UMKM Jadi Kekuatan Menghadapi Ekonomi Global

Tidak perlu panik karena kita memiliki Pancasila yang memuat nilai gotong royong.

UMKM Jadi Kekuatan Menghadapi Ekonomi Global
Anggota MPR RI dari DIY, RA Yashinta Sekarwangi Mega, saat Sosialisasi 4 Pilar di Timoho Yogyakarta. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Anggota MPR RI dari DIY, RA Yashinta Sekarwangi Mega, menyatakan pentingnya peran usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi kekuatan ekonomi rakyat dalam menghadapi ketidakpastian global. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang digelar di kawasan Timoho Gondokusuman Kota Yogyakarta.

Dalam kegiatan yang didominasi warga Gondokusuman tersebut, Yashinta menilai dinamika ekonomi dunia, termasuk potensi perang dagang antarnegara, dapat berdampak pada perekonomian nasional hingga daerah. Dampak yang paling terasa, menurutnya, biasanya berupa kenaikan harga kebutuhan pokok serta tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Dia mengingatkan masyarakat untuk tidak terjebak dalam kepanikan. Menurutnya, Indonesia memiliki fondasi kuat berupa nilai-nilai dalam Pancasila yang mendorong semangat gotong royong dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Perang terjadi di banyak tempat dan ketegangan ekonomi global bisa berimbas pada harga kebutuhan pokok. Masyarakat tidak perlu panik karena kita memiliki Pancasila yang di dalamnya memuat nilai gotong royong,” ujar Yashinta dalam keterangan tertulisnya, Minggu (15/3/2026).

Menjadi kekuatan

Dalam sosialisasi tersebut, Yashinta juga mengingatkan pentingnya memahami dan mengamalkan empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan.

Menurutnya, nilai gotong royong yang terkandung dalam Pancasila telah terbukti menjadi kekuatan Indonesia dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi. Yashinta mencontohkan peran UMKM yang mampu menjaga perputaran ekonomi masyarakat saat krisis moneter Krisis Finansial Asia 1998 maupun krisis global Krisis Finansial Global 2008.

“Pada krisis 1998 dan 2008, kita diselamatkan oleh UMKM yang tetap menjaga roda perekonomian. Transaksi sederhana antarwarga dan tetangga justru mampu menjaga ekonomi tetap bergerak,” jelasnya.

Hal serupa juga terlihat saat masa pandemi COVID-19, ketika kolaborasi berbagai pihak serta solidaritas masyarakat mampu membantu Indonesia melewati masa sulit.

Tidak khawatir

Menurut Yashinta, kondisi global yang penuh ketidakpastian saat ini seharusnya tidak membuat masyarakat khawatir berlebihan.

Sebaliknya, situasi tersebut justru menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial serta menghidupkan kembali semangat gotong royong di tingkat masyarakat.

“Ketidakpastian global ini pasti bisa kita hadapi bersama dengan gotong royong, seperti yang sudah kita buktikan di masa-masa krisis sebelumnya,” katanya. (*)