Sekolah Kesatuan Bangsa Menerapkan Deep Learning
Dulu sekolah menekankan hafalan dan nilai. Sekarang, siswa harus memahami relevansi materi.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Inovasi pendidikan di Indonesia terus berkembang. Setelah melewati berbagai fase, mulai dari CBSA hingga Kurikulum Merdeka, tantangan yang kini dihadapi sekolah adalah memastikan proses belajar tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi benar-benar bermakna bagi siswa.
Menjawab tantangan tersebut, Sekolah Kesatuan Bangsa (KBS) menggelar Seminar Nasional bertajuk Strategi dan Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Sekolah, Kamis (23/4/2026).
Kegiatan ini dihadiri pakar dari Tim Pengembang Pembelajaran Mendalam (TPPM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof Suwarsih Madya MA Ph D sebagai narasumber utama.
Ketua panitia seminar, Eko Andi Hartono S Pd M Pd menyebutkan kegiatan ini sebagai upaya evaluasi sekaligus penyegaran bagi para pendidik. Dia menilai masih banyak institusi yang sebatas menjalankan schooling (persekolahan), namun belum menghasilkan learning (pembelajaran) yang utuh.
Menyentuh kesadaran
“Murid datang, kurikulum berjalan, tetapi pemahaman dan makna belajar belum tentu terbentuk. Karena itu, kami mengangkat tema pembelajaran mendalam,” ujar Eko.
Prof Suwarsih Madya menjelaskan perubahan pendidikan harus menyentuh kesadaran siswa. Dia merumuskan tiga prinsip utama pendekatan deep learning yakni bermakna, berkesadaran dan menyenangkan.
“Dulu sekolah menekankan hafalan dan nilai. Sekarang, siswa harus memahami relevansi materi dalam kehidupan nyata. Jika belajar biologi atau fisika, mereka harus tahu manfaatnya,” jelasnya.
Prof Suwarsih menyatakan pentingnya pemanfaatan kearifan lokal sebagai media pembelajaran. Materi pelajaran, menurutnya, dapat dikaitkan dengan potensi daerah, seperti pertanian di Minggir Sleman atau karakter pesisir di Bantul.
Waktu panjang
Dia juga mengingatkan pentingnya sikap telaten bagi guru. Berdasarkan pengalamannya, perubahan budaya belajar membutuhkan waktu panjang. Contoh, salah satu sekolah terkemuka di Australia berproses selama delapan tahun.
“Guru harus berhenti membandingkan siswa. Perlu ada sharing power atau berbagi peran di kelas. Sentuh hatinya terlebih dahulu, karena pendekatan manusiawi lebih efektif daripada sekadar mengejar target kurikulum,” ujarnya.
Kepala SMA Kesatuan Bangsa, Husen Abdillah M Ed, mengatakan konsep pembelajaran mendalam telah diterapkan di sekolahnya, antara lain melalui integrasi kurikulum Cambridge serta program STEAM dan coding sejak dini.
Namun, dia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Cukup ketat
“Digitalisasi bisa menjadi distraksi atau justru pelengkap. Kami cukup ketat. Guru memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, sementara siswa menggunakan sistem seperti exambrowser untuk menjaga integritas pembelajaran,” kata Husein.
Dia menambahkan, konsep deep learning juga diterapkan melalui social project dan science project di luar kelas agar siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan secara langsung.
Seminar yang digelar secara gratis ini merupakan bagian dari imbas status Sekolah Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) berakreditasi A. Kegiatan tersebut mendapat antusiasme tinggi dari para pendidik.
Sebanyak 103 peserta mengikuti kegiatan secara luring, sementara lebih dari 50 peserta lainnya bergabung secara daring melalui Zoom. Peserta berasal dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Bangka Belitung hingga Bali.
Berbagai jenjang
Kegiatan ini juga didukung oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY serta Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Bantul yang mendelegasikan guru dari berbagai jenjang pendidikan.
“Niat kami, program ini bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Ke depan, kami berencana mengembangkan kegiatan ini menjadi konferensi internasional agar terjadi pertukaran pengetahuan yang lebih luas,” kata Husein. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
