Sutradara Angga Sasongko Siapkan Film “Ratu Malaka”
Koordinator aksi bukan sembarang orang. Man Ching telah bekerja bertahun-tahun dengan legenda aksi Jackie Chan, dari Hongkong, Tiongkok hingga Hollywood.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Setelah sempat “tertidur” lebih dari empat tahun, sutradara Angga Dwimas Sasongko akhirnya menghidupkan kembali proyek crime action thriller terbarunya yang berjudul Ratu Malaka. Proyek yang pertama kali diumumkan pada 2018 di Yogyakarta ini bakal menambah deret panjang film aksi yang digarap CEO Visinema ini.
“Walaupun lebih dari empat tahun filmnya mengendap, lalu secara spontan akhirnya film ini diaktifkan kembali,” ujar Angga di JAFF Market di JEC Yogyakarta, Minggu (30/11/2025).
Angga menyebutkan film ini bangkit kembali secara spontan. Penulisan naskah yang dia kerjakan bersama Irma Ramli disebut sangat menantang dan memerlukan banyak spontanitas.
Namun tonggak terbesar dalam kebangkitan Ratu Malaka justru terjadi secara tak terduga saat Angga sedang berada di Cannes Film Market tahun lalu. Seorang wartawan asing menanyakan proyek baru yang ingin dia umumkan.
Koreografi aksi
“Masalahnya saya nggak punya proyek apa-apa. Dalam situasi mendadak itu, kami menulis siaran pers di sebuah kafe dan akhirnya memutuskan proyek yang akan diumumkan adalah Ratu Malaka. Keesokan harinya, artikel itu muncul dan menjadi salah satu berita utama dari Cannes," jelasnya.
Setelah pengumuman mendadak tersebut, muncul masalah berikutnya, dia belum tahu siapa akan menyusun koreografi aksi dalam film tersebut. Apalagi Angga ingin gaya yang segar, sesuatu yang belum pernah digarap sebelumnya, meski dia telah bekerja mengarahkan adegan aksi di deretan film besar seperti Wiro Sableng, 13 Bom di Jakarta hingga Mencuri Raden Saleh.
Koordinator aksi tersebut bukan sembarang orang. Man Ching telah bekerja bertahun-tahun dengan legenda aksi Jackie Chan, dari Hong Kong, Tiongkok hingga Hollywood. “Orang yang sangat kreatif dan saya bangga sekali bisa memperkenalkannya,” jelasnya.
Memadukan silat
Dalam proyek ini, dia bekerja berpasangan dengan Reza Hilman, koreografer muda Indonesia untuk merancang gaya aksi yang memadukan silat Indonesia dengan gaya laga Hong Kong.
Kolaborasi lintas budaya ini diharapkan menjadi salah satu pilar utama Ratu Malaka. Setelah satu dekade perfilman Indonesia menghadirkan gelombang aksi ikonik melalui Iko Uwais, Yayan Ruhian, hingga The Raid, Angga ingin sesuatu yang berbeda.
"Saya ingin memadukan silat sebagai identitas lokal dengan estetika laga Hongkong yang dinamis dan teaterikal," ungkapnya.
Meski berjudul Ratu Malaka, Angga menegaskan film ini bukan film periodik. Dia membangun dunia fiksi kontemporer yang sepenuhnya baru, lengkap dengan budaya, aksara, agama hingga mitos yang diciptakan khusus untuk film ini.
Banyak karakter
Sementara Man Ching menyampaikan proses awal dimulai dengan asesmen fisik tiap pemain. Sebab latar belakang tiap pemain sangat berbeda satu dengan lainnya.“Kami menilai kemampuan masing-masing,” katanya.
Ratu Malaka yang rencananya bakal tayang 2027 memperkenalkan deretan pemain yang beragam beberapa dikenal lewat film drama, sebagian lain memiliki latar bela diri, dan beberapa adalah pendatang baru. Sebut saja Dion Wiyoko, Wulan Guritno, Jihane Almira, Ganindra Bimo, Lutesha dan Faris Fajar.
Dion mengaku sangat tertarik ikut terlibat di film ini. Sebab terakhir kali dia bermain film action 16 tahun lalu. Begitu mendengar karakter yang ditawarkan, dia langsung setuju. “Rasanya dapat challenge baru setiap hari,” ucapnya.
Sedangkan Faris yang dulu memerankan Wiro Sableng muda kini tumbuh menjadi aktor remaja dan kembali bekerja dengan Angga. Meski sempat kaget karena kini dia gondrong dan bukan “anak kecil” lagi, dia mendapat karakter penting. “Ini kesempatan buat saya untuk mendobrak diri saya,” ujarnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
