Kapten Deva Jadi Casanova Terbaru dalam Film “Penerbangan Terakhir”

Film yang bakal tayang 15 Januari 2026 ini lahir dari observasi dinamika hubungan era digital, termasuk pola manipulasi berbasis pencitraan.

Kapten Deva Jadi Casanova Terbaru dalam Film “Penerbangan Terakhir”
Peluncuran poster film Penerbangan Terakhir di JAFF Market di JEC, Yogyakarta, Minggu (30/11/2025). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Menyusul sosok Aris yang sempat ramai diperbincangkan sebagai pria red flag dalam series Ipar Adalah Maut, kini muncul lagi sosok baru. Tak sekadar mendua, pilot bernama Kapten Deva Angkasa bakal membuat heboh karena jadi casanova terbaru dengan banyak perempuan dalam hidupnya dalam film Penerbangan Terakhir.

Deva dalam film garapan Rumah Produksi VMS Studio ini digambarkan sebagai Casanova up in the air. Pria itu digambarkan dengan pesona, manipulasi dan paradoks yang memikat sekaligus berbahaya.

Namun karakter Deva berbeda dari stereotip pria playboy di film Indonesia. Menurut penulis skenario sekaligus novelis, Anastasia Anderson, Deva bukan sekadar pria hidung belang. Dia adalah manipulator meyakinkan yang hidup dalam keyakinan bahwa dirinya tidak pernah salah.

“Dia itu confident, nyaman sama kulitnya sendiri, dan punya innocence aneh yang bikin dia percaya bahwa semua tindakannya wajar,” ujar Anna dalam diskusi VMS Studio di JAFF Market di JEC Yogyakarta, Minggu (30/11/2025).

Tayang Januari

Menurutnya, Deva merupakan tipe cowok yang setiap perempuan bertemu menjadi berubah, baik cara bicara, cara memberi perhatian bahkan persona yang ditampilkan.

Film yang bakal tayang 15 Januari 2026 ini lahir dari observasi panjang terhadap dinamika hubungan era digital, termasuk pola manipulasi berbasis pencitraan.

Menurut Anna, karakter Deva dibangun sebagai kombinasi antara pesona palsu, sikap green flag palsu dan kecerdikan membaca kebutuhan emosional lawan bicara.

Dia berharap film ini membuka mata penonton, terutama perempuan muda, agar lebih peka terhadap tanda-tanda manipulasi.“Cowok gaya Deva itu mengubah persona setiap ketemu perempuan. Flexing itu konyol sebenarnya, tapi sering berhasil karena yang dikejar bukan logika, tapi fantasi,” katanya.

Perspektif menarik

Sementara Aghni Haque yang berperan sebagai salah seorang perempuan dalam lingkaran Deva, mengungkap perspektif menarik soal dinamika perempuan dan laki-laki seperti Deva. Dia menyebutkan, perempuan yang hanya ingin kehidupannya bisa jadi korban pria seperti Deva.

“Menurut aku, cewek bisa kena itu karena cowoknya punya karisma yang kuat. Cewek-cewek yang jatuh biasanya pengen cepat aja, pengen diakui, pengen dapat perhatian yang intens. Padahal nggak ada orang sempurna,” ujarnya.

Aghni menyatakan perempuan yang percaya diri cenderung lebih sulit dipermainkan. “Kalau mereka nyaman dengan diri sendiri, maka tidak gampang dibodohi. Kita nggak butuh cowok cuma buat ngerasa cukup," ujarnya.

Produser Penerbangan Terakhir, Tony Ramesh, mengungkapkan film tersebut sangat relevan dengan maraknya kasus romance scam yang melibatkan pencitraan digital.

Penipuan cinta

“Empat tahun terakhir, tren penipuan cinta semakin tinggi. Banyak orang tertipu bukan karena bodoh, tapi karena pelakunya merasa dirinya benar. Polanya hampir sama dengan sosok Deva dalam film,” ujarnya.

Penerbangan Terakhir, lanjutnya, bukan sekadar drama romantis penuh skandal. Film ini ingin memberikan edukasi, tetapi tetap menghibur. “Penonton dapat tontonan yang exciting, tapi juga reminder supaya jangan percaya sama pencitraan luar. Kalau ketemu orang yang terlalu sempurna di awal, hati-hati. Biasanya ada yang disembunyikan,” ungkapnya.

Sang sutradara, Benni Setiawan, mengungkapkan sifat playboy Deva tergambar dalam poster yang mereka luncurkan. Dalam poster tersebut, dipamerkan menampilkan siluet Deva dengan pantulan delapan pramugari pada kacamata hitamnya.

"Ini sebuah simbol bahwa film ini akan mengulik lebih dalam dunia pencitraan, tipu daya cinta dan permainan psikologis di balik layar industri penerbangan," ungkapnya. (*)