Tiga Tahun Purworejo Zero Kasus Malaria

Nyamuk tidak mengenal batas wilayah administrasi. Di sini disemprot, pindah Kulonprogo. Kulonprogo disemprot, pindah Purworejo.

Tiga Tahun Purworejo Zero Kasus Malaria
Tim asesor Komnas Malaria disuguhi Tarian Gedruk saat berkunjung ke Purworejo. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Tiga tahun terakhir Kabupaten Purworejo menempati posisi zero malaria. Ini mendorong Pemkab Purworejo menggelar Asesmen Eliminasi Malaria 2026 untuk mendapatkan sertifikat. Acara tersebut dibuka Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum, Budi Wibowo, di Ruang Arahiwang Setda, Rabu (15/4/2026).

Budi Wibowo mengatakan malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian, terutama pada kelompok risiko tinggi seperti bayi, balita dan ibu hamil. Selain itu, malaria juga menurunkan produktivitas kerja secara langsung.

“Purworejo merupakan satu-satunya kabupaten di Jawa-Bali yang belum mengantongi sertifikat eliminasi. Karena itu, diperlukan pola pengendalian komprehensif melalui upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif lintas program serta lintas sektor,” ujarnya.

Budi menambahkan, terdapat sebelas kecamatan dengan 146 desa reseptif malaria di Purworejo yang berpotensi terjadi kasus. Survei migrasi malaria oleh juru malaria desa dan peran aktif masyarakat menjadi kunci untuk mempertahankan kondisi nol kasus.

Bukit Menoreh

Dia juga berbagi pengalaman saat bertugas di Kaligesing wilayah Bukit Menoreh. Meski program sudah dijalankan, edukasi ke masyarakat belum optimal. “Contohnya kelambu. Kelambu harusnya dipakai saat tidur, tapi karena masih baru dan bagus, malah disimpan karena eman-eman,” katanya.

Terkait pengendalian vektor, Budi menyebutkan nyamuk tidak mengenal batas wilayah administrasi. “Kalau di sini disemprot, nyamuk pindah ke Kulonprogo. Kulonprogo disemprot, pindah ke Purworejo. Karena itu kami pernah berkoordinasi dengan Kulonprogo untuk penanganan bersama,” jelasnya.

Malaria yang menyerang banyak orang dan menjadi penyakit massal, masyarakat sering menyebutnya pagebluk. Untuk menghindari pagebluk biasanya dengan tradisi merti desa sebagai kearifan lokal. “Saat ada lonjakan kasus, masyarakat mengadakan merti desa agar dijauhkan dari marabahaya. Ini bagian dari upaya menuju eliminasi,” tambahnya.

Budi berharap asesmen ini lolos sehingga Purworejo mendapat sertifikat bebas malaria. Dia mengingatkan, setelah mendapat sertifikat, upaya pencegahan harus tetap berjalan. “Ini butuh dukungan anggaran. Pemberdayaan masyarakat, peran kader, dan edukasi juga harus ditingkatkan,” tegasnya.

Sangat berani

Tim Asesor Eliminasi Malaria, dr Ferdinand J Laihad MPHM, menyampaikan optimismenya. “Saya sangat bangga bisa di Purworejo. Daerah ini sangat berarti bagi kami, terutama di Jawa-Bali,” katanya.

Menurutnya, pada tahun 2000 kasus malaria di Jawa-Bali mencapai 200 ribu, dan 100 ribu kasus berada di Bukit Menoreh. “Separuh kasus Jawa-Bali ada di Bukit Menoreh. Kalau saat ini kita menilai keberhasilan, saya yakin Purworejo menuju eliminasi,” ujar Ferdinand.

Dia menjelaskan, eliminasi malaria berarti tidak ada penularan setempat. “Nyamuknya tetap ada, tapi tidak membawa parasit malaria. Karena itu, yang harus dicegah adalah masuknya orang yang membawa parasit dari luar,” terangnya.

Ferdinand menyatakan pentingnya skrining bagi pendatang dari daerah endemis malaria, termasuk wisatawan, pekerja migran, serta TNI/Polri yang bertugas di Papua. “Fasilitas kesehatan juga wajib menanyakan riwayat perjalanan pasien. Kalau dari daerah endemis, harus diperiksa,” katanya.

Kasus impor

Dia a mengingatkan, setelah mendapat sertifikat, daerah tetap harus waspada. “Banyak daerah dapat sertifikat, tapi 1-2 tahun kemudian terjadi KLB lagi karena ada kasus impor yang tidak terdeteksi,” ungkap Ferdinand.

Asisten 1 Setda bagian pemerintahan Jainudin menambahkan, Purworejo menjadi satu-satunya kabupaten di Jawa-Bali yang belum eliminasi. “Kami optimistis 2026 mendapat sertifikasi eliminasi malaria. Kalau Purworejo lulus, berarti tuntas untuk Jateng, Jawa dan Bali,” ujarnya.

Disebutkan, Jateng saat ini sudah 97 persen eliminasi. Peta jalan nasional menargetkan eliminasi malaria 2025-2030, sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045 yang bebas malaria.

“Asessment Provinsi Jateng menyatakan Purworejo layak. Semoga sidang kali ini bagus dan Menkes menandatangani sertifikat bebas malaria,” harap Jainudin.

Syarat terberat

Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, Sudarmi, menyatakan syarat terberat eliminasi adalah tidak ada kasus penularan setempat selama tiga tahun berturut-turut. “Alhamdulillah, Purworejo 2023-2026 sudah memenuhi syarat itu,” katanya.

Harapannya, ke depan tidak boleh ada penularan. Kasus impor masih ditoleransi, asal tidak menular. “Kami minta masyarakat aktif melapor jika ada pendatang, terutama dari daerah endemis malaria. Tamu yang menginap harus lapor 1x24 jam untuk kami screening,” pintanya.

Upaya yang dilakukan antara lain pengendalian vektor nyamuk, penguatan jejaring dengan RS dan STIKES, serta regulasi di tingkat desa. “Pemdes sudah dibimbing agar mengalokasikan anggaran pemeliharaan eliminasi malaria. Komitmen semua sektor, termasuk swasta, penting agar status bebas malaria bisa dipertahankan,” kata Sudarmi. (*)