkong produksi Watugedug Guwosari Pajangan Bantul rasanya enak. (sariyati wijaya/koranbernas.id)
Usai direbus dilakukan perendaman selama satu malam. Paginya singkong dicuci dan direbus kembali. Setelah itu singkong diangkat dan dinginkan, barulah diberi ragi untuk proses fermentasi.
Singkong beragi kemudian dikrupuki tiga lapis yakni lapisan pertama pakai daun pisang, kemudian plastis dan terakhir lapis kain agar suhu hangat dan terjaga. “Lalu biarkan semalaman, besoknya tape sudah jadi dan siap dikonsumsi atau dijual. Merebus singkongnya dua kali. Kalau hanya sekali hasilnya kurang bagus,” katanya.
Tape yang sudah jadi kemudian dijual ke Pasar Niten setiap pagi. “Suami saya di rumah yang mengupas singkong, jadi bagi-bagi tugas,” tambah Mbok Tukul.
Setiap kilonya dijual Rp 10 ribu. Biasanya tape selain langsung dikonsumsi juga diolah menjadi bahan membuat kue apem, es tape dan olahan lain.
Bahan baku
Setiap hari pasangan suami istri ini mengolah 70 hingga 80 kilogram singkong yang didatangkan dari Karanganyar dan Boyolali Jawa Tengah. Jika musim ruwahan dan Ramadan bahan baku yang dihabiskan bisa satu kuintal singkong.
“Karena ruwahan kan banyak orang ngapem. Nah kalau Ramadan itu banyak yang dibuat es. Dulu singkong banyak ditanam di sekitar sini, tapi sekarang jumlahnya tidak banyak jadi kami beli dari luar,” terang Mbok Tukul.
Dari ketekunan suami istri ini membuat tape bisa menjadi sumber penghidupan ataupun menyekolahkan dua anak mereka hingga menikah. “Alhamdulillah usaha tape singkong bisa mencukupi kebutuhan,” kata Mbok Tukul dengan senyum sumringah.
Rachmanto seorang warga mengakui tapi hasil produksi dari kampung itu rasanya manis dan enak. “Rasanya manis, segar, enak sekali,” katanya. (*)
Sariyati Wijaya
