Saat Batu Merapi Jadi Kanvas: Watu Kuro, Angkringan Seni Besutan Alumnus Filsafat UGM

Watu Kuro dengan cepat menjelma menjadi sebuah laboratorium kultural, menjadi titik temu favorit bagi para alumnus UGM, terutama mantan aktivis. Di warung nan syahdu ini, mereka berdiskusi bebas, membaca puisi, atau sekadar bertukar pikiran di tengah suasana yang inspiratif.

Saat Batu Merapi Jadi Kanvas: Watu Kuro, Angkringan Seni Besutan Alumnus Filsafat UGM
Warung angkringan Watu Kuro di Ngaglik Sleman. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN--Di Dusun Ngetiran, Ngaglik, sebuah angkringan baru telah lahir. Namun ia lebih menyerupai sebuah galeri seni di alam terbuka. Bernama Angkringan Watu Kuro, tempat ini adalah manifestasi dari sebuah gagasan filosofis: menjawab tantangan alam dengan sentuhan seni.

Berdiri di atas lahan yang dipenuhi batu-batu sisa endapan Merapi, sang pendiri, Sriyadi Srintil, seorang pelukis dan alumnus Filsafat UGM, memilih untuk tidak menyingkirkannya.

Sebaliknya, ia menjadikan bebatuan vulkanik itu sebagai kanvas abadi. Goresan cat membentuk kura-kura (kuro) dan simbol-simbol kehidupan, mengubah lanskap yang keras menjadi sebuah instalasi seni yang menyatu dengan lingkungan.

“Daripada membuang batu dengan biaya besar, kami menjadikannya sebuah karya seni,” tutur Sriyadi.

Filosofi ini terasa di setiap sudut. Watu Kuro dengan cepat menjelma menjadi sebuah laboratorium kultural, menjadi titik temu favorit bagi para alumnus UGM, terutama mantan aktivis. Di warung nan syahdu ini, mereka berdiskusi bebas, membaca puisi, atau sekadar bertukar pikiran di tengah suasana yang inspiratif.

Menu Membumi

Soal menu, jangan berharap mewah dilihat dan dirasa. Meskipun mereka yang sering mampir ke warung ini bukanlah rakyat jelata, sajian menu yang ada tidak membuat mereka dihinggapi bosan.

Para pentholan aktivis pada zamannya, seringkali berkumpul di Angkringan Watu Kuro. (istimewa)

Mereka mengistilahkan menu yang tersaji terasa jujur dan membumi. Sajian seperti nasi kucing, sayur lodeh, dan oseng mercon disajikan tanpa polesan berlebih, mengandalkan ketulusan rasa “masakan ibu”. Minuman andalannya, Wedhang Watu Kuro, adalah racikan rempah yang menghangatkan dan menenangkan.

Angkringan Watu Kuro membuktikan bahwa sebuah ruang usaha bisa menjadi lebih dari sekadar tempat transaksi. Ia bisa menjadi ruang narasi, tempat di mana seni, alam, dan gagasan bertemu dalam secangkir kopi dan sebungkus nasi kucing.

Dalam satu kesmepatan yang agak longgar, Sriyadi mengungkapkan, warungnya ini mulai beroperasi 2 Juli 2025, berdiri di atas lahan seluas 700 meter persegi. Di sana berdiri sebuah bangunan utama berukuran 6x12 meter yang berpijak di atas tanah penuh batu sisa endapan Merapi.

Yang menarik, memasuki area angkringan, pengunjung langsung disambut harmoni alam yang mulai langka di kota. Suara angkup nangka berpadu dengan kicau burung liar seperti bubut, trotokan, kutilang, cendhet hingga suara yang lebih menenangkan batin yakni perkutut. 

“Paling pas kalau ke sini sore. Suasana lebih syahdu untuk menikmati racikan khas Wedhang Watu Kuro, minuman herbal dari jeruk, kapulaga, sereh, jahe, kunyit, cengkeh, hingga asem. Bukan hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga membawa ketenangan batin,” ujar Yuliantoro, yang juga satu dari sederetan mantan aktivitas yang kerap nongkrong di warung ini.

Saat malam menjemput, suasana menjadi lebih magis. Tanpa polusi cahaya, bulan dan bintang menghias langit hitam. Tidak ada deru kendaraan atau lampu kota yang menyilaukan—hanya percakapan ringan, aroma kayu, dan detak alam yang mengantar nostalgia. Seolah waktu berhenti, memberi ruang bagi kenangan untuk kembali. Bagi sebagian orang, Watu Kuro adalah mesin waktu. Bagi lainnya, ia rumah kedua yang penuh keakraban.

Tak heran jika banyak alumni UGM—terutama para mantan aktivis gelanggang mahasiswa—menjadikan tempat ini sebagai titik temu. Mereka datang bukan hanya untuk menyeruput kopi, tapi juga untuk berbagi kisah, melepas rindu, bahkan merancang ide-ide baru. (*)