Masjid dan Pesantren Diarahkan Memanfaatkan Energi Surya

Total kapasitas panel surya yang terpasang mencapai 23.525 WP, dengan dukungan lebih dari 21.000 donatur. 

Masjid dan Pesantren Diarahkan Memanfaatkan Energi Surya
Aldy Permana (MOSAIC) dan Muhibuddin (Kemenag) memberikan keterangan terkait kolaborasi inisiatif transisi energi. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, JAKARTA -- Di tengah upaya Indonesia mempercepat transisi energi, sebuah pendekatan tak biasa muncul dari ruang-ruang ibadah. Masjid dan pesantren, yang selama ini identik dengan pusat spiritual dan sosial, kini mulai diarahkan menjadi bagian dari solusi krisis iklim melalui pemanfaatan energi surya.

Gagasan ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi Wakaf dan Sedekah Energi yang digelar MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate Impact) di Jakarta. Pada forum tersebut pemerintah, organisasi masyarakat sipil, hingga lembaga filantropi Islam bertemu untuk merancang langkah konkret mendorong solarisasi masjid di berbagai daerah.

Di balik forum formal itu, tersimpan visi besar yaitu menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat edukasi dan aksi nyata dalam penggunaan energi bersih.

Direktur Program MOSAIC, Aldy Permana, melihat potensi tersebut sangat besar. Dengan lebih dari 800 ribu masjid di Indonesia, pemanfaatan atap bangunan untuk panel surya dinilai bisa menjadi gerakan kolektif yang berdampak luas. “Ketika fasilitas keagamaan mengadopsi energi surya, dampaknya melampaui penghematan biaya operasional,” terangnya melalui keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026).

Berbagai daerah

Pengalaman di lapangan menjadi bukti awal. Program Sedekah Energi yang diinisiasi MOSAIC telah menjangkau enam masjid di berbagai daerah, mulai dari Sembalun hingga Sijunjung. "Total kapasitas panel surya yang terpasang mencapai 23.525 WP, dengan dukungan lebih dari 21.000 donatur," lanjutnya.

Tak sekadar memasang panel, inisiatif ini juga menyasar perubahan cara pandang masyarakat terhadap energi. Masjid diposisikan sebagai ruang belajar bersama, artinya tempat jamaah bisa memahami pentingnya beralih dari energi fosil ke energi terbarukan.

Dari sisi kebijakan, langkah ini sejalan dengan ambisi pemerintah. Target Pembangunan 100 gigawatt PLTS yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto membuka peluang besar bagi pemanfaatan energi surya di sektor komunitas.

Namun tantangan masih besar. Koordinator Direktorat Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Erick Tadung, mengungkapkan potensi energi surya Indonesia mencapai 3.294 gigawatt, tetapi yang dimanfaatkan baru sebagian kecil. “Secara keseluruhan, EBT baru dimanfaatkan sekitar 0,4 persen. Khusus energi surya baru 1,49 gigawatt,” ujarnya.

Jadi prioritas

Kementerian Agama mulai memasukkan isu ini ke dalam pendekatan ekoteologi. Melalui Rencana Aksi 2026, konsep Eco Masjid dan Eco Pesantren menjadi salah satu prioritas, dengan target awal 50 masjid yang mengadopsi teknologi hijau.

Muhibuddin selaku Kasubdit Bina Kelembagaan dan Kerja Sama Zakat dan Wakaf, menyatakan pentingnya kolaborasi berbasis komunitas. Dia mendorong masjid menjadi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) agar pembiayaan bisa mandiri.

“Yang paling penting juga adalah aspek literasi. Kami punya 50.000 penyuluh agama yang bisa terlibat untuk memberikan pemahaman ke masyarakat,” ujarnya.

Pertemuan ini juga melahirkan kesepakatan awal untuk menentukan lokasi pilot project, terutama di kawasan yang masuk program Kota Wakaf dan pengembangan PLTS. Selain itu, dibangun pula platform kolaborasi lintas lembaga guna memperkuat ekosistem gerakan ini. (*)