AI Mengubah Dunia Kerja, Mahasiswa Diminta Adaptif
Perkembangan teknologi justru membuka banyak ruang baru bagi anak muda untuk berkembang.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Perubahan dunia kerja yang bergerak semakin cepat menuntut generasi muda untuk tidak hanya mengandalkan ijazah akademik.
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), mahasiswa dituntut adaptif sehingga memiliki keterampilan yang relevan agar adaptif dengan perubahan sekaligus tetap kompetitif di masa depan.
Pesan itu disampaikan alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Andi Nusawarta. Menurutnya perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk pola kerja dan kebutuhan dunia industri yang terus bergerak dinamis.
Kondisi itu, kata dia, harus direspons mahasiswa dengan kesiapan sejak dini melalui proses reskilling atau peningkatan keterampilan baru. “Perkembangan teknologi digital sudah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk pola kerja dan kebutuhan dunia industri yang terus berkembang," ujarnya saat berbicara dalam Milad ke-45 UMY yang digelar di UMY Student Dormitory, Sabtu (16/5/2026).
Terus berubah
"Karena itu, generasi muda perlu membangun kesiapan sejak dini melalui proses reskilling atau peningkatan keterampilan baru. Kemampuan memahami teknologi juga perlu diimbangi dengan kemampuan membaca peluang dan memahami kebutuhan pasar yang terus berubah,” lanjutnya.
Baginya, tantangan era digital bukan sekadar soal penguasaan teknologi, tetapi juga kemampuan membaca arah perubahan. Mahasiswa harus mulai mempersiapkan diri sejak di bangku kuliah, bukan menunggu perubahan datang.
Dia menyatakan pentingnya membangun pola pikir mandiri dan kreatif. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak harus selalu terpaku pada pekerjaan formal, tetapi bisa mulai melihat peluang usaha dari keterampilan yang dimiliki.
Perkembangan teknologi, lanjutnya, justru membuka banyak ruang baru bagi anak muda untuk berkembang. Mulai dari membantu pelaku UMKM mengelola konten media sosial, menjadi reseller, hingga memanfaatkan sistem pre-order untuk membangun usaha dengan modal terbatas.
Dukungan teknologi
“Cari penghasilan jangan selalu menunggu kerja kantoran. Kalau modal masih terbatas, jual dulu skill yang dimiliki," kata dia.
Anak muda, lanjut Andi, punya banyak peluang untuk berkembang, apalagi dengan dukungan teknologi digital. “Yang penting jangan mudah ikut tren tanpa arah atau sekadar fomo, tetapi fokus membangun kemampuan dan pengalaman,” kata dia.
Selain keterampilan teknis, dr Andi menilai kemampuan membangun jejaring atau networking menjadi modal penting di tengah persaingan yang semakin terbuka. Relasi yang luas, menurutnya, dapat membuka berbagai peluang, baik dalam pengembangan karier, bisnis, maupun kolaborasi di masa depan.
Karena itu, dia mendorong mahasiswa untuk aktif terlibat dalam komunitas kreatif, seminar, maupun workshop yang tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membuka ruang pertemuan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Jangan pilih-pilih dalam bersilaturahmi dan jangan malu menyampaikan ide.
"Dunia tidak akan tahu kita punya kemampuan kalau kita hanya diam. Anak muda harus berani bicara, percaya diri dan terus belajar dari orang-orang yang memiliki pengalaman lebih tinggi,” ungkapnya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
